Balai Rehab BNN Temukan Anak SMA Hafal Obat-obatan tertentu

  • 19 Mei 2026 19:00 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Balai Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Tanah Merah Samarinda mengungkap fenomena baru penyalahgunaan obat-obatan tertentu atau OOT di kalangan remaja. Sejumlah pelajar bahkan disebut sudah mengenal jenis, dosis hingga cara memperoleh obat-obatan tertentu secara ilegal.

Kepala Balai Rehabilitasi BNN Tanah Merah Samarinda Bambang Styawan mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan penyalahgunaan zat kini semakin dekat dengan kehidupan pelajar dan generasi muda.

“Anak-anak sekarang ini sudah tahu nama obat, dosis, bahkan tahu beli di mana. Itu yang membuat kami khawatir,” katanya dalam kegiatan Aksi Nasional Pencegahan Penyalahgunaan OOT dan Peran APBN dalam Pengawasan OOT di Aula Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Samarinda, Selasa 19 Mei 2026.

BACA JUGA: https://rri.co.id/samarinda/kesehatan/2425328/bnn-ungkap-modus-baru-remaja-mabuk-pakai-gas-tawa?nocache=true

Menurut Bambang, banyak remaja mengenal obat tertentu dari lingkungan pergaulan dan media sosial. Informasi mengenai efek obat, cara penggunaan hingga istilah-istilah jalanan kini mudah ditemukan di internet maupun percakapan antar teman sebaya.

Ia menilai, kondisi tersebut jauh lebih berbahaya dibanding beberapa tahun lalu karena akses informasi dan transaksi obat ilegal kini semakin terbuka.

“Dulu orang harus kenal bandar. Sekarang cukup lewat media sosial atau teman tongkrongan,” ujarnya.

Bambang menjelaskan, jenis OOT yang paling sering disalahgunakan di antaranya tramadol, triheksifenidil, dextromethorphan hingga obat penenang tertentu.

Obat-obatan tersebut sebenarnya digunakan untuk kepentingan medis dengan pengawasan dokter. Namun ketika dikonsumsi tanpa aturan, efeknya dapat memengaruhi kesadaran, perilaku hingga kondisi mental pengguna.

“Kalau disalahgunakan bisa bikin halusinasi, agresif, bahkan ketergantungan,” katanya.

Ia mengatakan, sebagian remaja menggunakan obat tertentu demi mencari sensasi mabuk, dianggap lebih berani atau sekadar mengikuti lingkungan pertemanan.

BACA JUGA: https://rri.co.id/samarinda/regional/2425352/bnn-sebut-obat-obatan-tertentu-jadi-pintu-awal-penyalahgunaan-narkoba?nocache=true⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

Dalam sejumlah kasus rehabilitasi, Bambang mengaku menemukan pelajar yang awalnya hanya coba-coba menggunakan obat tertentu sebelum akhirnya berkembang menggunakan narkotika lain.

“Awalnya hanya ingin dianggap keren di tongkrongan. Lama-lama naik ke zat yang lebih berat,” ucapnya.

Menurut Bambang, fenomena tersebut menjadi alarm serius karena usia pelajar merupakan fase perkembangan mental dan emosional yang masih sangat rentan.

Ia menilai, pengawasan keluarga dan sekolah harus diperkuat agar anak tidak mudah terpapar lingkungan negatif.

Selain itu, edukasi mengenai bahaya penyalahgunaan obat juga dinilai perlu disampaikan dengan pendekatan yang dekat dengan dunia remaja.

“Kadang anak-anak ini tahu obatnya, tapi tidak tahu dampak jangka panjangnya,” katanya.

Bambang mengatakan, BNN kini terus memperkuat edukasi di sekolah dan komunitas remaja untuk mencegah penyalahgunaan zat sejak dini.

Ia berharap masyarakat tidak lagi menganggap penyalahgunaan obat tertentu sebagai persoalan ringan karena dampaknya dapat merusak masa depan generasi muda.

“Kita harus sadar bahwa ancaman sekarang bukan hanya narkoba klasik, tetapi juga obat-obatan tertentu yang mudah didapat,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....