Bukan Sekadar Peneduh, Ini Rahasia Pagar Gaib Anyaman Klangsah

  • 08 Sep 2026 12:52 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja – Di balik kemegahan dan estetika tinggi ritual Hindu di Bali, terdapat berbagai sarana upacara atau uparengga yang menyimpan nilai filosofis serta teologis yang sangat mendalam. Salah satu sarana dari anyaman daun kelapa tua (slepan) yang memegang peranan penting dalam menjaga kesucian berbagai ritual sakral adalah Klangsah atau Kelabang.

Dalam pelaksanaan upacara keagamaan (yadnya), klangsah umumnya diaplikasikan secara luas untuk berbagai kebutuhan, mulai dari tembok pembatas areal suci, atap bangunan adat, tenda upacara (tetaring), hingga digunakan sebagai alas tempat meletakkan sesajen.

Menurut Jro Mangku Gede Dana, di balik bentuk fisiknya yang tampak sederhana dan estetis, klangsah memuat pemahaman spiritual mendalam. Pemahaman spiritual tersebut selalu diwujudkan secara nyata oleh umat lewat tradisi nanceb taring (mendirikan tenda bambu beratap anyaman daun kelapa) sebagai langkah awal yang wajib dilakukan sebelum memulai suatu pekerjaan besar atau upacara adat.

Penggunaan daun kelapa sebagai bahan utama pembuatan klangsah karena karakteristik pohon kelapa yang sangat istimewa. Dari bagian akar hingga ujung daunnya yang paling atas bernilai sakral dalam setiap pelaksanaan upacara yadnya. Landasan teologis mengenai kesucian pohon ini juga tersurat dalam buku Makna Upacara Yajña dalam Agama Hindu karya I Ketut Wiana, yang menjelaskan bahwa buah kelapa merupakan simbol dari kepala Dewa Brahma.

Secara teologis, klangsah dipercaya berfungsi sebagai penyengker atau pagar gaib yang memfilter sekaligus menetralisir unsur-unsur negatif secara niskala di lingkungan sekitar. Melansir laman literasi budaya Pustaka Bali (komangputra.com), penggunaan kelabang mengandung makna kekuatan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. "Kelabang diyakini sebagai perpaduan antara kekuatan Asuri sampad dengan kekuatan Brahma (Kala dan abang)," tulis Komang Putra dalam kajian dokumen sastra agama Pustaka Bali.

Dalam praktiknya, Klangsah atau Kelabang diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis berdasarkan bentuk anyaman dan fungsi khususnya. Ada Kelabang Dangap-dangap berbentuk menyerupai binatang sebagai simbol kekuatan Bhuta Kala untuk alas caru, serta Kelabang Wong-wongan menyerupai manusia sebagai simbol status calon pengantin dalam upacara pernikahan (pewiwahan). Selain itu, terdapat Kelabang Taring yang dilengkapi hiasan daun enau muda (ambu) sebagai simbol langit dan peneduh agar pikiran umat yang menjalankan upacara selalu bersih, terang, dan suci.

Proteksi niskala yang lebih spesifik dapat ditemukan pada Kelabang Mantri (Sakti) dan Kelabang Sengkui. Kelabang Mantri dipasang di tembok penyengker untuk menghalangi ancaman gaib seperti desti, teluh, dan terangjana. Sementara Kelabang Sengkui dibuat mengikat mengikuti hitungan urip pecaruan guna menetralisir (nyomia) Bhuta Kala. Pada fase akhir kehidupan, masyarakat Bali juga menggunakan Kelabang Losok dalam ritual Ngaben untuk membungkus sisa tulang belulang (galih) agar terhindar dari pengaruh buruk.

Di tengah arus modernisasi, saat ini muncul tren penggunaan tenda besi atau terpal plastik modern yang dinilai lebih praktis untuk menggelar acara keagamaan. Menyikapi fenomena ini, Jro Mangku Gede Dana menegaskan bahwa tradisi dan modernitas sebenarnya dapat berjalan beriringan melalui pola kolaborasi yang adaptif. Penggunaan tenda modern untuk kenyamanan acara sah-sah saja dilakukan, namun esensi yadnya tetap wajib dijaga dengan memasang klangsah dan taring di titik-titik krusial, seperti di samping penyengker pura atau area utama resepsi.

Pendekatan yang fleksibel ini membuktikan bahwa tradisi Bali senantiasa luwes mengikuti perkembangan zaman tanpa harus kehilangan akar filosofi spiritual dan identitas budayanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....