Simpang Empat Sempaja Langganan Tergenang, Solusi Drainase Mulai Dikerjakan

  • 16 Jun 2026 10:07 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda- Upaya penanganan banjir di kawasan Simpang Empat Sempaja terus berlanjut. Setelah mengalokasikan anggaran sekitar Rp13 miliar pada awal tahun, Pemerintah Kota Samarinda kini mendorong percepatan penyambungan saluran drainase yang selama ini menjadi salah satu titik lemah sistem pengendalian banjir di kawasan tersebut.

Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Samarinda, Darmadi, mengatakan proyek koneksi drainase menuju Sungai Karang Mumus masih menjadi salah satu prioritas penanganan banjir tahun 2026.

Menurutnya, sejumlah saluran drainase yang telah dibangun sebelumnya masih belum terhubung secara utuh sehingga aliran air belum dapat mengalir optimal menuju sungai utama.

"Salurannya sebenarnya sudah ada, tetapi belum terkoneksi seluruhnya. Tahun ini kami usahakan untuk menghubungkan saluran yang terputus itu sehingga aliran air bisa langsung menuju Sungai Karang Mumus," ujarnya kepada rri.co.id, Selasa, 16 Juni 2026.

Darmadi menjelaskan persoalan tersebut menjadi salah satu penyebab genangan yang masih kerap terjadi di kawasan Simpang Empat Sempaja saat hujan dengan intensitas tinggi. Air yang seharusnya mengalir ke Sungai Karang Mumus tidak dapat bergerak maksimal karena masih terdapat bagian saluran yang terputus.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Samarinda mencatat masih ada sekitar 366 meter drainase yang belum tersambung menuju Sungai Karang Mumus dari total jaringan saluran sepanjang sekitar dua kilometer di kawasan tersebut. Kondisi itu membuat fungsi sistem drainase belum berjalan secara optimal.

Selain penyambungan drainase, Pemerintah Kota Samarinda juga mengandalkan fungsi Kolam Retensi Sempaja Lestari Indah (SLI) sebagai bagian dari strategi pengendalian banjir di kawasan Sempaja. Namun hingga kini, efektivitas kolam retensi tersebut masih dipengaruhi kondisi saluran outlet yang belum sepenuhnya terkoneksi dengan jaringan drainase utama.

Akibatnya, sebagian limpasan air dari kawasan Padat Karya masih mengarah ke Jalan Wahid Hasyim dan berpotensi memicu genangan di sekitar Simpang Empat Sempaja ketika curah hujan meningkat.

Darmadi mengatakan penyelesaian konektivitas drainase menjadi kunci untuk memaksimalkan fungsi infrastruktur pengendali banjir yang telah dibangun pemerintah selama beberapa tahun terakhir.

Ia menilai penanganan banjir di Samarinda tidak bisa dilakukan secara parsial. Selain pembangunan drainase baru, diperlukan integrasi seluruh saluran agar air dapat mengalir lancar dari kawasan permukiman menuju Sungai Karang Mumus.

Meski demikian, Darmadi mengakui persoalan banjir di Samarinda belum sepenuhnya selesai. Namun sejumlah proyek yang telah dikerjakan mulai menunjukkan hasil berupa berkurangnya lama genangan di beberapa titik yang sebelumnya sering tergenang.

"Kalau dulu genangan bisa bertahan empat sampai lima jam, sekarang di beberapa lokasi sudah berkurang menjadi sekitar satu sampai dua jam. Memang belum tuntas, tetapi sudah ada perbaikan," katanya.

Selain kawasan Sempaja, Dinas PUPR Samarinda juga terus melakukan peningkatan kapasitas drainase pada sejumlah subsistem lain, termasuk kawasan Juanda dan Pasundan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya bertahap Pemerintah Kota Samarinda untuk mengurangi risiko banjir di berbagai wilayah perkotaan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....