Undiksha Dorong Orang Tua Pahami Gen Z dan Gen Alpha di Era Digital

  • 21 Agt 2026 14:03 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) mendorong orang tua memperkuat kemampuan pengasuhan di tengah perubahan karakter generasi dan derasnya perkembangan teknologi digital.

Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan edukasi yang menyasar siswa dan orang tua, bertajuk "Smart Parenting Resilience Camp" di Aula Sekolah Laboratorium Undiksha Singaraja, Jumat 21 Agustus 2026. Kegiatan yang menjadi bagian dari program Pusat Studi Pengasuhan dan Resiliensi Undiksha ini diikuti kurang lebih 300 siswa.

Pada hari pertama, kegiatan turut dihadiri orang tua siswa yang mendapatkan pembekalan mengenai pola pengasuhan, komunikasi dengan anak, serta tantangan mendampingi generasi yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi.

Ketua Pusat Studi Pengasuhan dan Resiliensi Undiksha, Nice Maylani Asril, S.Psi., M.Psi., Ph.D., mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menghilirkan hasil penelitian dan teknologi yang dikembangkan Undiksha agar dapat dimanfaatkan masyarakat.

“Kami mendapatkan hibah untuk menghilirisasi atau menyampaikan hasil-hasil temuan kami terkait penelitian dan teknologi kepada masyarakat umum,” ujar Nice.

Menurutnya, tantangan pengasuhan saat ini semakin kompleks karena anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang sangat dekat dengan teknologi dan gawai. Kondisi tersebut membuat orang tua perlu memahami karakter generasi yang berbeda, termasuk Generasi Z dan Generasi Alpha.

“Bagaimana orang tua bisa lebih paham dengan Gen Z, lalu Gen Alpha, berkaitan dengan pengasuhan mereka,” katanya.

Nice menjelaskan, rangkaian kegiatan dilaksanakan selama dua hari. Hari pertama difokuskan pada materi smart parenting, sedangkan hari kedua membahas resiliensi atau kemampuan menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Masa remaja menjadi perhatian khusus karena merupakan salah satu periode penting dalam perkembangan anak.

“Bagaimana memastikan anak-anak ini bisa tahan, memiliki daya tahan menghadapi masalah berkaitan dengan kondisi mereka dalam keseharian. Karena remaja merupakan periode yang sangat kritis,” jelasnya.

Karakter Dibangun Sejak Dini

Wakil Rektor I Undiksha, Prof. Dr. Gede Rasben Dantes, S.T., M.T.I., saat membuka kegiatan menekankan pentingnya peran orang tua dan guru dalam membangun karakter anak sejak dini.

Ia mengibaratkan anak-anak seperti tumbuhan yang membutuhkan akar dan batang yang kuat agar mampu menghadapi berbagai tantangan ketika tumbuh dewasa.

“Anak-anak kita itu seperti tumbuhan. Guru-guru di TK, SD, SMP itu benar-benar ingin memastikan tumbuhan ini memiliki akar yang kuat, batang yang kuat,” ujar Rasben.

Menurutnya, ketika fondasi karakter telah terbentuk dengan baik, pendidikan pada jenjang berikutnya akan lebih mudah dikembangkan. Anak yang memiliki karakter dan fondasi kuat diharapkan mampu mencari solusi ketika menghadapi berbagai persoalan.

“Challenge apa pun yang mereka hadapi, mereka akan mampu untuk mencarikan solusi dari berbagai permasalahan. Kami tinggal menyiram saja. Itu artinya kami tinggal memberikan knowledge, pengetahuan kepada mereka,” katanya.

Karena itu, Rasben mengajak orang tua dan guru bersama-sama memastikan anak tumbuh dengan karakter yang kuat dan baik.

Teknologi Jangan Sampai Mengontrol Anak

Dalam kesempatan tersebut, Rasben juga menyoroti perubahan generasi yang semakin lekat dengan teknologi. Anak-anak saat ini, kata dia, merupakan digital native, yakni generasi yang sejak lahir telah berada di lingkungan teknologi digital.

Teknologi tetap penting dan dapat digunakan untuk mendukung aktivitas sehari-hari. Namun, penggunaannya perlu dikendalikan agar tidak berubah menjadi ketergantungan.

“Teknologi hanya alat, hanya tools yang bisa kita gunakan untuk mendukung aktivitas kita saat ini,” ujarnya.

Ia meminta orang tua memperhatikan seberapa lama dan sejauh mana anak menggunakan teknologi.

“Kita tidak menampikkan teknologi, tetapi jangan sampai teknologi mengontrol kita. Jangan sampai kita adiktif kepada teknologi,” katanya.

Menurut Rasben, komunikasi langsung antara anak dengan orang tua maupun guru juga harus tetap diperkuat.

Ia mengatakan Undiksha ke depan berupaya membuka layanan khusus bimbingan dan konseling di Sekolah Laboratorium Undiksha. Layanan tersebut diharapkan menjadi ruang bagi siswa untuk menyampaikan persoalan akademik maupun nonakademik.

“Jika mengalami permasalahan, baik di akademik dan nonakademik di sekolah ini, adik-adik bisa bertemu langsung dengan guru-guru,” ujarnya.

Wakil Rektor I Undiksha, Prof. Dr. Gede Rasben Dantes, S.T., M.T.I., usai membuka kegiatan. (Foto: RRI/Santi)

Perbedaan Generasi Butuh Pola Komunikasi Berbeda

Nice menambahkan, perbedaan generasi sering membuat komunikasi antara orang tua dan anak membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Ia mencontohkan persoalan yang kerap ditemui dalam kegiatan bersama orang tua di sekolah, seperti ketika anak mengalami kebingungan menentukan peminatan atau ketika pesan dan nasihat yang disampaikan orang tua tidak diterima anak sebagaimana yang diharapkan.

“Bagaimana cara untuk memastikan informasi atau pesan nasihat yang disampaikan orang tua itu sampai ke anak-anaknya, itu kan butuh pola komunikasi yang berbeda karena perbedaan generasi,” katanya.

Karena itu, orang tua diharapkan memiliki lebih banyak strategi dalam menghadapi persoalan komunikasi dan pengasuhan.

Melalui kegiatan tersebut, Undiksha berharap orang tua semakin mampu memahami karakter anak, membangun komunikasi yang lebih dekat, sekaligus mendampingi anak menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Rangkaian program tersebut akan dilanjutkan dengan kegiatan yang lebih besar di Auditorium Undiksha pada November mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....