Makna Tamiang, Ter, dan Endongan dalam Hari Raya Kuningan

  • 26 Jun 2026 08:54 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Hari Raya Kuningan menjadi penutup rangkaian perayaan Galungan yang sarat dengan nilai spiritual. Selain persembahyangan bersama keluarga, perayaan ini juga identik dengan berbagai sarana upakara khas yang memiliki makna simbolis, yaitu Tamiang, Ter, dan Endongan. Ketiga perlengkapan upacara ini hampir selalu menghiasi pelinggih dan tempat suci saat Hari Raya Kuningan sebagai bagian dari persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta para leluhur.

Tamiang merupakan jejahitan berbentuk lingkaran yang menyerupai perisai. Bentuknya melambangkan perlindungan sekaligus keseimbangan alam semesta. Dalam ajaran Hindu, Tamiang juga dikaitkan dengan Cakra dan Dewa Nawa Sanga, yaitu manifestasi Tuhan yang menjaga sembilan penjuru mata angin. Kehadiran Tamiang menjadi simbol harapan agar umat senantiasa memperoleh perlindungan dari segala bentuk pengaruh negatif serta mampu menjalani kehidupan dengan penuh kedamaian.

Selain Tamiang, terdapat Ter yang dibuat menyerupai anak panah atau senjata. Sarana upakara ini melambangkan kekuatan, keteguhan, dan kewaspadaan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Ter mengingatkan umat Hindu agar selalu memiliki ketajaman pikiran dalam membedakan antara yang benar dan yang salah, serta keberanian untuk tetap berpihak pada Dharma. Makna tersebut menegaskan bahwa kemenangan kebaikan tidak hanya membutuhkan niat yang tulus, tetapi juga kebijaksanaan dalam setiap tindakan.

Sarana berikutnya adalah Endongan, yaitu jejahitan berbentuk tas kecil yang dibuat dari janur dan daun aren. Endongan biasanya diisi dengan tumpeng kecil, buah-buahan, jajanan tradisional, serta berbagai pelengkap upacara lainnya. Secara simbolis, Endongan menjadi bekal bagi para dewa dan roh leluhur saat kembali ke kahyangan setelah beberapa waktu dipercaya hadir memberkati keturunannya selama rangkaian Galungan dan Kuningan.

Di balik bentuknya yang sederhana, Endongan juga mengandung pesan filosofis yang mendalam. Bekal yang dibawa bukan sekadar makanan, melainkan perlambang bahwa setiap manusia hendaknya mempersiapkan bekal terbaik dalam menjalani kehidupan. Bekal tersebut berupa ilmu pengetahuan, kebajikan, ketulusan, dan bhakti kepada Tuhan. Nilai-nilai inilah yang akan menjadi penuntun dalam menghadapi berbagai perjalanan hidup.

Melalui Tamiang, Ter, dan Endongan, Hari Raya Kuningan mengajarkan bahwa kehidupan memerlukan perlindungan, kebijaksanaan, serta bekal spiritual yang cukup. Ketiga sarana upakara tersebut menjadi pengingat bahwa kemenangan Dharma tidak berhenti pada perayaan semata, melainkan harus terus diwujudkan dalam sikap, perilaku, dan pengabdian kepada Tuhan serta sesama manusia setiap hari.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....