Prodi Gizi FKM Unand Edukasi Remaja Putri Cegah Stunting dan Turunkan Risiko PTM

  • 02 Sep 2026 09:28 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang – Program Studi Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Andalas (Unand) mendorong peningkatan pengetahuan gizi remaja putri sebagai langkah pencegahan stunting sekaligus menekan risiko penyakit tidak menular (PTM) di masa depan. Upaya tersebut dilakukan melalui program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Edukasi Gizi Remaja: Pencegahan Stunting sebagai Upaya Menekan Risiko PTM di Masa Depan” di SMP Negeri 5 Padang, 28 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut diikuti 51 siswi remaja putri dengan materi edukasi yang disampaikan menggunakan leaflet dan poster. Edukasi difokuskan pada pemahaman mengenai stunting, anemia, tablet tambah darah (TTD), pola makan bergizi seimbang, pemilihan jajanan sehat dan pencegahan PTM sejak usia remaja.

Tim Pengabdian diketuai Dr. Fivi Melva Diana, S.KM., M.Biomed serta anggota Dr. Jeallyza Muthia Azra, S.Gz., M.Si, Afifah Az Zahro. Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Unand, Dr. Fivi Melva Diana, S.KM., M.Biomed., kepada RRI pada Rabu 2 September 2026 mengatakan, remaja putri perlu mendapat edukasi gizi sejak dini karena akan menjadi calon ibu. Menurutnya, kondisi kesehatan dan status gizi remaja memiliki keterkaitan dengan upaya pencegahan stunting pada generasi berikutnya.

“Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis pada 1.000 hari pertama kehidupan, sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun,” ujar Fivi. Ia menjelaskan, stunting dapat dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari faktpr langsung konsumsi dan infeksi hingga faktor tidak langsung ketahanan pangan keluarga, gizi anak yang tidak terpenuhi, pola asuh dan pola makan keluarga hingga kurangnya akses terhadap pelayanan kesehatan.

Fivi menambahkan, stunting tidak hanya berdampak terhadap pertumbuhan tinggi badan, tetapi juga perkembangan kognitif dan sistem kekebalan tubuh anak. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan faktor risiko penyakit tidak menular di kemudian hari, termasuk obesitas, diabetes melitus tipe 2, hipertensi dan penyakit jantung.

Karena itu, menurut Fivi, pencegahan stunting perlu dilakukan sejak dari hulu dengan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran mengenai pola hidup sehat. Remaja putri menjadi salah satu kelompok penting karena status gizi dan kesehatannya akan berpengaruh ketika memasuki masa kehamilan dan menjadi ibu.

Dalam edukasi tersebut, tim juga memperkenalkan konsep Isi Piringku sebagai panduan pemenuhan gizi seimbang. Materi tersebut mengajarkan sepertiga bagian piring berisi makanan pokok, sepertiga sayuran, seperenam buah dan seperenam lauk pauk, dengan anjuran mengonsumsi sumber protein hewani seperti ikan, telur, daging dan ayam serta protein nabati seperti tahu dan tempe.

Fivi menjelaskan, setiap 100 gram abon ikan tongkol dan tempe mengandung energi sebesar 410,76 kilokalori, protein 26,14 gram, lemak 26 gram dan karbohidrat 18,05 gram. Produk tersebut juga mengandung kalsium sebesar 81,58 miligram dan zink 1,28 miligram per 100 gram.

Fivi mengenalkan pemanfaatan pangan lokal bergizi tinggi sebagai salah satu pendekatan pemenuhan kebutuhan gizi remaja. Salah satunya melalui pengembangan produk abon ikan tongkol dan tempe yang dapat menjadi alternatif sumber protein dalam menu keluarga.

Fivi menyebut, pemanfaatan pangan lokal bergizi tinggi diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi remaja, khususnya melalui konsumsi protein yang cukup. Asupan gizi seimbang sejak usia remaja juga diharapkan dapat membantu memperbaiki status gizi, mencegah anemia serta mengurangi faktor risiko stunting dan PTM di masa mendatang.

Afifah Az Zahro selaku tim pengabdian juga terlibat dalam memberikan pelatihan kepada siswi SMP N 5 Padang tentang cara membuat abon dari ikan tongkol dan tempe. Melalui kegiatan itu, juga dilakukan observasi dan wawancara yang menunjukkan masih minimnya pemahaman siswi mengenai tablet tambah darah, anemia dan pemilihan jajanan sehat. Kondisi tersebut menjadi dasar pentingnya edukasi gizi secara rutin dan terpantau agar remaja putri semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan sejak dini.

“Edukasi gizi remaja dan intervensi pangan lokal bergizi merupakan bagian dari strategi preventif yang dapat dilakukan sejak dari hulu,” katanya. Evaluasi program dilakukan melalui survei sebelum dan sesudah kegiatan untuk melihat perubahan pengetahuan, sikap dan praktik peserta terkait gizi dan PTM, sekaligus memantau kehadiran serta keterlibatan siswa.

Untuk menjamin keberlanjutan program, tim Gizi FKM Unand akan memperkuat peran Unit Kesehatan Sekolah (UKS) sebagai pusat edukasi gizi di sekolah. Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga keberlanjutan edukasi sehingga pengetahuan mengenai pola makan sehat, pencegahan stunting, anemia dan PTM dapat terus diterapkan oleh remaja dalam kehidupan sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....