Asta Brata, Upaya Undiksha Singaraja Rawat Karakter Berbasis Kearifan Lokal

  • 17 Agt 2026 22:39 WIB
  •  Singaraja
Poin Utama
  • Tim pengabdian Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja melaksanakan program 'Asta Brata Character Building' untuk menanamkan nilai-nilai kearifan lokal Bali kepada anak didik di SDN 1 Astina, Kabupaten Buleleng.
  • Kegiatan ini didukung pendanaan dari Program BIMA Tahun Anggaran 2026 yang berasal dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.
  • Program ini dirancang untuk menghadirkan nilai-nilai kearifan lokal Bali tidak hanya melalui tradisi, tetapi juga terintegrasi dalam pendidikan formal di sekolah sehari-hari.

RRI.CO.ID, Singaraja - Nilai-nilai kearifan lokal Bali tidak hanya diwariskan melalui tradisi, tetapi juga dapat dihadirkan dalam keseharian anak melalui pendidikan di sekolah. Hal inilah yang menjadi perhatian tim pengabdian Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja melalui program 'Asta Brata Character

Building' di SDN 1 Astina, Kabupaten Buleleng, Bali.

Kegiatan ini didanai melalui Program BIMA Tahun Anggaran 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek RI). Dukungan pendanaan tersebut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kegiatan untuk mendorong pengembangan inovasi dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Program ini dirancang untuk menguatkan karakter siswa melalui Tujuh Pembiasaan Karakter berbasis nilai Asta Brata, yakni filosofi kepemimpinan Bali yang merefleksikan delapan sifat alam. Nilai tersebut diterjemahkan ke dalam tindakan sederhana yang dapat dilakukan siswa dalam kehidupan sehari-hari, sehingga Asta Brata tidak berhenti sebagai pengetahuan atau hafalan, tetapi menjadi bagian dari perilaku siswa.

Tim pengabdian Undiksha memberikan sosialisasi program Asta Brata Character Building kepada guru SDN 1 Astina (Foto: Dok. Undiksha)

Kolaborasi Tim dengan Kompetensi yang Saling Melengkapi

Kegiatan ini digagas oleh tim pengabdian Undiksha yang terdiri atas Basilius Redan Werang, I Wayan Mudana, dan Fatimatuz Zahrah. Ketiganya membawa kompetensi yang saling melengkapi, mulai dari manajemen pendidikan dan kepemimpinan sekolah, kearifan lokal dan sosial budaya, hingga pendidikan karakter dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

Basilius Redan Werang berperan dalam memimpin koordinasi program, mengelola hubungan kemitraan dengan SDN 1 Astina, memvalidasi penguatan karakter, serta memimpin evaluasi dan pelaporan program. I Wayan Mudana berkontribusi dalam penyusunan substansi kearifan lokal Asta Brata dan memberikan penguatan terhadap nilai-nilai filosofis kepemimpinan Bali. Sementara itu, Fatimatuz Zahrah berperan dalam merancang instrumen pembiasaan karakter, menyusun modul implementasi Asta Brata untuk siswa SD, memfasilitasi refleksi karakter, serta mengelola media pendukung program.

Berangkat dari Tantangan Pendidikan Karakter di Bali

Perkembangan zaman membawa tantangan baru dalam upaya menanamkan karakter dan nilai-nilai budaya kepada generasi muda. Arus globalisasi dan digitalisasi membuat anak-anak semakin mudah berinteraksi dengan berbagai informasi, budaya, dan nilai dari luar lingkungan sosialnya. Di sisi lain, pendidikan karakter perlu tetap berpijak pada nilai-nilai lokal agar generasi muda memiliki identitas budaya yang kuat dan mampu menerapkan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Tantangan yang dihadapi saat ini adalah bagaimana nilai-nilai filosofis tersebut dapat

diterjemahkan ke dalam bentuk yang sederhana, konkret, dan dekat dengan kehidupan anak. Asta

Brata tidak cukup hanya dikenalkan sebagai pengetahuan atau bagian dari pembelajaran budaya, tetapi perlu dihadirkan melalui pengalaman dan pembiasaan agar anak dapat memahami maknanya sekaligus mempraktikkannya.

Atas dasar tersebut, program Asta Brata Character Building dikembangkan sebagai upaya menghadirkan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal Bali melalui Tujuh Pembiasaan Karakter. Program ini dilaksanakan di SDN 1 Astina sebagai ruang implementasi, dengan harapan nilai-nilai Asta Brata dapat menjadi bagian dari kebiasaan siswa dan selanjutnya berkontribusi pada penguatan budaya karakter di lingkungan sekolah.

Tim pengabdian Undiksha menerapkan program Asta Brata Character Building kepada siswa SDN 1 Astina (Foto: Dok. Undiksha)

Lima Rangkaian Kegiatan

Pelaksanaan program dilakukan melalui lima tahapan utama yang dirancang secara berkelanjutan.

Pertama, sosialisasi program. Tim pengabdian memperkenalkan program Asta Brata Character

Building kepada guru dan pihak sekolah. Sosialisasi menjadi tahap awal untuk membangun pemahaman bersama mengenai tujuan, manfaat, serta mekanisme penerapan Tujuh Pembiasaan Karakter berbasis Asta Brata.

Kedua, pelatihan Tujuh Pembiasaan Karakter berbasis Asta Brata.

Pada tahap ini, guru dan siswa diperkenalkan pada konsep serta praktik Tujuh Pembiasaan

Karakter berbasis Asta Brata. Pembiasaan dilakukan secara sederhana dan menyenangkan melalui instruksi singkat, simulasi, gerak kinetik, serta afirmasi positif. Kegiatan dirancang untuk hadir dalam rutinitas sekolah, antara lain pada pagi hari sebelum pembelajaran, saat jeda istirahat, dan sebelum siswa pulang. Dengan cara tersebut, nilai Asta Brata diharapkan dapat hadir secara konsisten dalam aktivitas siswa tanpa mengganggu pembelajaran inti.

Ketiga, penerapan teknologi dan media inovatif.

Program ini didukung berbagai media untuk membantu siswa memahami dan mempraktikkan nilai Asta Brata. Salah satunya adalah E-Modul Interaktif 'Tujuh Pembiasaan Karakter Asta Brata' yang memadukan narasi nilai filosofis dengan instruksi praktik harian yang mudah dipahami siswa. Selain itu, dikembangkan 'The Voice of Asta Brata' yaitu sistem audio afirmasi yang menggunakan rekaman suara untuk merepresentasikan nilai-nilai Asta Brata. Program juga dilengkapi dengan Asta Brata Wall of Character sebagai media apresiasi serta penyimpanan berbasis cloud untuk mendukung akses terhadap berbagai instrumen program.

Keempat, pendampingan dan evaluasi.

Guru mendapatkan pendampingan secara berkelanjutan dalam menerapkan Tujuh Pembiasaan Karakter berbasis Asta Brata di lingkungan sekolah. Pendekatan peer-to-peer digunakan agar guru dapat saling mendukung dalam menerapkan pembiasaan dan mengintegrasikannya ke dalam aktivitas pembelajaran. Evaluasi dilakukan melalui survei, wawancara, dan observasi langsung untuk melihat pemahaman peserta serta penerapan pendidikan karakter berbasis Asta Brata. Evaluasi juga digunakan untuk mengidentifikasi bagian yang perlu diperbaiki dan menyusun

strategi keberlanjutan program.

Kelima, tindak lanjut dan keberlanjutan program.

Program dirancang agar tidak berhenti pada kegiatan pelatihan. Bersama pihak sekolah, tim

menyusun rencana tindak lanjut agar pembiasaan Asta Brata dapat menjadi bagian dari budaya sekolah. Salah satu inovasi yang disiapkan adalah Asta Brata Tracker, sebuah instrumen monitoring yang dirancang untuk merekam perkembangan perilaku siswa secara berkala. Instrumen tersebut memungkinkan guru dan orang tua memantau perkembangan internalisasi nilai Asta Brata sekaligus memberikan umpan balik terhadap perilaku siswa.

Tim pengabdian Undiksha menerapkan program Asta Brata Character Building kepada siswa SDN 1 Astina (Foto: Dok. Undiksha)

Dari Filosofi Menjadi Kebiasaan

Salah satu kekuatan program ini terletak pada upaya menerjemahkan filosofi Asta Brata menjadi tindakan yang dekat dengan kehidupan siswa. Ajaran yang selama ini berpotensi dipahami sebagai konsep filosofis diterjemahkan menjadi pembiasaan sederhana. Misalnya, nilai yang direpresentasikan melalui sifat alam digunakan sebagai inspirasi bagi siswa untuk membangun kebiasaan bertutur kata yang baik, menunjukkan kepedulian, menjaga kedisiplinan, serta membangun etika dalam berinteraksi dengan orang lain. Pendekatan tersebut diharapkan membuat siswa tidak hanya mengetahui nilai Asta Brata, tetapi juga mengalami, mempraktikkan, dan membiasakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Melibatkan Guru sebagai Agen Perubahan

Guru memiliki posisi penting dalam keberlanjutan program. Dalam rancangan pengabdian, guru tidak hanya menjadi peserta pelatihan, tetapi juga diharapkan menjadi agen perubahan yang menerapkan keterampilan dan pengetahuan yang diperoleh dalam praktik pengajaran sehari-hari.

Dengan dukungan guru, nilai Asta Brata diharapkan dapat diterapkan secara konsisten di lingkungan sekolah sekaligus diperluas melalui keterlibatan orang tua. Program juga merancang mekanisme komunikasi dengan paguyuban orang tua agar pembiasaan karakter tidak berhenti ketika siswa meninggalkan lingkungan sekolah.

Melalui program ini, Undiksha berupaya menghadirkan pendidikan karakter yang berakar pada budaya lokal sekaligus relevan dengan tantangan pendidikan masa kini. Asta Brata tidak hanya diperkenalkan sebagai warisan nilai, tetapi dihidupkan melalui kebiasaan kecil yang dilakukan siswa setiap hari. Dengan demikian, penguatan karakter berbasis kearifan lokal diharapkan dapat membentuk siswa yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga memiliki integritas, etika, kepedulian, dan jati diri budaya dalam menghadapi perubahan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....