Dua Jenis Bunga Ini Pantang Digunakan dalam Upacara Dewa Yadnya

  • 10 Jun 2026 16:58 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja – Dalam tradisi kehidupan berupacara agama Hindu di Bali, penggunaan sarana persembahan tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Terdapat aturan mengenai jenis bunga yang boleh dan tidak boleh dipergunakan, khususnya dalam ritual Dewa Yadnya

Berdasarkan buku Makna Upacara Yajña dalam Agama Hindu karya I Ketut Wiana yang diterbitkan oleh Penerbit Pāramita, umat Hindu menghindari penggunaan bunga Jempiring Alit (Tulud Nyuh) dan bunga Sarikonta sebagai pelengkap upacara Dewa Yadnya.

Larangan penggunaan kedua bunga tersebut memiliki dasar mitologi kuat yang tertuang dalam Lontar Aji Janantaka. Dikisahkan, sebuah kerajaan bernama Janantaka pernah dilanda wabah penyakit lepra yang menyerang baik kalangan pembesar hingga rakyat kecil.

Atas permohonan sang patih untuk melenyapkan wabah tersebut, Batara Siwa turun ke bumi namun tidak dapat langsung bertatap muka dengan manusia. Dampaknya, seluruh penduduk beserta wilayah kerajaan Janantaka berubah menjadi hutan.

Setelah turunnya Batara Siwa untuk melakukan pembersihan (Ngalukat), semua pohon di hutan tersebut menghadap sang dewa agar terbebas dari wabah lepra. Namun, terdapat dua pohon yang menolak untuk ikut serta, yakni pohon bunga jempiring alit dan pohon bunga sarikonta. Karena penolakan tersebut, Batara Siwa menetapkan bahwa kedua bunga tersebut tidak boleh dipakai sebagai sarana memuja Hyang Widhi dan para Dewa.

Di samping faktor mitologi tersebut, secara logika dan kesehatan, I Ketut Wiana dalam buku tersebut juga menjelaskan bahwa bunga yang tidak suci seperti cacat dimakan ulat, dihinggapi lalat, atau berasal dari tempat kotor secara otomatis dilarang untuk digunakan dalam upacara keagamaan.

Aturan mengenai pemilihan sarana bunga yang suci ini juga sejalan dengan panduan yang dimuat dalam Lontar Wariga Gemet dan Lontar Śiva Gama. Lontar Wariga Gemet menjadi acuan spiritual dalam menentukan sarana persembahan yang tepat sesuai siklus alam untuk mencapai penyucian lahir dan batin. Sedangkan Lontar Śiva Gama memuat dasar-dasar filosofis, teologi, dan pelaksanaan yadnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....