BNN Ungkap Alasan Sabu Masih Mendominasi Penyalahgunaan Narkoba di Samarinda

  • 11 Jul 2026 12:50 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Penyalahgunaan sabu masih menjadi kasus yang paling banyak ditemukan di Kota Samarinda. Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Samarinda mencatat, jenis narkotika tersebut mendominasi hasil temuan dalam berbagai kegiatan tes urine yang dilakukan di lingkungan pemerintah, swasta, maupun sekolah. Kondisi ini sejalan dengan tren nasional yang menempatkan sabu sebagai narkotika paling banyak disalahgunakan.

Penggerak Swadaya Masyarakat BNN Kota Samarinda, Roi Koyama, dalam obrolan SPADA Pro 2 RRI Samarinda, mengatakan sabu menjadi pilihan utama para penyalahguna karena ketersediaannya lebih banyak dibandingkan jenis narkotika lainnya. Selain itu, sabu memberikan efek berupa tambahan energi dan semangat sesaat yang dianggap membantu aktivitas tertentu.

"Kalau di Samarinda paling banyak itu penggunaannya sabu, bahkan secara nasional terbanyak adalah sabu. Kemudian yang banyak juga disalahgunakan adalah ganja. Saat kita mengadakan tes urine di swasta, pemerintahan ataupun sekolah-sekolah, yang paling banyak kita temukan adalah pengguna sabu," katanya, dikutip Sabtu 11 Juli 2026.

Menurutnya, efek yang ditimbulkan sabu membuat sebagian orang merasa memiliki tenaga lebih untuk bekerja, khususnya mereka yang beraktivitas pada malam hari. Namun, sensasi tersebut hanya berlangsung sementara dan justru menjadi pintu masuk menuju ketergantungan.

"Karena ketersediaannya mungkin lebih banyak. Itu satu hal. Dan juga kegunaannya yang mungkin, dalam tanda petik, dirasa cocok oleh para penyalahguna. Biasanya kalau sabu itu memberikan semangat atau ekstra energi. Orang-orang yang bekerja malam hari ataupun mengendarai kendaraan malam hari merasa lebih kuat, butuh energi tambahan. Padahal itu hanya sementara dan akhirnya menjadi jebakan buat diri mereka sehingga terus ingin menggunakan itu," ujarnya.

Roi menegaskan, pada dasarnya seluruh jenis narkotika memiliki risiko yang sama apabila digunakan tidak sesuai peruntukannya. Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada zatnya, melainkan pada penyalahgunaan yang dapat memicu kecanduan dan berdampak pada kondisi fisik maupun psikologis seseorang.

"Semua jenis narkoba yang bermasalah itu penyalahgunaannya. Ketika digunakan secara berlebihan, pasti kecanduan. Makanya itu tidak boleh digunakan sembarangan karena bisa mengakibatkan kecanduan. Apalagi narkoba yang jelas-jelas merupakan zat atau bahan yang berbahaya dan penggunaannya harus sesuai ketentuan yang diatur dalam undang-undang," katanya.

Menurutnya, masyarakat sebaiknya tidak mudah tergiur dengan anggapan bahwa sabu dapat meningkatkan stamina atau produktivitas. Efek tersebut hanya bersifat sementara, sementara risiko ketergantungan dan dampak kesehatan yang ditimbulkan jauh lebih besar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....