Makna Banyu Pinaruh Tradisi Penyucian Diri setelah Saraswati
- 05 Apr 2026 14:51 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja: Perayaan Hari Raya Saraswati yang jatuh pada Saniscara Umanis Wuku Watugunung selalu menjadi momen penting bagi umat Hindu, khususnya di Bali. Hari suci ini dimaknai sebagai turunnya ilmu pengetahuan ke dunia, sehingga umat memuja Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasi Dewi Saraswati sebagai sumber ilmu.
Namun, rangkaian perayaan tidak berhenti sampai di sana. Sehari setelah Saraswati, umat Hindu kembali melaksanakan ritual yang tak kalah bermakna, yaitu Banyu Pinaruh. Hari ini menjadi waktu khusus untuk melakukan penyucian diri, baik secara lahir maupun batin, sebagai bentuk kesiapan menerima dan mengamalkan ilmu pengetahuan yang telah dipuja sehari sebelumnya.
Banyu Pinaruh memiliki dasar yang kuat dalam ajaran lontar, salah satunya tertuang dalam Lontar Sundarigama. Dalam lontar tersebut dijelaskan bahwa pada pagi hari setelah Saraswati, umat dianjurkan untuk membersihkan diri di sumber-sumber air seperti laut, sungai, atau tempat pemandian suci.
Prosesi ini tidak sekadar mandi biasa, melainkan melukat atau penyucian diri menggunakan sarana air yang telah didoakan. Selain itu, umat juga menghaturkan sesajen berupa banten dengan nuansa kuning dan bunga-bunga harum sebagai simbol kesucian dan keharuman pikiran. Warna kuning sendiri melambangkan kebijaksanaan, selaras dengan makna Saraswati sebagai sumber ilmu pengetahuan.
Setelah prosesi melukat dan persembahyangan, ada tradisi unik yang masih dijaga hingga kini, yaitu memakan jaje cecek, jajanan yang bentuknya menyerupai cicak. Tradisi ini bukan sekadar kebiasaan turun-temurun tanpa makna, melainkan memiliki filosofi mendalam. Dalam kepercayaan masyarakat Bali, suara cicak sering dianggap sebagai penegas kebenaran.
Ketika seseorang berbicara dan diiringi suara cicak, hal itu diyakini sebagai pertanda bahwa apa yang diucapkan mengandung kebenaran. Oleh karena itu, jaje cecek menjadi simbol pengingat agar manusia selalu berkata jujur, menjaga ucapan, dan menggunakan ilmu pengetahuan dengan benar. Tradisi ini sekaligus menjadi cara sederhana namun bermakna untuk menanamkan nilai etika dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih dari sekadar ritual, Banyu Pinaruh juga mengandung pesan spiritual yang sangat relevan dengan kehidupan modern. Di tengah kesibukan dan tekanan hidup, momen ini mengajak umat untuk berhenti sejenak, menenangkan pikiran, dan membersihkan diri dari hal-hal negatif.
Air sebagai simbol kehidupan dipercaya mampu menetralisir energi buruk dan mengembalikan keseimbangan batin. Setelah melukat, diharapkan pikiran menjadi lebih jernih dan hati lebih tenang, sehingga ilmu yang diperoleh tidak hanya disimpan, tetapi juga bisa diterapkan dengan bijaksana. Dengan demikian, Banyu Pinaruh bukan hanya tradisi, melainkan refleksi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik, selaras antara pengetahuan, sikap, dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....