Akses Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus di Buleleng Masih Hadapi Tantangan

  • 14 Agt 2026 05:33 WIB
  •  Singaraja
Poin Utama
  • Akses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di Kabupaten Buleleng masih menghadapi tantangan utama berupa keterbatasan tenaga pendidik dan akses menuju sekolah luar biasa.
  • Kepala SLB Negeri 1 Buleleng mengungkapkan meningkatnya jumlah siswa yang membutuhkan pelayanan khusus memaksa sekolah untuk menyesuaikan kapasitas ruang belajar dan ketersediaan pendidik.
  • Permasalahan ini mencerminkan kebutuhan mendesak untuk peningkatan sumber daya manusia dan infrastruktur pendidikan khusus di wilayah Buleleng.

RRI.CO.ID, Singaraja – Akses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di Kabupaten Buleleng masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama keterbatasan tenaga pendidik dan akses menuju sekolah luar biasa (SLB).

Kepala SLB Negeri 1 Buleleng, Drs. Made Winarsa, mengatakan meningkatnya jumlah siswa yang membutuhkan pelayanan khusus membuat sekolah harus menyesuaikan kapasitas ruang belajar dan tenaga pendidik.

Menurutnya, tahun ini SLB Negeri 1 Buleleng mendapatkan tambahan enam ruang kelas yang dibangun dalam dua lantai. Penambahan tersebut diharapkan mampu meningkatkan pelayanan pendidikan bagi siswa.

“Totalnya sekali ada enam kelas dibuat. Dan saya yakin setelah dibangun enam kelas itu, berarti anak-anak kami cukup untuk mendapat pelayanan yang dibutuhkan,” ujar Made Winarsa.

Namun demikian, kebutuhan guru dengan latar belakang pendidikan luar biasa masih menjadi tantangan. Terlebih, terdapat siswa yang membutuhkan pendampingan khusus, seperti anak dengan autisme dan hiperaktif.

Wakasek Bidang Kesiswaan SLB Negeri 1 Buleleng, Made Vica Erchynta, S.Pd., M.Pd., menambahkan bahwa akses geografis juga menjadi kendala karena SLB masih banyak berada di wilayah perkotaan. Kondisi tersebut membuat sebagian anak harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk bersekolah.

Selain itu, keterbatasan guru membuat jumlah siswa dalam satu kelas terkadang melebihi kapasitas ideal. Sekolah kemudian menerapkan sistem pembelajaran dalam dua sesi agar pelayanan kepada siswa tetap berjalan optimal.

Pihak sekolah berharap dukungan pemerintah, keluarga, dan masyarakat terus diperkuat agar anak berkebutuhan khusus mendapatkan hak pendidikan yang setara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....