Pengelolaan Sampah Plastik di Buleleng Belum Optimal, Perlu Penguatan Ekosistem
- 15 Apr 2026 21:45 WIB
- Singaraja
Poin Utama
- Pengelolaan Sampah Plastik
- Buleleng
- Belum Optimal
- Perlu Penguatan Ekosistem
RRI.CO.ID, Singaraja – Pengelolaan sampah plastik di Kabupaten Buleleng dinilai belum optimal dan masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari infrastruktur hingga rendahnya kesadaran masyarakat. Hal tersebut disampaikan Owner Rumah Plastik Singaraja, Putu Eka Darmawan.
Eka mengungkapkan bahwa salah satu kendala utama adalah belum jelasnya pembagian peran antar pihak dalam pengelolaan sampah. Selama ini, beban pengelolaan cenderung ditumpukan pada desa atau TPS3R, padahal kapasitasnya terbatas.
“Tidak bisa semua dibebankan ke satu titik. Harus ada pembagian tugas yang jelas, mulai dari masyarakat, TPS, hingga pemerintah kabupaten,” katanya.
Ia menjelaskan, idealnya masyarakat bertugas memilah sampah dari sumber, TPS3R fokus pada pemilahan dan pengolahan awal, sementara pengolahan lanjutan seperti plastik dan residu ditangani di tingkat kabupaten.
Selain itu, perbedaan karakteristik wilayah juga menjadi tantangan. Menurutnya, solusi pengelolaan sampah tidak bisa disamaratakan karena setiap daerah memiliki kondisi geografis, jumlah, dan jenis sampah yang berbeda.
“Solusi di Buleleng tidak bisa disamakan dengan Bali Selatan. Kondisinya berbeda, jadi pendekatannya juga harus berbeda,” ucapnya.
Ia juga menagatakan bahwa peluang ekonomi dari sampah plastik sebenarnya cukup besar, namun belum tergarap maksimal. Salah satu penyebabnya adalah belum terbentuknya ekosistem yang mendukung, termasuk regulasi dan kepastian sistem pengelolaan.
Eka menyebut minat investor terhadap sektor pengelolaan sampah sebenarnya cukup tinggi. Namun, banyak yang masih ragu untuk masuk karena ekosistem di daerah dinilai belum siap.
“Investor itu butuh kepastian. Kalau sistemnya belum jelas, regulasi belum kuat, mereka pasti berpikir dua kali,” ujarnya.
| Baca juga: Bali Masuki Kemarau, BPBD Keluarkan Waspada |
Ia menambahkan, pendekatan ekonomi tetap menjadi kunci dalam pengelolaan sampah, termasuk melalui kegiatan daur ulang dan pembuatan produk kreatif. Meski skalanya masih kecil, langkah ini dinilai penting sebagai bagian dari edukasi masyarakat.
Eka mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan sampah, tidak hanya mengandalkan satu pihak saja.
“Masalah sampah ini tanggung jawab bersama. Harus ada kolaborasi dan pembagian tugas yang jelas agar bisa diselesaikan secara berkelanjutan,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....