Penjor, Lambang Gunung Suci dan Kemakmuran Bali

  • 16 Jun 2026 14:56 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Penjor adalah tiang bambu melengkung yang dihiasi janur serta hasil bumi. Sebagai simbol kemakmuran dan gunung suci stana Tuhan, penjor menjadi wujud rasa syukur umat Hindu di Bali dan dipasang di depan rumah setiap hari raya seperti Galungan.

Dalam budaya Hindu, penjor lebih dari sekadar dekorasi jalanan. Ujung penjor yang melengkung melambangkan ekor Naga Basuki, sementara hiasannya menyerupai Naga Ananta Bhoga dan Naga Taksaka. Ketiganya merupakan simbol kesejahteraan, keselamatan, dan harta benda.

Penjor adalah representasi Gunung Agung yang disucikan sebagai pemberi kesuburan dan kesejahteraan bagi umat manusia. Keindahan penjor tercipta dari berbagai elemen alam yang dirangkai sedemikian rupa. Setiap unsurnya memiliki makna tersendiri.

Batang bambu melengkung yang menjadi fondasi utama. Sampian adalah rangkaian janur (daun kelapa muda) yang digantung di ujung atas penjor.

Sanggah Penjor merupakan tempat sesajen kecil yang ditempatkan di tengah tiang. Dalam penjor berisi hasil bumi yakni hiasan berupa padi, jagung, pala bungkah (umbi-umbian) hingga jajan tradisional yang melambangkan rezeki dan kemakmuran bumi.

Kain Putih-Kuning dalam penjor merupakan simbol kesucian. Di Bali, penjor memiliki peran penting saat hari raya besar keagamaan. Pemasangannya dilakukan pada hari Penampahan Galungan (Selasa) atau saat ada upacara besar di pura (odalan).

Penjor dipasang di depan pintu masuk pekarangan rumah, tepat di sebelah kanan pintu gerbang. Pemasangan ini diartikan sebagai swadharma (kewajiban) umat Hindu untuk berterima kasih kepada Sang Hyang Widhi atas berkah kehidupan yang diberikan. Umumnya, penjor akan dibiarkan terpasang selama 42 hari hingga puncaknya dicabut kembali.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....