Upacara Mapegat Simbol Suci Pemutus Hubungan Duniawi

  • 02 Jun 2026 15:17 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Kehidupan masyarakat Hindu di Bali tidak pernah lepas dari ritual keagamaan yang sarat makna. Salah satu rangkaian upacara yang memegang peranan penting dalam upacara Pitra Yadnya (upacara untuk memuliakan leluhur yang telah meninggal) yakni upacara Mapegat.

Menurut Manggala Pasraman Pinandita Brahma Vidya Samgraha, Ida Bhawati Hermawan Tangkas, Mapegat dalam Upacara Pitra Yadnya sebagai simbol untuk memutuskan ikatan emosional keduniawian serta hubungan spiritual antara roh (Atman) yang meninggal dengan keluarga yang ditinggalkan. Ida Bhawati menjelaskan bahwa intisari makna dan tujuan utama dari pelaksanaan upacara Mapegat adalah agar Atma tidak lagi terikat dengan hal-hal duniawi, sehingga keluarga yang ditinggalkan dapat ikhlas dan melanjutkan kehidupan sebagaimana mestinya. Selain itu, upacara ini juga bertujuan untuk memurnikan sisa-sisa ikatan karma, sehingga pihak keluarga maupun roh yang berpulang sama-sama memperoleh kedamaian.

Senada dengan Ida Bhawati, Ida Rsi Surya Wianjana dari Geria Giri Katilasari, Desa Sepang, Busungbiu, Buleleng, mengatakan bahwa kata mapegat berasal dari bahasa Bali, yaitu pegat, yang berarti putus atau memutuskan. Secara filosofis, Mapegat artinya memutuskan atau memisahkan sifat-sifat duniawi dengan akhirat.

Salah satu sarana dalam upacara ini adalah penggunaan benang Tri Datu atau benang penebus putih yang direntangkan di antara dua buah cabang pohon dadap yang dipegang oleh kerabat. Benang Tri Datu melambangkan Tri Kona, yaitu Utpeti, Stiti, dan Pralina.

Sedangkan benang putih melambangkan kesucian sekaligus tali pengikat duniawi. Di pertengahan ritual, benang tersebut akan dibakar hingga putus menjadi beberapa bagian. Putusnya benang tersebut menjadi tanda sah secara niskala bahwa hubungan lama telah berakhir.

"Penggunaan Pohon Dadap (Kayu Sakti) dalam upacara Mapegat dipercaya memiliki sifat sejuk (menetralkan panas atau sebel/leteh). Rasa panas dalam diri (kemarahan, hawa nafsu, kedukaan yang mendalam) dinetralkan oleh kekuatan spiritual kayu ini," ujar Ida Rsi.

Di daerah-daerah Bali Aga, kayu sakti juga dipakai sebagai saka (tiang) kemulan sakti. Saat Mapegat, sarana ini digunakan untuk menyembuhkan trauma batin (kehilangan dalam upacara kematian). Sedangkan penggunaan uang kepeng berjumlah 33 merujuk pada jumlah manifestasi Tuhan yang menjaga alam semesta.

“Uang kepeng berjumlah 33 diambil dari urip bhuana, yakni Purwa (Timur) 5, Daksina (Selatan) 9, Pascima (Barat) 7, Uttara (Utara) 4, Madia (Tengah) 8,” ujar Ida Rsi mengakhiri.

Melalui Mapegat, manusia diajarkan tentang arti keikhlasan dan pelepasan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....