Mitologi Alang-Alang Pembersih Rohani dan Obat Medis

  • 28 Agt 2026 14:06 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Alang-alang atau Ilalang(Imperata cylindrica), yang selama ini sering kali dianggap sebagai gulma pengganggu di lahan pertanian dan pekarangan, ternyata berperan penting sebagai tanaman upakara di Bali. Tanaman yang dalam bahasa lokal disebut ambengan atau lalang ini bukan sekadar pelengkap ritual biasa, melainkan sebuah media sakral yang wajib hadir dalam berbagai upacara keagamaan.

Kedudukan penting alang-alang ini ditegaskan dalam berbagai kajian sastra agama Hindu salah satunya yang dirilis secara resmi oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI). PHDI mengklasifikasikan alang-alang sebagai tanaman berenergi murni yang memiliki fungsi mutlak sebagai sarana pembersihan dan perlindungan dari kekuatan negatif, spiritual, maupun material.

Kisah kesucian tanaman ini tercatat dalam Kitab Adi Parwa, sebuah epos yang menceritakan peristiwa heroik Pemuteran Mandara Giri. Dalam mitologi tersebut, para Dewa dan Asura (raksasa) bekerja sama mengaduk samudra Ksirarnawa demi mendapatkan Tirta Amerta, air suci atau air keabadian.

Ketika Tirta Amerta berhasil didapatkan, terjadilah pertempuran sengit karena kaum Asura berniat menguasai air suci tersebut. Dewa Wisnu kemudian turun tangan menjelma menjadi Mohini untuk merebut kembali wadah Tirta Amerta namun dalam kekacauan perebutan tersebut, beberapa tetes air keabadian itu jatuh dan membasahi helai-helai daun alang-alang yang tumbuh di daratan.

Melihat tetesan air keabadian berada di atas daun alang-alang, bangsa ular bergegas mendekat dan mencoba menjilati sisa-sisa Tirta Amerta tersebut agar mereka bisa hidup abadi. Namun karena struktur fisik daun alang-alang sangat kaku, tajam, dan memiliki tepian yang bergerigi, lidah para ular tersebut seketika tersayat dan terbelah menjadi dua. Sebuah mitologi yang mendasari mengapa ular memiliki lidah bercabang hingga hari ini.

Meskipun lidah mereka terbelah, bangsa ular tetap mendapatkan berkah sebagian dari khasiat Tirta Amerta yang menempel pada alang-alang, sehingga mereka memiliki kemampuan untuk berganti kulit dan berumur panjang. Peristiwa kosmis inilah yang secara teologis menobatkan alang-alang sebagai tanaman yang sangat disucikan oleh umat Hindu karena telah bersentuhan langsung dengan air suci keabadian.

Dalam praktik ritual sehari-hari di Bali, kesucian alang-alang ini diaplikasikan secara nyata ke dalam pembuatan karawista (ikat kepala suci). Sesuai dengan pedoman banten, karawista wajib dibuat dari tiga helai alang-alang yang dijalin melingkar dengan bagian ujung pucuknya dibiarkan mencuat tegak lurus ke atas sebagai lambang pemusatan pikiran kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Penggunaan tiga helai alang-alang dalam satu ikatan karawista tersebut juga memiliki makna filosofis yang sangat mendalam sebagai representasi dari kekuatan Tri Murti. Helai pertama melambangkan Dewa Brahma sebagai pencipta, helai kedua melambangkan Dewa Wisnu sebagai pemelihara, dan helai ketiga melambangkan Dewa Siwa sebagai pelebur noda duniawi.

Selain dikenakan sebagai ikat kepala saat persembahyangan atau upacara Pewintenan (penyucian diri), potongan alang-alang juga digunakan oleh para pemangku atau sulinggih sebagai alat sasirat. Alat sasirat ini berfungsi untuk memercikkan air suci (tirta) kepada umat dan sarana upakara, karena helai alang-alang dipercaya mampu menghantarkan energi kesucian secara murni tanpa distorsi.

Keberadaan alang-alang sebagai simbol ketahanan hidup yang luar biasa. Secara biologis, alang-alang adalah tanaman yang sangat tangguh, mampu bertahan hidup di tanah yang gersang, bahkan tunas barunya akan tumbuh lebih kuat dan hijau setelah arealnya dibakar atau dilanda kekeringan.

Karakteristik adaptif dan tangguh ini, oleh para leluhur Bali dimaknai sebagai simbol dirghayusa (panjang umur) dan keteguhan iman. Seseorang yang mengenakan karawista diharapkan memiliki jiwa yang kuat, tidak mudah goyah oleh cobaan hidup, dan selalu mampu bangkit dari keterpurukan spiritual.

Tidak hanya sakral secara teologis, bagian akar tanaman alang-alang juga terbukti secara ilmiah kaya akan senyawa bioaktif alami yang efektif meredakan keluhan panas dalam dan berfungsi sebagai diuretik alami. Berdasarkan artikel kesehatan dari Halodoc, kandungan flavonoid di dalam tanaman ini juga berperan aktif dalam menjaga kesehatan pembuluh darah serta membantu menurunkan tekanan darah tinggi.

Melalui pemahaman mitologi, fungsi ritual, dan esensi medis ini, Umat Hindu tidak lagi menilai alang-alang sebagai gulma liar semata, melainkan sebagai apotek hidup sekaligus pemenuhan kebutuhan upacara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....