Cinta Budaya dan Agama Harus Sejalan dengan Kepedulian terhadap Lingkungan

  • 01 Okt 2026 10:52 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Hubungan antara ritual keagamaan masyarakat modern dan pelestarian lingkungan menjadi perbincangan hangat yang menggugah kesadaran dalam podcast di Studio 3 RRI Singaraja pada Rabu, 30 September 2026. Mengangkat topik hangat “Percuma Sok Religius dan Cinta Budaya tapi Toxic Sama Bumi!” dipandu host Ida Bagus Mas Abdi Putra, menghadirkan I Wayan Sadyana, S.S., M.Si., akademisi sekaligus penggerak adat dari Desa Adat Pedawa, Buleleng.

Wayan Sadyana, yang juga dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang (PBJ), Jurusan Bahasa Asing, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, menegaskan bahwa cinta budaya dan agama jangan sebatas formalitas pakaian atau kemegahan upacara semata.

"Kita sering terjebak estetika ritual. Merasa sudah religius saat menggelar upacara besar, tapi setelah itu justru mengotori lingkungan dan sumber air. Ini kontradiksi. Menjadi religius dan mencintai budaya itu sepaket dengan merawat bumi. Jika kita merusak alam, kita sedang merusak fondasi budaya kita sendiri," ujar Sadyana.

Sebagai aksi nyata merawat bumi, Sadyana mendirikan Pondok Literasi Sabih (PLS) pada 18 Agustus 2018 di Desa Pedawa. Gerakan ini fokus pada pendidikan lingkungan, literasi anak-anak, serta penyelamatan permainan dan lagu tradisional khas Pedawa agar tidak punah.

Kini, PLS telah berkembang menjadi ruang kolaborasi budaya berskala internasional. Baru-baru ini, mereka menerima kunjungan rombongan universitas luar negeri yang terdiri dari 14 mahasiswa dan seorang profesor pendamping.

"Tujuan mereka datang untuk belajar dan berkolaborasi langsung dengan masyarakat. Kami berdiskusi mengenai tantangan warga sehari-hari, mulai dari adaptasi lingkungan hingga cara menjaga kebersamaan di tengah modernisasi. Profesor pendampingnya juga menegaskan kolaborasi ini penting agar mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi paham kondisi nyata di lapangan," ujar Sadyana.

Dalam podcast tersebut, Sadyana membandingkan kesadaran lingkungan antara Jepang dan Bali. Di Jepang, masyarakat sangat menghormati dewa air. Sementara di Bali, leluhur kita sudah mengajarkan kearifan lokal yang jauh lebih holistik dengan memandang alam sebagai bagian dari diri manusia.

Namun, tantangan terbesar saat ini adalah pergeseran pola pikir akibat modernisasi. Ketika gaya hidup menjadi serba instan, kearifan lokal sering kali hanya dianggap mitos atau simbol ritual, bukan lagi pedoman menjaga alam. Tugas kita sekarang adalah menyadarkan generasi muda agar bangga dan menerapkan kearifan ini.

Langkah penyelamatan warisan Bali Aga di Desa Pedawa ini diperkuat dengan berdirinya Sekolah Adat Manik Empul pada Oktober 2024. Sebagai pendiri, Sadyana memimpin lembaga ini untuk fokus pada dua program utama, yaitu Revitalisasi Bahasa Pedawa dan Pelestarian Rumah Adat Masegali.

"Lewat sekolah adat, kami mendidik generasi muda untuk merawat rumah adat sekaligus melestarikan material alamnya. Menjaga arsitektur dan bahasa Pedawa adalah cara kami merawat identitas agar tidak digilas zaman," ucap Sadyana di akhir podcast tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....