Bukan Sekadar Aksesoris, Ini Panduan Penggunaan Shivarudraksa

  • 10 Jul 2026 20:15 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja – Penggunaan Shivarudraksa atau biji genitri dalam kehidupan spiritual umat Hindu kian populer. Namun, masih banyak masyarakat yang belum memahami esensi dan tata cara penggunaannya secara tepat. Menanggapi hal tersebut, akademisi dan tokoh spiritual, Prof. Dr. I Wayan Suwendra, memberikan pemaparan komprehensif mengenai fungsi, etika, hingga filosofi dari manik-manik suci yang berasal dari pohon Elaeocarpus ganitrus ini.

Secara harfiah, Shivarudraksa (sering disebut Rudraksa) berarti "Air Mata Dewa Rudra atau Dewa Siwa". Biji suci ini dikhususkan sebagai sarana pemujaan kepada Dewa Siwa.

Menurut Prof. Wayan Suwendra, seluruh umat Hindu pada dasarnya diperbolehkan memakai Rudraksa untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Penggunaannya tidak terbatas hanya untuk para Pendeta atau kaum Brahmana saja.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa ada syarat mutlak yang harus dipenuhi, yaitu berlandaskan rasa Sradha (keyakinan) dan pemahaman etika yang kuat.

"Rudraksa bukan aksesoris fashion atau gaya-gayaan. Kuncinya adalah hormati, sucikan, dan jaga kesuciannya," ujar Prof. Suwendra dalam penjelasannya melalui pesan singkat, Jumat 10 Juli 2026.

Ia mengimbau agar Rudraksa tidak dipakaikan pada anak di bawah usia lima tahun karena energinya yang dinilai terlalu kuat. Selain itu, wanita yang sedang dalam masa haid atau nifas, serta orang yang belum siap menjaga kesucian spiritual, disarankan untuk mengistirahatkan atau tidak memakainya terlebih dahulu.

Untuk menjaga kesucian getaran energinya, Prof. Suwendra membagikan sejumlah panduan etika yang wajib ditaati oleh umat:

1. Sebelum pertama kali digunakan, Rudraksa harus disucikan terlebih dahulu melalui proses pasupati atau pratistha sederhana, seperti memercikkan Tirta dan merapalkan mantra “Om Namah Shivaya” sebanyak 3, 11, atau 108 kali.

2. Alat suci ini wajib dilepas saat ke toilet, saat berhubungan suami-istri, maupun saat tidur (kecuali digunakan khusus untuk japa/meditasi). Rudraksa juga harus disimpan di tempat yang tinggi dan bersih, bukan diletakkan di lantai.

3. Rudraksa lebih baik dipakai di dalam baju agar tidak memicu sifat pamer. Selain itu, umat disarankan merawatnya secara berkala dengan mengoleskan minyak kelapa atau zaitun agar bijinya tidak retak.

Sebaliknya, ada beberapa hal yang dilarang keras, di antaranya: tidak boleh disentuh orang lain secara sembarangan (terutama dengan tangan kotor), tidak dipakai saat mabuk, berjudi, atau mengonsumsi daging (bagi yang mengikuti tradisi sampradaya tertentu). Jika Rudraksa sudah rusak, biji tersebut tidak boleh dibuang sembarangan, melainkan harus dilarung ke sungai atau laut dengan melafalkan mantra.

Dalam penerapannya, Rudraksa dapat difungsikan dalam beberapa cara:

Dipakai di Badan: Jika berupa kalung, jumlah bijinya berkisar 27, 54, atau 108 butir dengan simpul di setiap hitungan tersebut. Jika berbentuk gelang, pria menggunakannya di tangan kanan dan wanita di tangan kiri dengan jumlah 12, 18, atau 27 butir. Posisi biji sebaiknya menyentuh kulit langsung agar energinya selaras dengan tubuh.

Untuk Meditasi (Japa): Dipegang menggunakan tangan kanan dengan bantuan jari tengah. Setiap putaran satu butir diiringi satu mantra “Om Namah Shivaya”, dengan catatan tidak boleh melewati bagian Bindu atau Guru (biji utama), melainkan arah putarannya harus dibalik ketika sampai di titik tersebut.

Prof. Suwendra juga menjelaskan beberapa jenis garis (Mukhi) pada Rudraksa yang umum ditemui. 1 Mukhi sangat langka dan ditujukan untuk mencapai Moksa. Sementara 6 Mukhi dikaitkan dengan Dewa Kartika yang sangat baik untuk pelajar. Bagi pemula, ia menyarankan untuk menggunakan 5 Mukhi.

"Kalau mau mulai, paling aman pakai yang 5 Mukhi dulu. Itu jenis yang paling umum, sifatnya netral untuk semua orang, serta berfungsi baik untuk kesehatan dan ketenangan," ucapnya.

Di akhir penjelasannya, Prof. Suwendra meluruskan pandangan keliru di masyarakat dan menegaskan bahwa Rudraksa bukanlah sebuah jimat keberuntungan.

Rudraksa esensinya memiliki tiga fungsi utama: sebagai alat bantu meditasi agar pikiran tetap fokus pada Dewa Siwa, sebagai penyeimbang energi karena getaran alami bijinya dipercaya berdampak positif pada sistem saraf, serta sebagai pengingat batin bagi pemakainya agar selalu berada di jalan Dharma dan menjauhi Adharma.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....