Harga Gambir Sumbar Anjlok, Dipicu Meningkatnya Biaya Produksi

  • 06 Apr 2026 11:09 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Petani gambir di Kabupaten Limapuluh Kota mengeluhkan merosotnya harga jual gambir di pasar ekspor luar negeri dalam tiga bulan terakhir. Kondisi ini semakin menekan dengan melambungnya biaya produksi, sementara permintaan pasar ikut melemah.

Salah satu petani perkebunan gambir asal Kabupaten Limapuluh Kota, Wirpentati mengatakan, harga jual gambir kering ke pasar ekspor India kini dihargai Rp38 ribu per kilogram. Harga tersebut merosot tajam dari sebelumnya sempat mencapai Rp75 ribu per kilogramnya.

“Harga jual gambir saat ini jauh menurun, terakhir kami jual 30 ribu rupiah per kilogramnya. Modal kami 50 ribu rupiah per kilogram, itu sudah masuk biaya perawatan dan upah pekerja, belum lagi biaya bongkar muat dan produksi,” ujar Wirpentati, Senin, 6 April 2026.

Wirpentati menjelaskan, kondisi tersebut membuat petani gambir tradisional di Kabupaten Limapuluh Kota makin tertekan dengan tingginya biaya produksi serta ongkos yang harus dibayar kepada pekerja kebun. “Sampai sekarang harga jual yang mengatur adalah tauke, tata niaganya belum diatur oleh pemerintah, apalagi saat ini banyaknya gambir kering campuran tentu biaya produksinya bertambah,” katanya.

Ia menduga pemisahan kualitas gambir di pasar internasional, terutama negara tujuan ekspor India menjadi pemicu anjloknya harga jual gambir ke luar negeri. “Karena pembeli luar negeri mengacu pada harga satuan katekin pada gambir yang mengharuskan mengandung minimal 90 persen kandungan katekin, sementara kami petani cuman mampu menghasilkan 40 persen katekin,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat (Sumbar), Nurul Hasanudin membenarkan, Nilai Tukar Petani (NTP) di provinsi ini mengalami penurunan pada Maret 2026 sebesar 1,30 persen. Penurunan terjadi akibat harga komoditas pertanian yang di terima petani mengalami penurunan, sementara biaya produksi mengalami peningkatan.

“Terkait penurunan NTP ini, salah satunya disebabkan tingginya biaya produksi, termasuk harga pupuk Urea. Sementara itu, kami mencatat adanya kenaikan upah pemanenan, hal ini menandakan terjadinya kenaikan biaya produksi tani,” kata Nurul.

Sementara itu, BPS Sumbar nencatat, sublapangan usaha Tanaman Perkebunan mengalami pertumbuhan tertinggi dalam lima tahun terakhir sebesar 7,38 persen. Selain menjadi penggerak utama ekspor asal ranah minang, lapangan usaha perkebunan rakyat tersebut juga memberikan andil besar terhadap peluang lapangan kerja.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....