Suka Duka Anak Rantau di Bumi Panji Sakti, “Camping” di Kantor saat Nyepi
- 19 Mar 2026 11:48 WIB
- Singaraja
Poin Utama
- Suka Duka
- Anak Rantau
- Bumi Panji Sakti
- Camping
- Nyepi
RRI.CO.ID, Singaraja – Di saat Pulau Bali bersiap menyambut Hari Raya Nyepi dengan suasana hening dan penuh makna, ada cerita berbeda dari para anak rantau di Bumi Panji Sakti, Buleleng. Jauh dari keluarga dan kampung halaman, mereka justru menemukan cara unik menjalani Nyepi dengan “camping” di kantor.
Sehari sebelum Nyepi, suasana kantor di Jalan Gajah Mada 144 Singaraja yang biasanya dipenuhi aktivitas kerja berubah menjadi ruang kebersamaan. Tikar digelar, makanan sederhana disiapkan, dan sudut-sudut ruangan disulap menjadi tempat beristirahat. Tak ada gemerlap, tak ada keramaian, hanya canda ringan yang menghangatkan suasana di tengah keterbatasan.
Bagi para perantau, momen ini terasa semakin emosional karena Nyepi tahun ini berdekatan dengan Idulfitri. Kerinduan untuk pulang kampung pun semakin kuat, namun tidak semua memiliki kesempatan untuk mudik.
Salah satu anak rantau asal Gresik, Jawa Timur, Salsabil Tsabita (25) mengungkapkan perasaannya. Karena alasan "tugas negara" Ia tidak bisa mudik lebaran tahun ini.
"Jujur sedih karena tidak bisa pulang, apalagi Nyepi kali ini dekat dengan Lebaran. Biasanya sudah kumpul keluarga, tapi sekarang harus di sini. Tapi ya disyukuri saja, masih bisa bareng teman-teman,” ucapnya kepada RRI, Rabu 18 Maret 2026 malam.
Hal serupa juga dirasakan rekan lainnya, Regia Afghani. Pemuda 26 tahun asal Subang Jawa Barat ini mengaku ramadan dan lebaran tahun ini adalah kali pertama ia lalui tanpa keluarga.
“Ini pertama kali saya merasakan bulan puasa, lebaran dan sekaligus nyepi jauh dari keluarga. Rasanya campur aduk, ada sepi, ada rindu. Tapi suasana di kantor jadi sedikit mengobati, karena kita saling menguatkan sesama perantau,” ujarnya sambil tertawa pelan.
Meski sederhana, kebersamaan ini justru menghadirkan kehangatan tersendiri. Dalam sunyi Nyepi, mereka berbagi cerita, bercanda, hingga merenung bersama, menjadikan momen ini sebagai ruang refleksi diri.
“Awalnya terpikir bakal sepi banget, tapi ternyata tidak. Justru lebih terasa kebersamaannya. Kita jadi punya cerita yang mungkin tidak akan terlupakan,” kata Aditya Wirananto (33), salah satu pegawai lainnya asal Semarang, Jawa Tengah.
Malam Nyepi pun terasa lebih panjang, namun bukan berarti kosong. Di balik dinding kantor, ada kehangatan yang tercipta dari kebersamaan. Anak-anak rantau ini menjadikan momen sakral tersebut sebagai pengingat bahwa rumah tidak selalu tentang tempat, tetapi tentang rasa yang dibangun bersama.
Dari Singaraja Buleleng Bali, kisah sederhana ini menjadi gambaran bahwa di tengah keterbatasan, selalu ada cara untuk menemukan makna. Karena pada akhirnya, Nyepi bukan hanya tentang sunyi di luar, tetapi juga tentang kedamaian yang tumbuh di dalam diri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....