Aktualisasi Kearifan Lokal Bali Jadi Fondasi Etika Remaja di Era Digital
- 07 Agt 2026 06:32 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat membawa perubahan besar dalam kehidupan remaja, mulai dari cara berkomunikasi, belajar, hingga membangun relasi sosial. Di balik berbagai kemudahan yang ditawarkan, ruang digital juga menghadirkan tantangan berupa penyebaran informasi palsu, perundungan siber, ujaran kebencian, hingga menurunnya etika dalam berinteraksi. Karena itu, aktualisasi kearifan lokal Bali dinilai menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter dan etika generasi muda.
Dosen Institut Agama Hindu Mpu Kuturan Singaraja, Ni Made Yunitha Asri Diantary, M.Ag, saat mengisi Dialoq Religi Pagi di PRO 1 RRI Singaraja, Jumat 7/8/2026 mengatakan bahwa nilai-nilai luhur yang hidup dalam masyarakat Bali memiliki relevansi yang kuat dalam menjawab tantangan era digital. Menurutnya, generasi muda tidak cukup hanya dibekali kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga harus memiliki landasan moral yang kokoh.
"Remaja saat ini adalah generasi digital yang sangat dekat dengan media sosial dan teknologi. Namun, kecakapan digital harus berjalan beriringan dengan kecakapan moral. Nilai-nilai kearifan lokal Bali dapat menjadi kompas etika agar mereka mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab," ujarnya.
Ia menjelaskan, konsep Tri Kaya Parisudha, yang mengajarkan berpikir, berkata, dan berbuat yang baik, sangat relevan diterapkan dalam aktivitas di ruang digital. Sebelum mengunggah, membagikan, atau memberikan komentar di media sosial, seseorang perlu mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain.
"Tri Kaya Parisudha mengingatkan kita untuk menyaring setiap pikiran, ucapan, dan tindakan. Prinsip ini sangat penting agar remaja tidak mudah menyebarkan hoaks, melakukan perundungan siber, ataupun menyampaikan komentar yang menyakiti orang lain," jelasnya.
Selain itu, nilai Tat Twam Asi juga dinilai mampu menumbuhkan empati dalam berinteraksi di dunia maya. Menurut Yunitha, kesadaran bahwa setiap orang memiliki martabat yang sama akan mendorong remaja lebih menghargai perbedaan pendapat dan menjaga komunikasi yang santun.
Ia menambahkan bahwa penguatan karakter berbasis budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga memerlukan peran keluarga, desa adat, serta lingkungan masyarakat. Pendidikan karakter akan lebih efektif apabila nilai-nilai budaya dipraktikkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
"Budaya Bali bukan sekadar warisan yang dipelajari dalam teori, melainkan harus dihidupkan dalam perilaku sehari-hari. Ketika nilai budaya menjadi kebiasaan, remaja akan memiliki ketahanan moral dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif di era digital," katanya.
Menurutnya, perkembangan teknologi justru dapat dimanfaatkan sebagai media untuk melestarikan budaya Bali. Remaja dapat membuat konten edukatif tentang tradisi, bahasa, seni, maupun filosofi kehidupan masyarakat Bali sehingga budaya lokal tetap dikenal dan berkembang di kalangan generasi muda.
Yunitha berharap generasi muda Bali mampu menjadi pengguna teknologi yang cerdas, kreatif, sekaligus beretika. Dengan menjadikan kearifan lokal sebagai pedoman, transformasi digital tidak akan mengikis identitas budaya, melainkan menjadi ruang untuk memperkuat nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....