Perencana Keuangan Ajak Masyarakat Bangun Fondasi Keuangan sebelum Investasi

  • 07 Jul 2026 08:18 WIB
  •  Singaraja
Poin Utama
  • Minat generasi muda terhadap investasi saham meningkat seiring kemajuan teknologi dan akses mudah ke pasar modal, namun perlu kesiapan finansial dan pemahaman yang memadai.
  • Investasi saham menawarkan keuntungan melalui capital gain dan dividen, tetapi memiliki risiko tinggi sehingga mengikuti prinsip high risk high return.
  • Sebelum berinvestasi, masyarakat harus memiliki dana darurat, melunasi utang konsumtif, memiliki asuransi, mengenali profil risiko pribadi, dan mendapatkan edukasi investasi yang baik.
  • Investor pemula sering mengalami kerugian karena mengikuti tren atau FOMO tanpa melakukan analisis fundamental terhadap laporan keuangan perusahaan.
  • Masyarakat harus menggunakan aplikasi investasi yang berizin dan diawasi OJK serta menghindari aplikasi yang menjanjikan keuntungan pasti atau imbal hasil tidak wajar.

RRI.CO.ID, Singaraja – Minat masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap investasi saham terus meningkat seiring kemajuan teknologi dan semakin mudahnya akses ke pasar modal. Namun, di balik peluang keuntungan yang menjanjikan, masyarakat diingatkan untuk tidak terburu-buru berinvestasi tanpa memiliki kesiapan finansial dan pemahaman yang memadai.

Hal tersebut disampaikan Certified Financial Planner (CFP), Ni Putu Desy Ratna Dewi, S.E., M.S.i., CFP, ia menjelaskan, saham merupakan bukti kepemilikan atas suatu perusahaan. Ketika seseorang membeli saham, maka secara tidak langsung ia menjadi pemilik sebagian perusahaan tersebut dan berpotensi memperoleh keuntungan melalui dua cara, yakni capital gain atau selisih harga beli dan harga jual saham, serta dividen yang dibagikan perusahaan ketika memperoleh laba.

"Investasi saham memang menawarkan peluang keuntungan yang tinggi, tetapi risikonya juga tinggi. Karena itu investor harus memahami bahwa prinsipnya adalah high risk, high return," ujarnya.

Menurutnya, sebelum mulai membeli saham, masyarakat perlu memastikan fondasi keuangannya telah kuat. Ia menyarankan agar setiap orang memiliki dana darurat, melunasi utang konsumtif, serta memiliki perlindungan asuransi sebelum mengalokasikan dana ke instrumen investasi yang bersifat agresif seperti saham.

"Kalau fondasi keuangan belum kuat, kemudian seluruh uang dimasukkan ke saham, ketika harga turun justru bisa menimbulkan masalah keuangan baru," katanya.

Desi juga mengingatkan pentingnya mengenali profil risiko masing-masing. Tidak semua orang cocok menjadi investor saham karena setiap individu memiliki tingkat toleransi terhadap kerugian yang berbeda.

Selain kesiapan finansial, edukasi menjadi faktor penting sebelum berinvestasi. Ia menilai banyak investor pemula mengalami kerugian karena membeli saham hanya berdasarkan tren atau mengikuti orang lain tanpa melakukan analisis.

"Jangan sampai investasi dilakukan karena FOMO. Kita harus belajar membaca laporan keuangan perusahaan dan memahami kondisi ekonomi agar keputusan investasi lebih rasional," ujarnya.

Ia menambahkan, Bursa Efek Indonesia menyediakan laporan keuangan perusahaan secara berkala sehingga dapat dimanfaatkan investor untuk menilai kesehatan perusahaan sebelum membeli saham.

Desi juga mengingatkan masyarakat untuk memilih aplikasi investasi yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Menurutnya, masyarakat perlu menghindari aplikasi yang menjanjikan keuntungan pasti atau menawarkan imbal hasil tidak wajar.

"Pastikan menggunakan aplikasi resmi yang berada di bawah pengawasan OJK. Jangan mudah tergoda dengan janji keuntungan besar dalam waktu singkat," katanya.

Melalui literasi keuangan yang baik, Desi berharap semakin banyak masyarakat yang mampu menjadikan investasi sebagai sarana membangun kesejahteraan jangka panjang, bukan sekadar mengikuti tren sesaat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....