Konflik Timur Tengah Picu Pembatalan Wisatawan Eropa ke Buleleng
- 10 Mar 2026 11:57 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Ketua Badan Pengurus Cabang Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPC PHRI) Kabupaten Buleleng. Dewa Ketut Suardipa menyatakan konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah mulai memberikan dampak terhadap sektor pariwisata di Bali, khususnya di Kabupaten Buleleng. Dampak tersebut salah satunya terlihat dari adanya pembatalan kunjungan wisatawan mancanegara, terutama dari kawasan Eropa.
Menurut Dewa Suardipa, sejumlah pelaku usaha pariwisata mulai menerima informasi pembatalan dari tamu-tamu yang sebelumnya telah merencanakan perjalanan ke Bali.
“Jelas dampaknya luar biasa. Sudah ada beberapa pembatalan atau cancelation dari tamu-tamu asal Eropa yang sebelumnya berencana datang ke Bali,” ujarnya kepada RRI, Selasa 10 Maret 2026.
Ia menilai pemerintah pusat perlu segera mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas sektor pariwisata di tengah situasi global yang tidak menentu. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mendorong peningkatan kunjungan wisatawan domestik maupun wisatawan dari kawasan Asia.
“Pemerintah pusat seharusnya sekarang bertindak bagaimana wisatawan nusantara atau domestik dan Asia bisa bergeliat untuk mengganti wisatawan dari Eropa,” kata Dewa Dipa.
Ia juga mengusulkan sejumlah langkah konkret yang dapat dilakukan pemerintah, seperti memberikan kemudahan perjalanan wisata melalui diskon tiket pesawat, percepatan perbaikan infrastruktur, serta memastikan keamanan dan kenyamanan perjalanan wisatawan.
“Langkah-langkah kemudahan seperti diskon pesawat, perbaikan infrastruktur untuk mempercepat akses, serta jaminan keamanan dan kenyamanan perjalanan wisatawan sangat diperlukan saat ini,” ucapnya menambahkan.
Dewa Suardipa menegaskan bahwa pihaknya bersama pelaku industri pariwisata di Buleleng siap mendukung upaya tersebut. PHRI Buleleng bahkan siap memberikan berbagai promo untuk menarik minat wisatawan.
“Kami dari PHRI siap memberikan diskon serta kemudahan untuk wisatawan agar sektor pariwisata tetap bergerak,” katanya.
Namun di sisi lain, para pelaku usaha juga dihadapkan pada kekhawatiran meningkatnya harga kebutuhan pokok akibat situasi global. Kondisi ini membuat sektor pariwisata menghadapi tekanan dari dua sisi, yakni potensi penurunan kunjungan wisatawan dan kemungkinan naiknya biaya operasional.
“Disamping kekhawatiran harga-harga kebutuhan pasti naik, satu sisi kami kehilangan wisatawan,” ujarnya mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....