Sentuhan Estetika dan Landasan Etika Banten

  • 11 Mei 2026 12:46 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja – Dalam tradisi Hindu di Bali, banten adalah bahasa agama, sebuah bentuk komunikasi simbolis antara umat dengan Sang Pencipta.

Secara estetika, banten adalah karya seni tinggi, wujud ketulusan hati untuk mempersembahkan sesuatu yang indah (satyam, siwam, sundaram). Di sisi lain, banten memiliki etika atau aturan yang tertuang dalam berbagai sastra dan Lontar Yadnya. Aturan ini mengatur komposisi, jenis bahan, hingga arah mata angin.

Demi terlihat rapi dan awet (estetika), banyak orang kini beralih menggunakan Staples sebagai pengganti semat (bambu). Bunga plastik atau kertas pengganti bunga segar atau Styrofoam sebagai penyangga agar banten terlihat tegak dan megah.

Secara etika, banten idealnya menggunakan bahan organik yang melambangkan siklus Panca Maha Bhuta (unsur alam). Bahan alami akan kembali ke alam, sedangkan plastik justru menjadi sampah yang mencemari kesucian tempat ibadah.

Serati banten Jro Komang Sugiarta yang akrab disapa Jro Komang Sugik, dalam sebuah Obrolan Budaya RRI Net, Senin, 11 Mei 2026, mengatakan bahwa, konsep Tri Angga dan Hulu Teben adalah prinsip filosofis yang mengatur struktur, penempatan, dan makna simbolis persembahan berupa banten.

Seorang Serati Banten yang bijak adalah mereka yang mampu mengemas aturan sastra ke dalam bentuk yang indah. Banten yang sempurna adalah banten yang dibuat dengan tulus ikhlas, disusun sesuai sastra, disajikan dengan rapi dan indah sesuai etika.

“Sebagai Serati Banten harus benar-benar memperhatikan etika. Misalnya, sebelum mulai membuat banten, harus mandi, yang perempuan pakai kamben, selendang dan rambut diikat. Sebersih apapun canang atau banten yang kita buat, jika kena jatuhan rambut, kena percikan ludah, akan cemer atau kotor. Apalagi kalau saat membuat banten sambil ngegibah. Itu melanggar etika,” ujar Jro Komang Sugik.

Menurut Jro Komang Sugik, konsep Tri Angga, membagi banten ke dalam tiga bagian utama (atas, tengah, bawah) yang melambangkan kesucian dan fungsi simbolis.

Utama (Hulu/Atas) yakni bagian kepala atau simbol pikiran (atman) yang suci, misalnya berupa bunga, canang sari, atau bagian atas dari daksina.

Madia (Tengah) yaitu badan atau simbol kehidupan, misalnya jajanan, buah-buahan, atau nasi (tumpeng).

Nista (Teben/Bawah) adalah bagian kaki atau simbol material penopang. Biasanya berisi perlengkapan dasar banten.

Penempatan banten saat dihaturkan berkaitan dengan arah mata angin yang disebut Hulu Teben. Banten Hulu (Linggastana), seperti banten suci, daksina atau canang sari. Banten Teben, berfungsi sebagai persembahan untuk kekuatan di bawah, misalnya segehan.

Estetika dan etika sebuah banten merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Keindahan visual yang terpancar adalah wujud nyata dari ketulusan hati dan kepatuhan terhadap sastra agama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....