Kerokan Aman Tidak untuk Kesehatan? Yuk Simak Penjelasannya!

  • 01 Feb 2026 08:57 WIB
  •  Serui

RRI.CO.ID, Serui - Kerokan sudah jadi “ritual” yang sangat akrab di Indonesia. Saat badan terasa tidak enak, meriang, kembung, atau pegal-pegal, banyak orang langsung minta dikerok. Garis-garis merah di punggung sering dianggap tanda bahwa “masuk angin” sedang keluar.

Tapi di balik kebiasaan turun-temurun ini, muncul pertanyaan: sebenarnya kerokan itu aman nggak sih untuk kesehatan?

1. Apa yang sebenarnya terjadi saat kerokan?

Kerokan biasanya dilakukan dengan mengoleskan minyak (kayu putih, telon, atau balsem) lalu menggosok kulit menggunakan koin atau benda tumpul lainnya. Gesekan ini menyebabkan pelebaran pembuluh darah kecil di bawah kulit, sehingga muncul warna merah keunguan.

Secara medis, garis merah itu bukan “angin keluar”, melainkan memar ringan (petechiae atau ecchymosis) akibat pecahnya pembuluh darah kapiler kecil di permukaan kulit. Meski terdengar menyeramkan, pada orang sehat kondisi ini umumnya tidak berbahaya dan bisa hilang sendiri dalam beberapa hari.

2. Kenapa setelah kerokan badan terasa lebih enakan?

Ada beberapa alasan kenapa banyak orang merasa lebih baik setelah kerokan:

• Efek hangat dari minyak membantu merilekskan otot

• Pijatan dan gesekan meningkatkan aliran darah di area tersebut

• Tubuh melepaskan endorfin, zat alami yang membantu mengurangi rasa tidak nyaman

• Ada juga faktor psikologis — karena sudah terbiasa, tubuh merasa lebih lega setelah dikerok

Jadi, rasa enak setelah kerokan itu nyata dirasakan, walau bukan berarti semua keluhan benar-benar “disembuhkan”.

3. Kapan kerokan tergolong aman?

Kerokan relatif aman jika dilakukan dengan benar dan pada orang yang kondisi kesehatannya baik. Misalnya untuk keluhan ringan seperti:

• Pegal otot

• Masuk angin (kembung, meriang tanpa demam tinggi)

• Badan terasa capek atau tidak enak badan ringan

Namun, tetap harus dilakukan dengan tekanan wajar. Kerokan yang terlalu keras bisa menyebabkan luka kulit, nyeri berlebihan, atau memar yang luas.

4. Siapa yang sebaiknya tidak kerokan?

Kerokan tidak disarankan untuk orang dengan kondisi berikut:

• Punya gangguan pembekuan darah

• Sedang minum obat pengencer darah

• Kulit sangat sensitif, luka, infeksi kulit, atau eksim

• Anak kecil dan lansia dengan kulit sangat tipis

• Orang dengan penyakit serius tapi mengira hanya “masuk angin”

Pada kondisi tersebut, kerokan bisa menyebabkan memar parah, perdarahan di bawah kulit, atau iritasi berat.

5. Kerokan bukan pengganti pemeriksaan medis

Ini yang penting banget. Banyak gejala penyakit serius awalnya mirip “masuk angin”, misalnya:

• Demam tinggi

• Nyeri dada

• Sesak napas

• Mual muntah hebat

• Nyeri perut hebat

Kalau keluhan seperti ini muncul, jangan hanya mengandalkan kerokan. Segera periksa ke tenaga medis karena bisa jadi itu tanda infeksi, gangguan jantung, atau masalah organ lain.

6. Tips kerokan yang lebih aman

Kalau tetap ingin kerokan, lakukan dengan lebih bijak:

• Gunakan alat yang bersih

• Oleskan minyak agar kulit tidak lecet

• Jangan mengerok terlalu keras atau terlalu lama

• Hindari area tulang menonjol, luka, atau kulit iritasi

• Hentikan jika terasa sangat sakit

Kerokan adalah bagian dari budaya dan bagi banyak orang memang membantu meredakan rasa tidak nyaman ringan. Pada orang sehat dan dilakukan dengan benar, kerokan umumnya aman, meski tetap menimbulkan memar ringan di kulit.

Tapi ingat, kerokan bukan solusi untuk semua keluhan. Jika gejala berat, tidak membaik, atau disertai demam tinggi dan nyeri hebat, sebaiknya jangan menunda untuk mencari pertolongan medis.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....