Sugihan Jawa dan Bali, Awal Penyucian Menjelang Galungan
- 12 Jun 2026 08:02 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Umat Hindu di Bali kembali melaksanakan rangkaian Hari Raya Galungan yang diawali dengan peringatan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Kedua hari suci ini memiliki makna penting sebagai proses penyucian lahir dan batin sebelum menyambut kemenangan Dharma melawan Adharma yang diperingati pada Hari Raya Galungan.
Sugihan Jawa dan Sugihan Bali dilaksanakan secara berurutan setiap enam bulan kalender Bali atau 210 hari sekali. Sugihan Jawa jatuh pada Kamis (Wraspati) Wage Wuku Sungsang, sedangkan Sugihan Bali diperingati sehari setelahnya, yakni Jumat (Sukra) Kliwon Wuku Sungsang.
Jro Mangku Dadia Pasek Padang Subadra Desa Padangbulia, Nyoman Puger, menjelaskan bahwa kedua hari raya tersebut sama-sama berorientasi pada penyucian, namun memiliki fokus yang berbeda.
Menurutnya, Sugihan Jawa berasal dari kata jaba yang berarti luar. Karena itu, pelaksanaan Sugihan Jawa difokuskan pada penyucian Bhuana Agung atau alam semesta.
"Pada hari Sugihan Jawa, umat Hindu melakukan pembersihan lingkungan, merajan, pura, serta tempat-tempat suci lainnya. Tujuannya untuk membersihkan segala bentuk kotoran maupun energi negatif yang dapat mengganggu keharmonisan alam," ujar Nyoman Puger saat ditemui di Desa Padangbulia, Sukasada, Buleleng, Bali, Kamis 11 Juni 2026.
Ia menambahkan, dalam pelaksanaan Sugihan Jawa terdapat penggunaan sarana banten tertentu yang memiliki makna simbolis dengan sarana babi guling sebagai bagian dari proses penyucian.
"Makna babi guling sebagai sarana banten dalam upacara ngrebuin adalah untuk pembersihan Bhuana Agung. Ini merupakan simbol penyucian alam semesta sebelum umat memasuki rangkaian suci berikutnya menuju Galungan," ucapnya.
Nyoman Puger menilai pemahaman masyarakat mengenai makna filosofis Sugihan Jawa dan Sugihan Bali masih perlu ditingkatkan.
"Pemahaman masyarakat kita tentang Sugihan Bali dan Sugihan Jawa masih sangat minim. Banyak yang menjalankan tradisinya, tetapi belum sepenuhnya memahami esensi dan tujuan spiritual dari kedua hari suci tersebut," katanya.
Sementara itu, Sugihan Bali memiliki makna penyucian yang berpusat pada diri manusia. Kata Bali dalam konteks ini dimaknai sebagai kekuatan yang ada dalam diri.
"Jika Sugihan Jawa membersihkan Bhuana Agung, maka Sugihan Bali bertujuan menyucikan Bhuana Alit, yaitu diri manusia baik secara fisik maupun spiritual," ujar Nyoman Puger.
Pada peringatan Sugihan Bali, umat Hindu umumnya melaksanakan persembahyangan, penglukatan, serta memohon tirta penyucian sebagai sarana membersihkan pikiran, perkataan, dan perbuatan. Menurutnya, proses penyucian diri menjadi bagian penting untuk mempersiapkan batin agar lebih fokus dan khusyuk dalam menyambut Hari Raya Galungan.
"Makna terdalam dari Sugihan Bali adalah introspeksi diri. Umat diajak membersihkan hati dari sifat-sifat negatif agar siap menerima kemenangan Dharma dalam kehidupan sehari-hari," ucapnya.
Selain melakukan persembahyangan, masyarakat juga memanfaatkan momentum Sugihan Jawa dan Sugihan Bali untuk membersihkan area rumah, sanggah, maupun tempat ibadah keluarga sebagai simbol keselarasan antara kebersihan fisik dan spiritual. Melalui rangkaian hari suci ini, umat Hindu diharapkan mampu menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam lingkungan sesuai konsep Tri Hita Karana. Dengan terlaksananya Sugihan Jawa dan Sugihan Bali, umat Hindu memasuki tahapan persiapan spiritual menuju Hari Raya Galungan yang menjadi simbol kemenangan kebenaran (Dharma) atas kejahatan (Adharma).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....