Saring sebelum Sharing, Kunci Menjaga Wiweka di Era Media Sosial

  • 07 Agt 2026 06:21 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Kemudahan mengakses informasi di media sosial harus diimbangi dengan kebijaksanaan dalam menyaring setiap berita yang diterima. Tanpa sikap kritis, masyarakat berisiko menjadi korban sekaligus penyebar informasi yang belum tentu benar. Fenomena ini sering terjadi, bahkan banyak masyarakat yang dengan mudah terjebak berita Hoax lewat media sosial.

Hal tersebut disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, I Komang Ardana, S.Sos., saat menjadi narasumber dialog mengenai pentingnya menjaga Wiweka di zaman Kaliyuga.

Menurutnya, salah satu penerapan Wiweka yang paling sederhana adalah memverifikasi setiap informasi sebelum mempercayai ataupun membagikannya kepada orang lain.

"Sekarang bukan lagi 'mulutmu harimaumu', tetapi 'jarimu harimaumu'. Karena itu, sebelum membagikan informasi, kita harus memastikan terlebih dahulu apakah informasi tersebut benar atau tidak," ujarnya.

Ia menuturkan, masyarakat sering kali hanya membaca judul atau melihat potongan video tanpa memahami keseluruhan isi. Akibatnya, emosi mudah tersulut dan penilaian menjadi keliru.

Karena itu, ia mengajak masyarakat membiasakan diri membaca informasi secara utuh, menelusuri sumbernya, serta mengendalikan emosi sebelum memberikan tanggapan.

Selain itu, Komang Ardana menegaskan bahwa Wiweka juga harus dibangun melalui penguatan nilai-nilai spiritual. Salah satunya dengan mempelajari kitab suci yang berisi ajaran tentang dharma dan etika kehidupan.

"Di dalam kitab suci banyak sekali tuntunan yang mengajarkan bagaimana berpikir benar, berbicara benar, dan bertindak benar. Semua itu menjadi bekal agar kita tidak mudah diprovokasi," jelasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya melakukan introspeksi atau mulat sarira sebagai kebiasaan sehari-hari. Dengan mengevaluasi diri sebelum bertindak, seseorang akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Menurutnya, menjaga Wiweka bukan hanya tanggung jawab tokoh agama, melainkan seluruh masyarakat agar ruang digital menjadi lebih sehat, damai, dan penuh sikap saling menghormati. Masyarakat wajib memilah informasi dan mencari kebenaran dari informasi yang di dapat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....