Wiweka, Benteng Moral Menghadapi Arus provokasi si Zaman Kaliyuga
- 07 Agt 2026 06:18 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap dibumbui hoaks, fitnah, hingga provokasi, masyarakat diajak kembali menghidupkan nilai Wiweka, yakni kemampuan membedakan mana yang benar dan salah, sebagai benteng menghadapi tantangan zaman Kaliyuga. Wiweka mengajarkan seseorang untuk selalu asah, asih dan asuh dengan sesama.
Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, Ni Made Budi Yasmini, S.Sos., dalam dialog interaktif bertajuk Menjaga Wiweka di Zaman Kaliyuga: Seni Mengendalikan Diri, Merawat Akal Jernih, dan Menolak Provokasi.
Menurutnya, tantangan terbesar manusia saat ini bukan sekadar kurangnya pengetahuan, melainkan kemampuan menjaga kejernihan pikiran ketika menerima berbagai informasi.
"Wiweka adalah kemampuan membedakan mana yang benar dan salah, mana yang bermanfaat dan merugikan, mana yang dharma dan adharma. Kemampuan itu lahir dari pikiran yang jernih dan hati yang tenang. Ketika pikiran tidak tenang, kita akan sangat mudah dipengaruhi dan diprovokasi," ujarnya.
Ia menjelaskan, zaman Kaliyuga ditandai dengan kondisi ketika kebenaran sering kali tampak samar. Informasi yang belum utuh kerap dipercaya begitu saja, bahkan memicu konflik di tengah masyarakat. Maka dari itu, masyarakat diharapkan mencerna dengan baik setiap informasi yang di dapat.
Fenomena tersebut semakin terasa di era media sosial dan kecerdasan buatan (AI), ketika video maupun gambar dapat dimanipulasi sehingga sulit dibedakan dengan kenyataan.
"Sering kali orang baru melihat sepenggal video sudah marah dan langsung menyimpulkan sesuatu. Padahal belum tentu informasi itu benar secara utuh," katanya.
Karena itu, masyarakat diajak membiasakan diri melakukan mulat sarira atau introspeksi sebelum mengambil keputusan maupun menyebarkan informasi. Menurutnya, Wiweka tidak hanya berkaitan dengan kecerdasan intelektual, tetapi juga kemampuan mengendalikan pikiran dan hati.
Ia menambahkan, ajaran Hindu seperti Tri Kaya Parisudha, Tat Twam Asi, serta berbagai tuntunan dalam Bhagawad Gita tetap relevan menjadi pedoman kehidupan modern.
"Orang pintar belum tentu memiliki Wiweka. Yang dibutuhkan adalah kemampuan mengelola pikiran sehingga setiap tindakan selalu didasari pertimbangan yang benar," tegasnya.
Melalui penerapan Wiweka, masyarakat diharapkan mampu menjaga keharmonisan keluarga, lingkungan, dan kehidupan bermasyarakat sekaligus tidak mudah terjebak dalam arus provokasi yang semakin masif di era digital. Mengingat dunia digitalisasi sekarang sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....