Mengenal 9 Jenis Sate dalam Upacara Hindu Bali, Simbol Senjata Dewata Nawa Sanga
- 15 Jun 2026 20:09 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Sate merupakan salah satu kuliner yang sangat populer di Indonesia. Hampir setiap daerah memiliki ragam sate dengan cita rasa dan cara pengolahan yang khas. Namun di Bali, sate tidak hanya berfungsi sebagai hidangan sehari-hari, melainkan juga menjadi bagian penting dalam berbagai upacara keagamaan Hindu.
Dalam tradisi Hindu Bali, sate termasuk salah satu olahan yang disebutkan dalam Lontar Dharma Caruban, naskah kuno yang memuat pengetahuan mengenai tata cara pengolahan makanan dan sarana upacara. Berbeda dengan sate untuk konsumsi biasa, sate upacara dibuat dengan bentuk tertentu yang sarat makna filosofis dan simbolis.
Sate-sate tersebut digunakan sebagai bagian dari banten atau sarana persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi-Nya. Bentuknya melambangkan senjata para dewa dalam konsep Dewata Nawa Sanga, yaitu sembilan manifestasi Tuhan yang menjaga sembilan penjuru alam semesta.
Berikut sembilan jenis sate yang umum digunakan dalam sarana upacara Hindu di Bali:
1. Sate Lembat
Sate lembat atau dikenal juga sebagai Kreta Semaya merupakan simbol gada, senjata Dewa Brahma. Sate ini memiliki fungsi ganda, yakni sebagai sarana upacara dan persembahan bagi leluhur. Setelah upacara selesai, sate ini juga dapat dikonsumsi oleh umat.
2. Sate Asem
Sate asem melambangkan cakra yang merupakan senjata Dewa Wisnu. Fungsinya serupa dengan sate lembat, yaitu sebagai sarana yadnya sekaligus persembahan dalam ritual keagamaan.
3. Sate Kuung atau Sate Kekurung
Jenis sate ini menjadi simbol padma atau bunga teratai yang berkaitan dengan Dewa Siwa. Bentuknya yang khas mencerminkan kesucian dan keseimbangan dalam ajaran Hindu.
4. Sate Sepit Gunting
Sate yang juga dikenal sebagai gunting-gunting ini melambangkan trisula, senjata Dewa Sambu. Bentuknya dibuat menyerupai ujung trisula yang memiliki tiga cabang.
5. Sate Jepit atau Apit Babi
Sate jepit babi melambangkan bajra atau vajra, senjata Dewa Iswara. Proses pembuatannya menggunakan dua bilah bambu yang menjepit daging sebelum dibakar.
6. Sate Jepit Balung atau Jepit Iga
Jenis sate ini melambangkan naga pasa yang merupakan senjata Dewa Mahadewa. Bahan utamanya biasanya menggunakan bagian iga atau tulang yang masih memiliki daging.
7. Sate Lilit
Sate lilit menjadi simbol moksala, senjata Dewa Rudra. Adonan daging yang telah dibumbui dililitkan pada tusuk bambu atau batang serai sebelum dibakar.
8. Sate Suduk Ro
Sate suduk ro melambangkan angkus, yaitu senjata Dewa Sangkara. Dalam simbolisme Hindu, angkus menggambarkan kemampuan mengendalikan diri dan menjaga keseimbangan hidup.
9. Sate Serapah
Sate serapah merupakan simbol dupa atau api yang menjadi senjata Dewa Maheswara. Api dalam ajaran Hindu dimaknai sebagai unsur penyucian dan kekuatan spiritual.
Kesembilan jenis sate tersebut dikenal sebagai bagian dari simbol Dewata Nawa Sanga yang melambangkan kekuatan para dewa penjaga arah mata angin. Kehadirannya dalam upacara bukan sekadar pelengkap banten, tetapi juga sebagai simbol perlindungan, keseimbangan alam, dan keharmonisan kehidupan.
Seluruh sate upacara umumnya dibuat dari olahan daging babi yang dibumbui dengan rempah-rempah tradisional Bali. Bumbu tersebut antara lain cekuh atau kencur, kunyit, isen atau lengkuas, jahe, bawang merah, serta lemo atau jeruk limau sebagaimana disebutkan dalam Lontar Dharma Caruban.
Hingga kini, tradisi pembuatan sate upacara masih terus dilestarikan oleh masyarakat Hindu Bali. Selain memiliki fungsi religius, keberadaan sate-sate tersebut juga menjadi bagian dari warisan budaya yang mencerminkan kearifan lokal, nilai spiritual, dan kekayaan kuliner tradisional Bali yang diwariskan secara turun-temurun.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....