Bambang Susantono: Pembangunan IKN Tak Boleh Berhenti
- 05 Agt 2025 20:03 WIB
- Samarinda
KBRN, Nusantara : Mantan Kepala Otorita IKN, Prof. Dr. Bambang Susantono, menegaskan bahwa pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) adalah proyek yang tidak bisa dihentikan. Menurutnya, proyek ini harus terus dilanjutkan karena sudah menelan dana sekitar Rp100 triliun.
Pernyataan tersebut disampaikan Bambang dalam sebuah diskusi bersama komunitas Diaspora Indonesia di IKN, menanggapi kekhawatiran publik terkait kelanjutan proyek ini di tengah transisi pemerintahan.
“Sekarang kita sering dengar gonjang-ganjing soal apakah proyek ini akan dilanjutkan atau tidak. Bagi saya, IKN adalah proyek yang tak bisa dihentikan. Sudah hampir Rp100 triliun dikucurkan, dan sebagai pembayar pajak, saya berhak menuntut agar yang sudah dibangun segera dioptimalkan dan dimanfaatkan,” ujarnya, dikutip Selasa (5/8/2025).
BACA JUGA:
Pembangunan IKN Kini Diawasi Langsung Para Perancang
Bambang menyadari bahwa pro dan kontra adalah hal yang wajar dalam setiap proyek besar. Namun, ia menegaskan keyakinannya bahwa IKN adalah masa depan Indonesia. Karena itu, tugas utama saat ini adalah memastikan pembangunan berjalan sesuai rencana, melibatkan banyak pihak, termasuk para akademisi dan praktisi perencanaan kota.
“Saat ini, lebih dari 100 sekolah perencana kota (urban planning) di seluruh Indonesia sedang mengkaji bagaimana IKN akan berkembang ke depan. Dua faktor penentunya adalah: apakah Kepres (Keputusan Presiden) tentang pemindahan ibu kota segera keluar, dan apakah anggaran mencukupi. Alhamdulillah, untuk anggaran insyaallah aman. Tapi Kepres mungkin harus menunggu proses transisi saat ini,” katanya.

Lebih lanjut, Bambang menjelaskan bahwa IKN dirancang sebagai kota global dengan empat pilar utama. Yaitu ekonomi, politik, pendidikan, dan budaya. Namun, ia menekankan bahwa status kota global tidak cukup diklaim secara internal, tetapi harus ada pengakuan dari komunitas internasional.
“Kita bisa saja mengklaim bahwa ini kota global, tapi kalau dunia tidak mengakui, ya sama saja. Istilah anak muda sekarang: ‘zong’,” ujar Kepala Institut Pembangunan Kota dan Daerah Asia Pasifik (CLGI) tersebut.
BACA JUGA:
Mimpi Besar IKN Mulai Jadi Kenyataan
Selain itu, ia menyoroti pentingnya membangun kota yang livable (layak huni) dan lovable (dicintai), yaitu kota yang menawarkan kesetaraan, keberagaman, dan akses yang adil terhadap sumber daya dan peluang. Masyarakat harus bisa berpartisipasi dalam proses perencanaan dan pengelolaan kota.
Menurutnya, setidaknya ada lima indikator utama untuk menilai kualitas sebuah kota global. Yaitu ekonomi dan ekosistem bisnis, kualitas hidup, infrastruktur dan teknologi, tata kelola dan kepemimpinan serta kualitas SDM dan talenta.
Bambang juga menekankan tiga prinsip utama yang harus menjadi fondasi pembangunan IKN. Yakni perencanaan yang terintegrasi.
“Jika gagal merencanakan, berarti merencanakan kegagalan,” ucapnya.
Kemudian tata kelola yang baik dengan partisipasi publik harus dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Lalu interaksi sosial yang sehat. “Aspek nonfisik seperti kohesi sosial sangat menentukan keberhasilan sebuah kota,” kata kepala OIKN (2022–2024) ini.
BACA JUGA:
Perancang IKN, Sibarani Sofian Beberkan Konsep Awal Pembangunan
Meski optimis, Bambang tetap memberi peringatan agar pembangunan IKN tidak melenceng dari konsep awal. Ia mencontohkan dua kota dunia yang dinilai gagal memenuhi standar kota global, yaitu Toronto di Amerika Serikat dan Naypyidaw, Myanmar.
“Toronto adalah contoh kota ideal, infrastrukturnya bagus, kohesi sosialnya tinggi. Sebaliknya Naypyidaw, infrastrukturnya luar biasa, tapi sepi dan tanpa kehidupan sosial. Tidak ada vibrance, tidak ada hype. Jangan sampai IKN jadi nekropolis, ‘kota mati,” sebut Dekan Institute for Urban and Regional Development for Asia Pacific itu.
Untuk itu Bambang mengajak semua pihak untuk menjaga semangat awal pembangunan IKN sebagai kota untuk semua kalangan, bukan sekadar proyek properti eksklusif.
“Saya percaya, dengan keterlibatan diaspora yang luar biasa, kota ini bisa benar-benar menjadi kota global, dan yang lebih penting lagi: kota untuk semua. Bukan seperti proyek real estate yang hanya untuk satu kelas sosial, tapi kota yang melayani semua, dari yang tertinggi sampai yang paling membutuhkan,” imbuh Guru Besar di Universitas Diponegoro tersebut.
BACA JUGA:
Sosok di Balik Desain Istana Wapres di IKN
Secara keseluruhan, pesan utama dari Bambang Susantono adalah optimisme dan keyakinan. Ia percaya bahwa dengan komitmen pemerintah, dukungan publik, dan partisipasi aktif semua elemen bangsa, IKN dapat benar-benar terwujud sebagai ibu kota masa depan yang berkelanjutan, inklusif, dan berkeadilan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....