Kopi Buleleng Bangkit, Siap Bersaing di Pasar Nasional
- 11 Apr 2026 07:51 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Potensi kopi di Kabupaten Buleleng dinilai sangat besar dan memiliki peluang kuat untuk bersaing di pasar nasional maupun internasional. Hal tersebut disampaikan Owner Kopi DeKakiang, Ida Bagus Made Mahadi Kemenuh, yang menilai Buleleng sebagai salah satu daerah penghasil kopi unggulan di Bali. Selain memiliki luasan kebun yang cukup signifikan, kualitas kopi Buleleng juga dinilai mampu bersaing dengan daerah lain.
Ia menjelaskan bahwa secara umum, komposisi kopi di Buleleng didominasi oleh jenis robusta. “Kurang lebih sekitar 80 persen kopi di Buleleng adalah robusta, namun arabikanya juga memiliki kualitas yang khas dan karakter yang kuat,” ujarnya pada Sabtu, 11 April 2026. Menurutnya, kopi arabika Buleleng bahkan memiliki potensi sebagai specialty coffee dengan cita rasa yang unik.
Mahadi menegaskan bahwa kualitas kopi Buleleng seharusnya mampu bersaing di pasar yang lebih luas. “Kalau berbicara kualitas, kopi Buleleng seharusnya sangat bisa bersaing. Kita punya potensi yang luar biasa baik dari sisi robusta maupun arabika,” jelasnya. Ia menilai bahwa penguatan branding dan pasar menjadi kunci penting dalam mendorong daya saing tersebut.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya membangun pasar dari sisi hilir terlebih dahulu. Menurutnya, strategi ini akan mendorong peningkatan permintaan yang pada akhirnya berdampak pada sektor hulu. “Kita bentuk dulu pasarnya di hilir, ketika pasar sudah terbentuk maka kebutuhan akan meningkat dan otomatis sektor hulu akan ikut berkembang,” katanya.
Pertumbuhan kedai kopi di wilayah Singaraja disebut menjadi indikator positif perkembangan industri kopi lokal. Mahadi menyebutkan bahwa jumlah warung kopi dan coffee shop terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Ia berharap seluruh pelaku usaha tersebut dapat memanfaatkan kopi lokal Buleleng sebagai bahan utama.
“Sekarang di Singaraja sudah banyak sekali kedai kopi, ini peluang besar. Harusnya mereka bisa menggunakan kopi lokal Buleleng karena kualitasnya sangat bagus,” ungkapnya. Ia menilai, penggunaan produk lokal juga akan memberikan dampak ekonomi langsung bagi petani kopi di daerah.
Selain itu, perubahan pola konsumsi masyarakat juga turut mendorong perkembangan kopi sebagai bagian dari gaya hidup. Jika sebelumnya kopi identik dengan kalangan orang tua, kini minuman ini telah menjadi bagian dari ruang pergaulan generasi muda. “Sekarang anak-anak muda bahkan pelajar sudah mulai menikmati kopi, artinya kopi sudah menjadi bagian dari lifestyle,” katanya.
Ia menambahkan bahwa fungsi kedai kopi saat ini juga telah berkembang menjadi ruang sosial atau “ruang ketiga”. Tempat ngopi tidak hanya sekadar untuk menikmati minuman, tetapi juga menjadi tempat berkumpul, berdiskusi, hingga bekerja. Fenomena ini dinilai semakin memperkuat posisi kopi sebagai komoditas penting.
Tidak hanya dari sisi konsumsi, kopi juga memiliki nilai tambah dari berbagai produk turunan. Mahadi menjelaskan bahwa biji kopi dapat diolah menjadi berbagai jenis minuman dan makanan dengan cita rasa khas. Bahkan limbah ampas kopi pun dapat dimanfaatkan menjadi produk kreatif yang bernilai ekonomis.
“Ampas kopi bisa diolah menjadi pupuk kompos yang ramah lingkungan, ini sejalan dengan konsep go green. Kalau kita kreatif, kopi ini bisa dimanfaatkan dari hulu sampai hilir,” pungkasnya. Ia optimistis, dengan pengelolaan yang tepat, kopi Buleleng akan semakin berkembang dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....