Pesona Payas Deeng Buleleng yang Sarat Makna dan Sejarah

  • 26 Jul 2026 20:53 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Bagi masyarakat Bali, istilah payas merujuk pada tata rias atau busana adat. Sementara itu, Payas Deeng dapat diartikan sebagai tata rias agung khusus yang dipergunakan dalam momen atau prosesi tertentu. Aktivitas saat mengenakan dan berjalan memperagakan busana ini di jalanan umum biasa disebut dengan istilah madeeng.

Tokoh pendidikan dan budaya dari lingkungan Puri Kanginan Singaraja, Ni Putu Karnadhi dalam dokumentasi program Obrolan Budaya dengan judul Payas Deeng Buleleng menceritakan bahwa keberadaan Payas Deeng Buleleng bermula dari peristiwa bersejarah pada tahun 1917 di Puri Kanginan, Buleleng.

Saat itu diselenggarakan upacara Pelebon (upacara pembakaran jenazah yang dikhususkan bagi kalangan bangsawan, raja, atau pendeta) untuk mengantarkan mantan Raja Buleleng, I Gusti Putu Geria. Raja Buleleng IX dari Puri Kanginan ini juga dikenal sebagai penulis karya sastra dan figur penting dalam sejarah budaya Bali.

"Payas Deeng itu adalah Payas khas Buleleng, daerah lain tidak memiliki dan penggunaannya khusus pada acara-acara tertentu. Ini diawali tahun 1917 di Puri Kanginan saat ada plebon besar almarhum mantan raja I Gusti Putu Geria," ucap Putu Karnadhi.

Dalam prosesi penghormatan terakhir (pemuspaan) tersebut, setiap kerabat keluarga besar diwajibkan menghaturkan sepasang remaja/pemuda-pemudi (lanang istri) yang mengenakan Payas Deeng untuk mewakili keluarga menghaturkan doa dan bakti terakhir kepada almarhum.

Kriteria peserta madeeng atau penyembah ini umumnya dimulai dari anak-anak yang sudah tanggal gigi (lepas gigi susunya) hingga remaja dan dewasa.

Payas Deeng Buleleng memiliki ornamen khas yang membedakannya dari busana adat agung daerah Bali Selatan. Salah satu ciri yang paling mencolok berada pada mahkota hiasan kepala Wanita. Pada rangkaian bunga (empak-empak) mahkota wanita, terdapat hiasan putih berbentuk bulat memanjang silindris seperti rokok. Yang laki-laki menggunakan kain Panjang (kancut ) hingga menyentuh tanah.

Roko-roko menjulang di atas kepala wanita sebagai symbol Akasa (angkasa/langit), sedangkan busana pria (kancut) melambangkan Pertiwi (bumi). Kehadiran sepasang Deeng lanang-istri (pria-wanita) ini secara simbolis menyatukan elemen Akasa dan Pertiwi guna mengantarkan roh sang leluhur menuju tempat terbaik di sisi Tuhan.

Melalui pemahaman tentang sejarah dan keunikannya, Payas Deeng Buleleng bukan sekadar tata rias peragaan busana, melainkan wujud rasa bakti, penghormatan tinggi, serta kekayaan identitas budaya Buleleng yang patut terus dilestarikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....