Donor Darah Rutin Tetap Perlu Perhatikan Jeda Waktu

  • 14 Jun 2026 20:47 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Donor darah merupakan salah satu aksi kemanusiaan yang memiliki peran penting dalam membantu menyelamatkan nyawa. Darah yang didonorkan dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan medis, mulai dari pasien yang menjalani operasi, korban kecelakaan, hingga penderita penyakit tertentu yang membutuhkan transfusi darah secara berkala. Meski memberikan banyak manfaat, donor darah tidak dapat dilakukan terlalu sering karena tubuh memerlukan waktu untuk memulihkan diri.

Setelah mendonorkan darah, tubuh akan bekerja untuk menggantikan sel darah merah dan cadangan zat besi yang berkurang. Oleh karena itu, terdapat aturan mengenai jarak waktu donor darah yang perlu dipatuhi agar kesehatan pendonor tetap terjaga. Jeda waktu ini juga membantu memastikan kualitas darah yang didonorkan tetap baik dan aman bagi penerima.

Secara umum, pria dapat kembali mendonorkan darah setelah melewati masa tunggu minimal dua bulan atau sekitar 60 hari sejak donor terakhir. Rentang waktu tersebut dianggap cukup untuk membantu proses regenerasi sel darah merah dalam tubuh. Jika kondisi kesehatan tetap baik dan seluruh persyaratan medis terpenuhi, pria dapat melakukan donor darah secara rutin sesuai ketentuan yang berlaku.

Sementara itu, wanita umumnya dianjurkan memiliki jeda donor yang lebih panjang, yaitu sekitar tiga hingga empat bulan. Hal ini berkaitan dengan kondisi biologis seperti siklus menstruasi yang dapat memengaruhi kadar hemoglobin dan cadangan zat besi. Karena itu, pemeriksaan kesehatan sebelum donor menjadi tahapan penting untuk memastikan tubuh benar-benar siap menjalani proses donor darah.

Alasan utama adanya jeda donor darah adalah karena tubuh membutuhkan waktu untuk membentuk sel darah merah baru. Sel darah merah memiliki masa hidup sekitar 100 hingga 120 hari. Setelah donor dilakukan, tubuh akan memproduksi sel-sel baru untuk menggantikan darah yang hilang sekaligus memulihkan cadangan zat besi yang digunakan dalam proses pembentukan darah.

Selain memperhatikan jarak waktu donor, pendonor juga perlu mengetahui bahwa terdapat batas maksimal frekuensi donor darah. Secara umum, seseorang dianjurkan tidak mendonorkan darah secara berlebihan agar kondisi kesehatannya tetap terjaga. Oleh karena itu, setiap proses donor selalu diawali dengan pemeriksaan kesehatan yang meliputi tekanan darah, berat badan, suhu tubuh, hingga kadar hemoglobin.

Dengan mematuhi jeda donor darah yang dianjurkan dan menjaga kondisi tubuh tetap sehat, kegiatan donor darah dapat dilakukan secara aman dan berkelanjutan. Selain bermanfaat bagi pendonor, setiap kantong darah yang disumbangkan juga berpotensi membantu menyelamatkan kehidupan orang lain yang membutuhkan transfusi darah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....