Hari Lingkungan Hidup, Mahyeldi Pimpin Penanaman 1.000 Pohon di Padang

  • 12 Jun 2026 15:28 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi , menegaskan upaya pemulihan dan pelestarian lingkungan tidak lagi dapat ditunda menyusul besarnya dampak banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat. Menurutnya, kerusakan lingkungan yang terjadi telah menimbulkan kerugian hingga puluhan triliun rupiah dan menjadi peringatan penting bagi seluruh pihak untuk lebih peduli terhadap kelestarian alam.

Hal itu disampaikan Mahyeldi saat memimpin aksi penanaman 1.000 pohon di kawasan Hutan Kota Malvinas, sempadan Sungai Batang Kuranji, Kota Padang, Jumat 12 Juni 2026, dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia sekaligus rehabilitasi kawasan yang terdampak banjir besar akhir tahun lalu. “Tidak boleh ditunggu lagi. Kita harus bertindak sekarang untuk pengendalian iklim karena ini menyangkut keberlangsungan hidup manusia itu sendiri,” kata Mahyeldi.

Menurutnya, masyarakat Sumatera Barat telah merasakan secara langsung dampak dari kerusakan lingkungan, mulai dari banjir, longsor hingga kerusakan ekosistem yang semakin meluas. “Kita sudah merasakan akibatnya. Ketika lingkungan rusak, yang muncul adalah banjir, longsor, dan kerusakan yang lebih luas. Karena itu kepedulian terhadap lingkungan harus menjadi karakter yang melekat dalam kehidupan kita,” ujarnya.

Mahyeldi juga menyoroti kondisi Sungai Batang Kuranji yang mengalami pendangkalan akibat sedimentasi pascabanjir. Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan risiko banjir apabila tidak segera ditangani.

“Ketika lingkungan terganggu dan rusak, maka inilah hasilnya. Sungai mengalami pendangkalan. Kalau sedimentasi tidak segera ditangani, saat curah hujan tinggi air tidak lagi tertampung dan risikonya banjir akan kembali melebar,” katanya.

Ia mengungkapkan, total kerugian dan kerusakan akibat banjir dan longsor yang terjadi di Sumatera Barat beberapa bulan lalu diperkirakan mencapai Rp33 triliun.

“Kerusakan dan kerugian akibat banjir longsor itu tidak kurang dari Rp33 triliun. Nilainya setara beberapa kali kemampuan anggaran daerah. Ini menunjukkan menjaga lingkungan jauh lebih murah dibanding memperbaiki kerusakan,” tegasnya.

Dalam kegiatan tersebut, Mahyeldi mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak yang berkolaborasi dalam aksi penghijauan. Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, hingga generasi muda.

“Ini bukan sekadar memperingati Hari Lingkungan Hidup, tetapi bagaimana membangun kepedulian terhadap sampah, melakukan penanaman, menjaga dan merawat pohon, serta mewariskan kepedulian lingkungan kepada generasi muda,” ujarnya.

Sementara itu Ketua Pokdarwis Kota Padang, Renaldo Saputra Leo, berharap aksi penghijauan tersebut menjadi awal kolaborasi berkelanjutan dalam pemulihan kawasan Hutan Kota Malvinas.

“Harapan kami ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Kami ingin Hutan Kota Malvinas berkembang menjadi Green Forest City yang memberi manfaat ekologis sekaligus ekonomi bagi masyarakat,” katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....