Menteri Lingkungan Hidup Canangkan Gerakan Tobat Ekologis Nasional

  • 14 Jul 2026 17:09 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Mohammad Jumhur Hidayat, mencanangkan Gerakan Tobat Ekologis Nasional melalui aksi penanaman bibit mangrove dan kelapa di kawasan Politeknik Pelayaran Sumatera Barat, Kabupaten Padang Pariaman, Selasa 14 Juli 2026. Gerakan ini menjadi langkah awal memperkuat upaya pelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan ketahanan terhadap bencana hidrometeorologi.

Padang Pariaman dipilih sebagai lokasi pencanangan karena dinilai memiliki nilai strategis. Selain memiliki kawasan pesisir yang perlu dijaga, daerah ini juga menjadi salah satu wilayah yang terdampak cukup besar akibat bencana banjir dan tanah longsor dalam beberapa tahun terakhir.

Menteri Lingkungan Hidup RI, Mohammad Jumhur Hidayat, menegaskan Gerakan Tobat Ekologis Nasional bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan gerakan kolektif untuk memulihkan kualitas lingkungan hidup Indonesia. Menurutnya, berbagai persoalan lingkungan seperti sampah, pencemaran mikroplastik, kerusakan hutan, lahan kritis, hingga dampak aktivitas pertambangan hanya dapat diselesaikan melalui kolaborasi seluruh elemen bangsa.

"Persoalan lingkungan tidak mungkin diselesaikan oleh pemerintah sendiri. Dibutuhkan keterlibatan aktif pemerintah daerah, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, hingga masyarakat luas agar upaya pemulihan lingkungan dapat berjalan secara berkelanjutan," ujarnya.

Ia juga optimistis target penyelesaian persoalan sampah nasional dalam dua tahun sebagaimana arahan Presiden dapat tercapai apabila seluruh pihak konsisten membangun kolaborasi dan melakukan aksi nyata. Menurutnya, gerakan sederhana seperti menanam pohon, menjaga kawasan pesisir, dan mengelola sampah dengan baik akan memberikan dampak besar bagi keberlanjutan lingkungan.

Sementara itu, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, mengatakan bencana hidrometeorologi yang melanda Sumbar tahun lalu menjadi pelajaran penting bahwa pembangunan harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan. Menurutnya, kerusakan dan kerugian akibat bencana tersebut mencapai lebih dari Rp33 triliun, disertai banyaknya korban jiwa serta rusaknya berbagai infrastruktur.

"Gerakan Tobat Ekologis menjadi langkah nyata untuk membangun kesadaran masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan sekaligus memperkuat mitigasi bencana," kata Mahyeldi.

Ia juga mengapresiasi kehadiran Menteri Lingkungan Hidup di Padang Pariaman yang dinilai akan memperkuat implementasi berbagai program pelestarian lingkungan di Sumatera Barat. Pemerintah Provinsi Sumbar, lanjutnya, akan memperluas gerakan tersebut ke sekolah, perguruan tinggi, serta seluruh instansi pemerintah agar kepedulian terhadap lingkungan menjadi budaya bersama.

Selain itu, Mahyeldi menyebut Pemprov Sumbar terus mendorong pengelolaan sampah secara mandiri. Seluruh kantor pemerintahan dan sekolah di bawah kewenangan pemerintah provinsi diwajibkan mengelola sampah secara mandiri sebagai bagian dari pembentukan budaya peduli lingkungan.

Pencanangan Gerakan Tobat Ekologis Nasional di Padang Pariaman diharapkan menjadi momentum lahirnya gerakan pelestarian lingkungan yang lebih masif dari daerah. Melalui aksi penanaman mangrove dan kelapa serta penguatan kolaborasi berbagai pihak, Padang Pariaman diharapkan menjadi simbol komitmen bersama dalam membangun lingkungan yang lebih hijau, tangguh, dan berkelanjutan sekaligus mengurangi risiko bencana di masa mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....