Program Desa Binaan Undiksha Hadirkan Kolaborasi Nasional dan Internasional
- 27 Agt 2026 14:42 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja — Program Desa Binaan (PDB) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) kembali menunjukkan dampak nyata dalam pengembangan masyarakat dan desa wisata melalui kegiatan kolaborasi lintas perguruan tinggi di Desa Wisata Panji, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.
Kegiatan berlangsung selama tiga hari, 18–20 Agustus 2026, dengan konsep 2 malam 3 hari, menghadirkan sekitar 215 mahasiswa dan dosen dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Kehadiran rombongan tersebut menjadi salah satu bentuk nyata keberhasilan pendampingan Undiksha dalam mendorong Desa Panji tidak hanya berkembang sebagai desa wisata, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran, interaksi budaya, dan kolaborasi antarlembaga pendidikan.
Program ini merupakan bagian dari pengembangan Desa Wisata Panji yang telah mendapatkan pendampingan Undiksha secara intensif. Dalam kurun waktu sekitar dua bulan, berbagai paket wisata berbasis potensi lokal mulai dikembangkan dan diperkenalkan kepada wisatawan. Hasilnya, tercatat sekitar 798 wisatawan lokal, nusantara, dan mancanegara telah berkunjung ke Desa Panji dan mengikuti berbagai aktivitas wisata yang dikembangkan bersama masyarakat.
Kehadiran wisatawan tersebut menunjukkan bahwa pendampingan perguruan tinggi dapat memberikan dampak langsung terhadap penguatan aktivitas pariwisata di masyarakat. Potensi desa yang sebelumnya lebih banyak menjadi aset lokal mulai dikemas menjadi pengalaman wisata yang memiliki nilai edukasi, budaya, lingkungan, dan ekonomi.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Dr. Nyoman Dini Andiani, SST.Par., M.Par., dosen Undiksha sekaligus pendamping Desa Wisata Panji, turut menjadi narasumber dalam sesi pemaparan mengenai pengembangan desa wisata berbasis masyarakat.
Dalam pemaparannya, Dini menjelaskan bahwa pengembangan desa wisata tidak semata-mata bertujuan mendatangkan wisatawan. Lebih jauh, desa harus mampu menjadi aktor utama yang menentukan arah pengembangan pariwisatanya sendiri dengan tetap menjaga identitas, budaya, lingkungan, dan kehidupan sosial masyarakat.

“Desa wisata bukan hanya tentang menjual destinasi, tetapi bagaimana masyarakat menjadi bagian utama dari prosesnya. Wisatawan datang untuk belajar, berinteraksi, dan mendapatkan pengalaman, sementara masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi sekaligus memiliki ruang untuk menjaga budaya dan lingkungan mereka,” katanya menjelaskan.
Menariknya, kegiatan ini juga menjadi ruang dialog lintas budaya. Kehadiran peserta dari Hungaria, Korea, Ekuador, Taiwan, dan Jerman memberikan kesempatan bagi masyarakat dan peserta untuk berdiskusi mengenai pentingnya menjaga budaya lokal di tengah perkembangan pariwisata.
Dialog tersebut menjadi semakin bermakna karena memperlihatkan adanya kesamaan perhatian terhadap keberlanjutan budaya. Budaya Indonesia yang hidup di tengah masyarakat dipandang sebagai kekuatan yang harus terus dijaga agar perkembangan pariwisata tidak menghilangkan identitas lokal.
Sementara itu, Ketua Program Studi dari Universitas Negeri Yogyakarta, Ebtana Sella Mayang Fitri mengungkapkan kekagumannya terhadap program yang dikembangkan di Desa Wisata Panji. Menurutnya, pengalaman yang diperoleh mahasiswa bukan hanya pembelajaran akademik, tetapi juga pengalaman langsung mengenai bagaimana masyarakat, perguruan tinggi, dan pariwisata dapat berkolaborasi.
“Program seperti ini memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi mahasiswa karena mereka dapat melihat secara langsung bagaimana sebuah desa mengembangkan potensi yang dimilikinya bersama masyarakat,” ucapnya.
Bagi masyarakat Desa Panji, kehadiran program tersebut juga memberikan kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri. Masyarakat merasa mendapatkan ruang untuk menunjukkan potensi desa sekaligus berinteraksi dengan mahasiswa dan dosen dari berbagai daerah dan negara.

Kegiatan selama tiga hari dua malam tersebut diisi dengan berbagai aktivitas berbasis potensi lokal Desa Panji, termasuk pengalaman budaya, lingkungan, interaksi masyarakat, serta aktivitas paket wisata yang telah dikembangkan melalui pendampingan Undiksha.
Lebih dari sekadar kunjungan, kegiatan ini menjadi bukti bahwa Program Desa Binaan Undiksha mampu menciptakan ekosistem kolaborasi yang mempertemukan perguruan tinggi, masyarakat, wisatawan, pemerintah, serta mitra internasional dalam satu ruang pembelajaran bersama.
Keberhasilan Desa Wisata Panji dalam menarik sekitar 798 wisatawan dalam waktu relatif singkat juga memperlihatkan bahwa pendampingan perguruan tinggi dapat menjadi katalisator bagi pengembangan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.
Melalui Program Desa Binaan, Undiksha berkomitmen untuk terus mendorong model pengembangan desa yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan jumlah wisatawan, tetapi juga pada penguatan kapasitas masyarakat, pelestarian budaya, keberlanjutan lingkungan, peningkatan ekonomi lokal, serta terciptanya pengalaman belajar yang bermakna bagi mahasiswa
Desa Panji pada akhirnya tidak hanya menjadi desa yang dikunjungi, tetapi juga menjadi living laboratory tempat mahasiswa, akademisi, masyarakat, dan mitra internasional belajar bersama tentang masa depan pariwisata yang lebih berkelanjutan dan berorientasi pada masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....