Pentingnya Sastra dan Satwika Ahara dalam Self-Healing
- 05 Mei 2026 14:32 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja – Tren self healing (penyembuhan diri sendiri) melalui praktik yoga kian menjamur di tengah masyarakat modern. Namun, banyak praktisi pemula terjebak pada dimensi fisik semata dan mengabaikan akar filosofis yang tertuang dalam kitab sastra.
Praktisi Yoga, Wayan Muliartha menekankan bahwa yoga tanpa landasan sastra ibarat mengemudi tanpa peta. Menurutnya, kesalahan paling umum saat ini adalah menganggap yoga hanya sebagai teknik peregangan otot untuk mengejar kelenturan tubuh.
"Dalam Yoga Sutras of Patanjali, jelas disebutkan citta vritti nirodhah. Yoga adalah penghentian gelombang pikiran. Jika kita hanya berhenti di olah tubuh, maka penyembuhan yang didapat hanya bersifat permukaan, bukan transformasi kesadaran yang mendalam," ujar Wayan Muliartha melalui sambungan telepon, Selasa, 5 Mei 2026
Ia juga menyoroti pentingnya memahami struktur pikiran yang terdiri dari manas (indra), buddhi (intelek), dan ahamkara (ego). Tanpa bimbingan sastra, seseorang yang merasa sudah melakukan self healing justru berisiko terjebak dalam spiritual ego.
"Banyak yang merasa sudah sembuh dan merasa lebih spiritual, namun kenyataannya masih reaktif dan mudah tersinggung. Itu tandanya yang terobati hanya egonya, bukan jiwanya. Di sinilah pentingnya disiplin Yama dan Niyama atau etika hidup sebelum melangkah jauh ke asana," ucapnya menambahkan.
Wayan Muliartha menyebut bahwa sastra adalah peta kesadaran. Oleh karena itu Ia mengajak anak muda melihat Upanisad atau Bhagavad Gita sebagai panduan praktis untuk mengelola emosi.
"Anak muda mencari ketenangan dan makna hidup. Semua itu sudah ada di sastra. Kecemasan adalah ketidakstabilan rajas, dan depresi adalah dominasi tamas. Sastra memberikan bahasanya, praktik yoga memberikan rasanya," katanya.
Selain olah pikir dan napas, Ia mengingatkan bahwa stabilitas emosi sangat dipengaruhi oleh apa yang masuk ke perut. Konsep Satwika Ahara atau pola makan murni (segar dan ringan) merupakan bahan bakar utama bagi seorang yogi.
Menurutnya, melakukan meditasi tanpa mengatur pola makan adalah hal yang sia-sia. Makanan yang bersifat Rajasik (pedas/berlebihan) memicu gelisah, Tamasik (basi/berat) memicu kemalasan. Sementara Sattvik menghadirkan ketenangan, kejernihan dan welas asih.
"Tubuh yang penuh toksin membuat pikiran berat. Jika pikiran berat, meditasi menjadi sulit. Maka, kesatuan antara asana (tubuh), prana (napas), manas (pikiran), dan sastra (kebijaksanaan) adalah kunci mutlak jika ingin mencapai penyembuhan sejati," ujarnya mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....