Fenomena Melukat antara Tren Modern dan Kajian Sastra Suci

  • 03 Agt 2026 15:20 WIB
  •  Singaraja

RRI.CDO.ID, Singaraja – Ritual melukat (pembersihan pikiran dan jiwa secara spiritual) di Bali kini menjadi tren wisata spiritual modern. Gempuran unggahan dari para selebritas dan influencer membuat ritual melukat dipandang sangat estetis, hingga menjadi agenda wajib saat berkunjung ke Pulau Dewata. Di sisi lain, masyarakat perkotaan memanfaatkan tradisi ini sebagai sarana melepas penat, meredakan stres, hingga memulihkan kelelahan mental.

Namun, di balik popularitasnya sebagai tren gaya hidup modern, melukat sejatinya memiliki landasan teologis yang sangat kuat dalam ajaran Hindu Bali. Secara tekstual, pelaksanaan ritual melukat diatur dalam berbagai lontar, seperti: Lontar Dharma Kauripan, Lontar Usada, dan Lontar Sundarigama. Selain itu, sastra agama menekankan bahwa esensi sejati dari melukat adalah menghancurkan lima bentuk kekotoran batin (klesa), yaitu kebodohan batin (awidya), egoisme (asmita), nafsu atau keterikatan (raga), kebencian (dwesa), serta ketakutan akan kematian (abhiniwesa).

Jro Mangku Gede Dana menjelaskan bahwa kata melukat berasal dari istilah “mala” yang berarti kekotoran (leteh) dan “kaad” yang berarti hilang.

"Jadi melukat itu asal katanya “mala kaad”. Mala itu adalah kotor, kaad itu hilang. Melukat secara umum bisa dikatakan menghilangkan semua “leteh” atau “mala”. Secara simbolis dan spiritualnya, melukat adalah menghilangkan semua kekotoran di badan (angga sarira) serta menghilangkan kekotoran yang ada di Buana Agung,” ujar Jro Mangku melalui sambungan telepon, Senin, 3 Agustus 2026.

Menurutnya, penglukatan dibedakan menurut objek penyuciannya. Pertama, penglukatan untuk manusia (Angga Sarira), contohnya ritual Mebayuh Oton (penyucian diri) untuk menetralkan sifat buruk bawaan lahir. Kedua, penglukatan alam atau lingkungan (Buana Agung), sebagaimana terkandung dalam sastra Bhama Kertih. Ketiga, penglukatan Pralinggih atau Pura untuk membersihkan simbol-simbol suci (pralingga), yang dalam praktiknya sering disebut Melis.

Tempat pelaksanaan melukat pun disesuaikan dengan jenis serta tujuan penglukatan tersebut. Beberapa tempat suci yang kerap digunakan antara lain di hadapan palinggih kemulan atau sanggah tempat tinggal, di tepi laut untuk melebur energi negatif ke samudera, serta di sumber air suci atau aliran Sungai (Pancoran/Tukad/Luah).

Penglukatan seyogianya dipimpin oleh seorang Pinandita atau Pemangku hingga Sulinggih, sesuai tingkatan ritual yang dilaksanakan. Melalui tradisi melukat, masyarakat diajak untuk tidak sekadar mengikuti tren, tetapi juga memahami maknanya, menjaga keseimbangan spiritual, memelihara kebersihan raga dan menyucikan jiwa.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....