Purana sebagai Kompas Moral untuk Menjawab Kompleksitas Zaman

  • 22 Agt 2026 21:31 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Kitab Purana yang selama ini kerap disalahpahami sebagai sekadar dongeng atau mitologi masa lalu, ternyata menyimpan esensi mendalam yang sangat relevan untuk menjawab kompleksitas kehidupan di era modern.

Sebagai bagian dari kesusastraan Hindu (Upa Weda), naskah kuno ini memuat lima pokok bahasan (Panca Laksana), yaitu: Sarga (proses penciptaan alam semesta), Pratisarga (siklus peleburan dan penciptaan kembali alam semesta secara berulang), Vamsa (silsilah atau keturunan para dewa, orang suci, dan raja), Manvantara (pembagian zaman kosmik dan pergantian kepemimpinan Manu) serta Vamsanucarita (sejarah dan kisah keturunan dinasti surya maupun candra).

Purana tidak hanya memuat kosmologi dan silsilah sejarah, tetapi juga menawarkan filosofi tata kelola alam serta manusia yang mudah diterapkan oleh masyarakat masa kini. Salah satu rujukan paling kuat mengenai kemerosotan moral termuat dalam Wisnu Purana, yang menggambarkan realitas zaman Kali Yuga ketika kekayaan menjadi satu-satunya ukuran martabat dan kebohongan merajalela demi mencari nafkah.

Deskripsi tersebut terasa sangat dekat dengan realitas masa kini, di mana kesuksesan sering kali diukur melalui kepemilikan materi yang dipamerkan di media sosial serta maraknya penipuan daring.

Tidak hanya menyoroti krisis moral manusia, Matsya Purana juga mengisyaratkan pesan ekologis yang mendalam, mengingatkan bahwa bencana alam terjadi akibat keserakahan manusia yang melampaui batas.

Menanggapi pudarnya orientasi spiritual di tengah gempuran modernitas, Ketua STKIP Agama Hindu Singaraja, Prof. Dr. Drs. I Wayan Suwendra, M.Pd., menekankan pentingnya transformasi teks klasik menjadi instrumen kecerdasan spiritual.

Menurut Prof. Suwendra, Purana kini bertransformasi menjadi kompas moral dan spiritual, salah satunya melalui metode storytelling yang efektif menanamkan nilai kejujuran dan pengorbanan bagi generasi muda.

Selain itu, kitab ini berfungsi sebagai panduan etika sosial, penanaman kesadaran lingkungan bahwa alam adalah manifestasi energi ilahi, serta terapi spiritual untuk meredakan stres akibat ambisi materiil.

Nilai-nilai luhur tersebut juga berperan penting dalam pelestarian budaya lokal, khususnya di Bali, serta beradaptasi secara inklusif melalui pemanfaatan teknologi digital bagi Gen Z.

Melalui pembacaan secara kontekstual, masyarakat modern diajak menemukan kembali jangkar spiritual dan merawat alam, sebab peradaban yang maju adalah peradaban yang tidak pernah melupakan akar asalnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....