Kondisi Banjir Berulang Jadi Sorotan Serius Warga Samarinda
- 05 Feb 2026 15:28 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Potensi banjir di Kalimantan Timur tetap menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan masyarakat. Selain intensitas hujan yang tinggi, pembukaan lahan di wilayah hulu menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko banjir di hilir.
Pendengar RRI, Rahman dari Samarinda, menyoroti pentingnya mitigasi bencana sejak tahap prabencana. “Kalau menurut saya, perahu atau rakit bantuan itu pasca-bencana. Tapi yang utama adalah sebab dan akibat yang harus diantisipasi sejak awal. Fungsi hutan di hulu yang seharusnya menyerap air justru terganti oleh pertambangan atau pembukaan lahan perkebunan yang luas,” ujar Rahman dalam siaran Halo Kaltim, dikutip Kamis 5 Februari 2026.
Ia menambahkan, meskipun pembangunan tidak bisa dihindari, pemerintah sebaiknya tetap memperhitungkan dampak ekologis. “Kalau memang harus dilakukan, pemerintah harus memastikan ada pengalihan kependudukan atau perlindungan bagi masyarakat sekitar agar tetap aman,” katanya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Mahakam Ulu, Agus Darmawan, mengakui pentingnya mitigasi bencana dalam perencanaan pembangunan. “Memang benar. Upaya mitigasi di prabencana sangat diwajibkan, apalagi di Kabupaten Mahakam Ulu yang merupakan hulu Sungai Mahakam,” ujar Agus.
Baca juga: Waspadai Potensi Banjir Mahakam Ulu dan Kutai Barat
Ia menjelaskan, dampak banjir dari wilayah Mahakam Ulu biasanya dirasakan hingga hilir, termasuk Kota Samarinda. Oleh karena itu, pengaturan tata ruang menjadi perhatian utama pemerintah daerah setempat. “Di dua kecamatan, Long Pahangai dan Long Apari, pembukaan lahan harus diperhitungkan agar tidak berdampak besar bagi wilayah hilir. Tutupan lahan di kedua kecamatan ini memang sangat penting,” katanya.
Agus menambahkan, seluruh upaya mitigasi, termasuk pengawasan pembukaan lahan, perencanaan jalur evakuasi, dan penyediaan peralatan penanganan bencana, dilakukan agar dampak banjir dapat diminimalkan. “Kegiatan-kegiatan mitigasi ini diterapkan sedemikian rupa sehingga risiko bencana tidak terlalu besar,” ucapnya.
Sebelumnya, Bambang Pramudito, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kutai Barat, menegaskan meski status siaga bencana belum ditetapkan, pihaknya tetap memantau debit sungai dan kantong air secara intensif. “Air sungai belum terlalu tinggi dan kantong-kantong air masih terkendali, tetapi kami terus memantau informasi dari BMKG dan siap mengkoordinasikan peningkatan status bila diperlukan,” ujar Bambang.
Baca juga: BPBD Mahakam Ulu Perkuat Kesiapsiagaan Bencana
BPBD Mahakam Ulu dan Kutai Barat juga telah menyiapkan peralatan bantuan berupa speedboat, perahu evakuasi, dan ambulans terapung. Agus mengatakan, peralatan tersebut sudah diintegrasikan ke dalam rencana operasi BPBD dan siap digunakan untuk evakuasi saat banjir terjadi. “Semua peralatan bantuan sudah kami siagakan di kantor BPBD dan bisa digunakan penuh dalam operasi bencana,” ucapnya.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan BMKG, serta segera melapor jika terjadi kondisi darurat. Dengan koordinasi yang baik antara hulu dan hilir, serta pengawasan tata ruang yang ketat, pemerintah berharap risiko banjir dapat diminimalkan tanpa menghambat pembangunan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....