Layanan Pendidikan SLB Negeri 1 Buleleng Terbuka tanpa Diskriminasi

  • 19 Agt 2026 08:11 WIB
  •  Singaraja
Poin Utama
  • SLB Negeri 1 Buleleng melayani 175 siswa dengan berbagai jenis ketunaan meliputi tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, serta kebutuhan khusus ganda atau autis.
  • Sekolah memiliki 33 guru yang menangani peserta didik dengan melakukan asesmen individual untuk mengetahui kemampuan dan kebutuhan layanan pendidikan masing-masing siswa.
  • Tantangan utama yang dihadapi adalah beberapa kelas memiliki jumlah siswa yang melebihi rasio ideal, namun sekolah tetap berupaya menyesuaikan pelayanan dengan kebutuhan peserta didik.

RRI.CO.ID, Singaraja - SLB Negeri 1 Buleleng berupaya melayani peserta didik dengan berbagai jenis ketunaan, seperti tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, serta kebutuhan khusus ganda atau autis. Setiap siswa menjalani asesmen untuk mengetahui kemampuan dan kebutuhan layanan pendidikannya.

Saat ini terdapat 33 guru yang melayani sekitar 175 siswa. Kondisi tersebut menjadi tantangan karena beberapa kelas memiliki jumlah siswa melebihi rasio ideal. Sekolah tetap berupaya menyesuaikan pelayanan dengan kebutuhan peserta didik.

Menurut Kepala SLB Negeri 1 Buleleng, Drs. Made Winarsa, pendidikan di SLB tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga keterampilan dan kemandirian. Pembelajaran vokasional diberikan sebagai bekal siswa agar mampu mandiri dan memiliki keterampilan setelah menyelesaikan pendidikan.

Layanan pendidikan di SLB juga tidak dipungut biaya mulai jenjang SD hingga SMA. Bagi siswa yang tinggal jauh dari sekolah, tersedia asrama dan makanan tanpa biaya, dengan syarat siswa telah mampu melakukan aktivitas dasar secara mandiri.

“SLB itu tidak bayar sama sekali. Jadi dari tingkatan SD sampai SMP, SMA itu tidak bayar sama sekali,” ujar Drs. Made Winarsa dalam dialog disabilitas dan inklusi di studio Pro 1 RRI Singaraja.

Drs. Made Winarsa mengatakan, seluruh peserta didik yang membutuhkan layanan pendidikan khusus harus mendapatkan pelayanan tanpa diskriminasi. Dukungan orang tua juga diperlukan agar proses pendidikan dan pembentukan kemandirian anak dapat berjalan optimal.

“Arahnya bagaimana supaya setelah anak itu tamat, bisa mandiri, bisa bekerja,” ucap Drs. Made Winarsa.

Sekolah mengajak masyarakat tidak ragu memberikan akses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, sehingga setiap anak memiliki kesempatan memperoleh pendidikan sesuai kemampuan dan kebutuhannya.

google-preference
Audio
Putar Audio

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....