Pengamat Soroti Paradoks Ketahanan Pangan di Pesisir Selatan
- 19 Jul 2026 06:48 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Tingginya produksi padi di Kabupaten Pesisir Selatan dinilai belum sejalan dengan peningkatan kesejahteraan petani. Kondisi itu menunjukkan paradoks ketahanan pangan yang perlu dibenahi melalui kebijakan pertanian berbasis nilai tambah.
Pandangan tersebut disampaikan Pengamat Ekonomi Pertanian Universitas Andalas, Rafnel Azhari, dalam dialog Padang Menyapa Pro 1 RRI Padang, Sabtu, 18 Juli 2026. Ia menilai orientasi pembangunan pertanian tidak cukup hanya mengejar peningkatan produksi.
Rafnel mengatakan produksi padi Pesisir Selatan mencapai sekitar 175 ribu ton gabah kering giling pada 2025. Namun, tingkat kemiskinan di daerah itu masih berada pada kisaran 6,5 hingga 7 persen.
"Produksi padinya tinggi, tetapi kemiskinan masih berada di kisaran 6,5 hingga 7 persen. Ini menunjukkan adanya paradoks swasembada pangan yang perlu segera diselesaikan," ujar Rafnel.

Menurutnya, kebijakan pertanian perlu bergeser dari sekadar mengejar swasembada menuju peningkatan kesejahteraan petani. Hasil produksi yang meningkat harus diikuti dengan bertambahnya pendapatan dan nilai tambah yang diterima petani.
Ia juga menyoroti tingginya biaya produksi padi di Indonesia. Berdasarkan hasil riset, biaya produksi padi di Indonesia disebut mencapai tiga kali lipat dibandingkan Vietnam sehingga mengurangi daya saing sektor pertanian.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pesisir Selatan, Hamdi, mengatakan pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat nilai tambah hasil pertanian. Langkah tersebut dilakukan melalui perbaikan irigasi, penyediaan benih unggul, modernisasi alat dan mesin pertanian, serta pengembangan rice milling modern.
Hamdi mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, seperti produktivitas padi yang baru mencapai sekitar 4,8 ton per hektare, keterbatasan jaringan irigasi, serta kebutuhan sarana produksi. Meski demikian, Pesisir Selatan tetap mencatat surplus beras sekitar 50 ribu ton per tahun yang ditopang sekitar 21 ribu hektare lahan sawah.
“Program dari pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama petani terus di upayakan. Program prioritas kami juga seperti nagari kanyang dengan melibatkan berbagai pihak, harapannya dapat meningkatkan produktifitas pertanian dan meningkatkan ketahanan pangan,” ujar Hamdi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....