Toleransi di Media Sosial Masih Rendah, Netizen Cenderung Kejar Sensasi
- 31 Mar 2026 21:46 WIB
- Singaraja
Poin Utama
- Toleransi
- Media Sosial
- Netizen
- Sensasi
RRI.CO.ID, Singaraja – Tingkat toleransi dalam interaksi di media sosial dinilai masih rendah. Fenomena ini dipengaruhi oleh kecenderungan pengguna yang lebih tertarik pada konten sensasional dibandingkan konten edukatif.
Penyuluh agama hindu Kemenag Kabupaten Buleleng, Ida Bagus Teguh Piadnyana, mengungkapkan bahwa konten yang bersifat kontroversial atau “nyeleneh” justru lebih mudah menarik perhatian publik.
“Kalau membuat konten edukasi seperti ceramah, responsnya kecil. Tapi ketika dikemas dengan cara yang kontroversial, justru bisa mendapatkan ribuan respons,” ucapnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa algoritma media sosial cenderung memperkuat konten yang memancing reaksi, baik positif maupun negatif. Akibatnya, ruang digital sering dipenuhi perdebatan, bahkan ujaran yang berpotensi melanggar nilai toleransi.
Selain itu, kebebasan berekspresi di dunia maya kerap disalahgunakan. Banyak pengguna yang langsung berkomentar tanpa melalui proses berpikir yang matang, sehingga memicu konflik dan kesalahpahaman.
Dalam perspektif nilai keagamaan, perilaku tersebut dinilai bertentangan dengan prinsip dasar seperti berpikir baik, berkata baik, dan berbuat baik. Pengendalian diri menjadi faktor utama dalam menjaga interaksi yang sehat di media sosial.
Tidak hanya itu, maraknya penyebaran informasi yang belum terverifikasi juga menjadi tantangan serius. Masyarakat diimbau untuk tidak mudah membagikan informasi tanpa memastikan kebenarannya terlebih dahulu.
“Seringkali orang membagikan sesuatu yang bahkan belum dia pahami sepenuhnya. Ini yang memicu disinformasi,” katanya.
Untuk itu, diperlukan kesadaran kolektif dalam membangun budaya digital yang lebih sehat. Pengguna media sosial diharapkan tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menjadi penyaring dan penyebar konten yang positif.
Melalui dialog ini, masyarakat diajak untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial, serta menjadikan ruang digital sebagai sarana membangun toleransi, bukan justru memperuncing perbedaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....