Rahasia Spiritual di Balik Topeng Sidhakarya

  • 16 Sep 2026 10:08 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja – Kehadiran tarian Topeng Sidhakarya menjadi penanda puput-nya tatanan upacara besar (yadnya) di Bali. Kata sidha berarti berhasil atau mumpuni, sedangkan karya berarti tugas atau ritual. Secara harfiah, Sidhakarya adalah perwujudan dari keberhasilan sebuah tujuan suci. Kehadirannya berfungsi sebagai pemuput, penjangkep, atau pelengkap dari pelaksanaan yadnya setelah seluruh rangkaian upacara utama selesai.

Akademisi sekaligus praktisi seni, Dr. Nyoman Suardika, yang akrab disapa Mang Epo menegaskan bahwa pementasan Wali ini menuntut penyucian spiritual dari sang penari (pragina) demi menghadirkan taksu dan berkah kemakmuran bagi umat.

"Seorang pragina (penari) Topeng Sidhakarya wajib telah melewati prosesi penyucian diri (pawintenan). Selain itu, penari sudah tangkil (datang) ke Pura Dalem Sidhakarya untuk memohon doa restu sekaligus nunas pelukatan (memohon air suci pembersihan)," ujar Mang Epo melalui pesan suara di sela-sela kesibukannya bersiap menari, Selasa, 15 September 2026.

Puncak dari pementasan Topeng Sidhakarya selalu menjadi momen yang paling dinantikan oleh umat yang datang untuk persembahyangan. Di akhir tarian, sang penari akan melakukan prosesi melempar atau menyebarkan uang kepeng (pis bolong) yang dicampur beras kuning (sekar ura atau beras kuru), serta sedikit base lekesan (sirih) ke arah warga sebagai simbol pemberian berkat, kemakmuran, dan tanda bahwa upacara yadnya telah selesai dengan sempurna dan sukses.

"Makna dari prosesi melempar uang kepeng dan sekar ura itu adalah melebur sarwa mala leteh, yaitu membersihkan segala bentuk kotoran atau cuntaka (noda spiritual) di areal pura. Selain itu, prosesi ini menjadi simbol kemakmuran dan kesejahteraan. Warga akan menangkap atau nunas (meminta) uang kepeng dan sekar ura, karena diyakini membawa kesuksesan dalam usaha, dagang, dan kehidupan sehari-hari," ujarnya menambahkan.

Lebih luas lagi, Dr. Nyoman Suardika menegaskan bahwa seluruh rangkaian ritual Topeng Sidhakarya ini dilandasi oleh konsep keselarasan alam semesta, yaitu Tri Hita Karana. Hubungan harmonis dengan Tuhan (Parhyangan) disimbolkan melalui penyebaran uang kepeng dan sekar ura di area parahyangan pura.

Sementara itu, hubungan dengan alam sekitar (Palemahan) diwujudkan lewat penyebaran uang kepeng dan sekar ura pada banten persembahan. Di sisi lain, hubungan harmonis antarsesama manusia (Pawongan) tercermin dari prosesi pelemparan uang kepeng dan sekar ura yang menyatukan kebersamaan krama (warga) dalam suasana penuh sukacita.

Kesenian sakral ini menjadi pengingat bahwa setiap pekerjaan (karya) yang dimulai dengan niat suci, ketulusan, dan persiapan matang secara spiritual, pasti akan menemui titik keberhasilan (sidha) dan membawa kesejahteraan bagi sesama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....