Tetimpug Sarana Permohonan Upasaksi dari Tri Agni
- 17 Apr 2026 18:49 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Dalam tradisi Hindu, khususnya di Bali, Tetimpug memiliki makna filosofis dan fungsi praktis yang sangat penting dalam pelaksanaan upacara Yadnya.
Secara fisik, Tetimpug adalah perlengkapan upacara yang terbuat dari potongan bambu (biasanya bambu gading atau bambu hijau) berjumpah 3 atau 5 batang dan ruasnya masih utuh.
Menurut Jro Mangku Gede Dana asal Desa Tajun, Buleleng, Bali, secara filosofis Tetimpug adalah sarana pengundang Bhuta Kala agar hadir untuk menerima persembahan (labaan).
"Tetimpug sebagai pengundang Bhuta Kala untuk diberikan upah-upahan agar somia atau tenang dan tidak mengganggu jalannya upacara. Tetapi yang terpenting tetimpug merupakan sarana penyucian atau permohonan upasaksi kehadapan aa Tri Agni yaitu: Begawan Brahma (Api penciptaan), Begawan Wisnu (Begawan Hari), Begawan Siwa (Begawan Isa), " ujar Jro Mangku Gede Dana.
| Baca juga: Bubur Pirata dalam Upacara Pitra Yadnya |
Bambu dibakar hingga menghasilkan suara letusan yang keras. Suara letusan ini sebagai simbol membangunkan atau menarik perhatian kekuatan negatif agar mereka mau disucikan atau dinetralisir (somia) menjadi kekuatan positif yang menjaga manusia.
Letusan Tetimpug dianggap sebagai bentuk persembahan melalui unsur suara (Sabda). Tetimpug diletuskan saat upacara Mecaru dimulai sebagai pengukuhan secara niskala.
Tetimpug mewakili unsur-unsur alam. Bambu melambangkan unsur Akasa (ruang) dan Pratiwi (tanah), sedangkan api yang membakarnya melambangkan unsur Teja (panas/cahaya).
Tetimpug adalah sarana komunikasi spiritual untuk mengubah sifat-sifat liar (bhuta) menjadi sifat-sifat yang mendukung kehidupan (dewa).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....