Penyakit Apa Saja yang Bisa Muncul akibat Kabut Asap?
- 05 Okt 2026 08:37 WIB
- Serui
RRI.CO.ID, Serui - Kabut asap bukan sekadar mengganggu jarak pandang. Paparan asap dalam waktu singkat maupun berulang dapat memengaruhi kesehatan, terutama sistem pernapasan. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan dan jantung perlu lebih waspada ketika kualitas udara memburuk.
Kabut asap biasanya mengandung campuran partikel halus dan berbagai zat pencemar hasil pembakaran. Salah satu yang paling berisiko bagi kesehatan adalah partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke saluran pernapasan.
Ketika terhirup, polutan tersebut dapat menyebabkan iritasi hingga memperburuk penyakit yang sebelumnya sudah dimiliki seseorang. Berikut sejumlah gangguan kesehatan yang dapat muncul akibat paparan kabut asap.
1. Infeksi dan iritasi saluran pernapasan
Paparan asap dapat mengiritasi hidung, tenggorokan, dan saluran pernapasan. Kondisi ini dapat ditandai dengan batuk, tenggorokan terasa perih, hidung berair, suara serak, hingga rasa tidak nyaman ketika bernapas.
Jika paparan berlangsung terus-menerus, iritasi dapat menjadi lebih berat dan meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan.
2. Asma kambuh
Bagi penderita asma, kualitas udara yang buruk dapat menjadi salah satu pemicu munculnya gejala. Partikel dan zat pencemar di udara dapat membuat saluran pernapasan menjadi lebih sensitif dan menyempit.
Gejalanya antara lain sesak napas, batuk, serta munculnya suara mengi. Penderita asma sebaiknya membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kabut asap sedang pekat dan mengikuti pengobatan yang telah dianjurkan tenaga kesehatan.
3. Bronkitis
Bronkitis merupakan peradangan pada saluran bronkus yang membawa udara menuju paru-paru. Polusi dan asap dapat memperberat iritasi saluran pernapasan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat gangguan paru.
Batuk yang disertai dahak, rasa tidak nyaman di dada, dan kesulitan bernapas merupakan beberapa gejala yang dapat muncul.
4. Penyakit paru obstruktif kronis
Orang yang memiliki penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dapat mengalami kondisi yang lebih buruk ketika terpapar udara tercemar. Kabut asap dapat memperberat sesak napas dan memicu kekambuhan.
Dengan demikian, penderita PPOK perlu mengawasi kualitas udara dan berupaya menghindari asap sebisa mungkin.
5. Pneumonia
Paparan polusi udara dapat mengganggu pertahanan alami sistem pernapasan sehingga seseorang lebih rentan mengalami gangguan paru. Jika tidak ditangani, infeksi dapat berlanjut menjadi pneumonia.
Pneumonia dapat menimbulkan demam, batuk, nyeri dada, napas cepat, dan sesak. Anak-anak dan lansia termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih karena memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi.
6. Gangguan pada jantung dan pembuluh darah
Efek kabut asap meluas, bukan sekadar mengenai organ pernapasan. Partikel halus yang terhirup dapat memengaruhi sistem kardiovaskular, terutama pada orang yang sudah memiliki penyakit jantung atau faktor risiko lainnya.
Paparan polusi udara dapat meningkatkan beban kerja jantung dan berhubungan dengan meningkatnya risiko gangguan kardiovaskular, khususnya bila paparan terjadi berulang atau dalam konsentrasi tinggi.
7. Iritasi mata dan kulit
Kabut asap juga dapat menyebabkan mata terasa perih, merah, berair, atau gatal. Sebagian orang juga dapat mengalami iritasi pada kulit setelah terpapar udara yang tercemar.
Keluhan biasanya lebih terasa ketika konsentrasi asap meningkat atau seseorang berada di luar ruangan dalam waktu lama.
Siapa yang Paling Rentan?
Dampak kabut asap dapat berbeda pada setiap orang. Namun, beberapa kelompok memiliki risiko lebih besar mengalami gangguan kesehatan, antara lain:
- Anak-anak dan bayi.
- Lansia.
- Ibu hamil.
- Penderita asma dan PPOK.
- Orang dengan penyakit jantung.
- Orang yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
- Pekerja yang terpapar asap dalam waktu lama.
Cara Mengurangi Risiko Terpapar Kabut Asap
Masyarakat dapat melakukan sejumlah langkah sederhana ketika kualitas udara memburuk. Kurangi aktivitas di luar ruangan, terutama saat konsentrasi asap sedang tinggi. Gunakan masker yang sesuai ketika harus berada di luar, tutup pintu dan jendela jika kondisi udara di luar sangat buruk, serta perhatikan informasi kualitas udara dari sumber resmi.
Orang yang memiliki penyakit kronis sebaiknya memastikan obat rutin tetap tersedia dan mengikuti anjuran dokter. Jika muncul sesak napas berat, nyeri dada, sulit bernapas, atau kondisi kesehatan memburuk secara tiba-tiba, segera cari pertolongan medis.
Kabut asap perlu dipandang sebagai persoalan kesehatan, bukan hanya masalah lingkungan. Semakin lama dan semakin tinggi paparan polutan, semakin besar pula potensi dampaknya terhadap tubuh. Karena itu, menjaga kualitas udara dan mengurangi paparan menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....