Sosok di Balik Desain Istana Wapres di IKN
- 04 Agt 2025 11:46 WIB
- Samarinda
KBRN, Nusantara : Istana Wakil Presiden di Ibu Kota Nusantara (IKN), yang diberi nama “Huma Betang Umai”, dirancang secara inovatif namun tetap mengusung konsep budaya Nusantara. Sosok di balik mega proyek ini adalah Daliana Suryawinata, arsitek diaspora Indonesia yang karyanya telah diakui secara internasional.
Desainnya memenangkan sayembara dan membawa visi arsitektur masa depan yang melampaui keberlanjutan.
Daliana bersama firma arsitekturnya, SHAU, mengusung konsep arsitektur regeneratif yang memadukan kearifan lokal, efisiensi energi, dan keramahan lingkungan.
Nama "Huma Betang Umai" sendiri memiliki makna mendalam. "Huma Betang" merujuk pada rumah panjang tradisional suku Dayak Kalimantan, sementara "Umai" berarti ibu, melambangkan peran istana sebagai tempat yang memberi, mengayomi, dan melindungi.
“Jadi atapnya besar, ada solar panelnya di atasnya yang cukup untuk menghidupi energi bangunan itu sendiri. Jadi, konsepnya restoratif. Bukan istana yang megah atau istana yang sombong, egois, tapi istana yang memberi, lebih sensibel dan sederhana,” kata Daliana dalam presentasi bersama Diaspora Indonesia di IKN, dikutip Senin (4/8/2025).
BACA JUGA:
Basuki: Tak Ada Moratorium, Pembangunan IKN Justru Dipercepat
Dalianan mengatakan, konsep regeneratif diwujudkan melalui beberapa inovasi utama. Atap istana akan dilengkapi panel surya yang tidak hanya memenuhi kebutuhan energi bangunan, tetapi juga mampu menyalurkan kelebihan energi ke bangunan di sekitarnya. Ini merupakan langkah nyata menuju kemandirian energi di IKN.
Untuk efisiensi energi, Daliana memperkenalkan sistem pendingin inovatif bernama hybrid cooling, yang menggabungkan AC dengan kipas angin. Sistem ini dirancang untuk mengurangi konsumsi energi pendinginan hingga 50% tanpa mengorbankan kenyamanan, menjadikannya solusi cerdas untuk bangunan di iklim tropis.
Desain istana juga memaksimalkan pencahayaan alami dengan menggunakan kaca ganda (double glazing) yang menyaring panas matahari. Hal ini memungkinkan cahaya masuk secara optimal, mengurangi penggunaan lampu, dan menjaga suhu ruangan tetap nyaman. Ruang kerja pun dibuat modern dengan konsep coworking space yang terbuka.
“Dengan hybrid cooling, suhu ruangan tetap nyaman tanpa harus terlalu dingin. Ini sangat cocok untuk iklim tropis kita. Karena sering kali bangunan di Indonesia, terutama hotel bintang lima, membuat pengunjung justru kedinginan sampai harus memakai sweater, itu sebuah ironi di negara beriklim panas,” kata wanita peraih The Indonesian Diaspora Award for Innovation 2012 dan Archinesia Award for Architecture Exhibitions 2012 tersebut.
BACA JUGA:
Istana Wakil Presiden di IKN Bernuansa Rumah Dayak
Harmoni dengan alam menjadi prioritas. Bangunan istana dirancang menyerupai rumah panggung di atas bukit, meminimalkan jejak bangunan dan menyatu dengan kontur alam. Daliana juga menggandeng ahli lanskap dari Tebet Eco Park untuk menciptakan area hijau yang menampung dan mendaur ulang air hujan.
Fokus pada lanskap ini penting karena IKN bertujuan merestorasi hutan produksi menjadi hutan sekunder yang mampu menyerap air, meningkatkan keanekaragaman hayati, dan menciptakan keteduhan alami. Hal ini menunjukkan IKN bukan hanya membangun di atas hutan, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem hutan itu sendiri.
“Kita mau bikin secondary forest seperti taman-taman di Singapura yang bisa menyimpan air, yang bisa meneduhkan dan biodiversity itu bisa tercapai. Jadi, di sini banyak penanaman pohon,” ujarnya.
BACA JUGA:
Gibran Apresiasi Progres Pembangunan Istana Wapres di IKN
Dikenal dengan karya-karyanya yang inklusif, seperti Microlibrary Warak Kayu dan Taman Film Bandung, Daliana berharap desain Istana Wapres di IKN dapat menjadi inspirasi global. "Semoga IKN bukan sekadar kota baru, tapi jadi contoh untuk dunia," ucap Dalina.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....