UNP Kenalkan Teknologi Retort untuk Kembangkan Kuliner Khas Taram

  • 04 Okt 2026 10:14 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Universitas Negeri Padang (UNP) mendorong pengembangan kuliner tradisional Nagari Taram, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, melalui penerapan teknologi pangan retort. Teknologi tersebut diperkenalkan untuk memperpanjang daya simpan produk sekaligus membuka peluang pemasaran kuliner lokal ke wilayah yang lebih luas.

Ketua Tim Pengabdian UNP, Riski Gusri Utami, M.Sc., kepada RRI pada Minggu 4 Oktober 2026 mengatakan, Nagari Taram memiliki beragam kuliner tradisional yang berpotensi menjadi produk unggulan daerah. Di antaranya gulai obu aia, punju boluk, tumi itik, cabodak bihu, dan singgang gantuang, namun produk tersebut masih menghadapi keterbatasan dalam pengolahan dan daya simpan.

“Taram memiliki banyak kuliner unik, seperti gulai obu aia, punju boluk, tumi itik, cabodak bihu, dan singgang gantuang. Melalui kegiatan ini, kami ingin memperkenalkan teknologi yang dapat membantu masyarakat mengembangkan produk kuliner lokal agar memiliki daya simpan lebih panjang dan berpotensi menjangkau pasar yang lebih luas,” ujar Riski.

Menurutnya, penerapan teknologi retort juga relevan dengan kondisi Nagari Taram yang memiliki risiko banjir. Produk pangan siap saji dengan daya simpan lebih panjang dapat menjadi salah satu alternatif penyediaan pangan ketika akses terhadap bahan pangan segar maupun aktivitas memasak masyarakat mengalami keterbatasan saat kondisi darurat.

Upaya tersebut dilakukan melalui Program Pengabdian UNP Berdampak (PPUB) yang dilaksanakan selama dua hari, 16–17 September 2026, di Kantor Wali Nagari Taram. Kegiatan melibatkan ibu-ibu PKK dan pelaku UMKM kuliner dengan mengangkat tema pemberdayaan UMKM melalui teknologi pangan retort untuk penguatan ekonomi kreatif dan mitigasi bencana.

Riski menjelaskan pada hari pertama, peserta mendapatkan edukasi mengenai teknologi retort sederhana dan keamanan pangan, termasuk prinsip sterilisasi, hubungan suhu dan tekanan, pemilihan kemasan retort pouch, serta penerapan higiene dalam pengolahan pangan. "Peserta juga diperkenalkan dengan penerapan teknologi tersebut pada kuliner khas Taram, yakni tumih itiak," ujar Riski.

Peserta mengamati penjelasan teknologi retort sederhana menggunakan panci presto modifikasi yang dilengkapi pressure gauge dan temperature gauge (foto: tim UNP)

Peserta kemudian mengikuti praktik pengolahan tumih itiak menggunakan panci presto modifikasi yang dilengkapi pengukur suhu dan tekanan serta panci presto standar. Praktik mencakup penimbangan dan pengisian produk, pengemasan vakum, proses pemanasan dan pendinginan, hingga evaluasi warna, aroma, tekstur, dan rasa produk sebelum dan sesudah proses retort.

Kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi standardisasi resep yang disampaikan oleh Ruhul Fitri Rosel, S.Pd., M.Pd. Pada sesi ini, peserta bersama tim membahas konsistensi bahan, teknik pengolahan awal, ukuran potongan daging, serta berat produk dalam setiap kemasan. Standardisasi resep menjadi bagian penting agar kualitas produk lebih konsisten sebelum melalui proses retort.

Selanjutnya, peserta mengikuti praktik langsung penerapan teknologi retort menggunakan dua jenis peralatan, yaitu panci presto modifikasi yang dilengkapi alat pengukur suhu dan tekanan serta panci presto standar. Praktik meliputi penimbangan dan pengisian produk tumih itiak ke dalam kemasan retort pouch, pengemasan vakum, proses pemanasan, pendinginan, hingga evaluasi kondisi produk setelah proses retort. Pada sesi evaluasi, peserta juga berkesempatan mencicipi dan membandingkan produk sebelum dan setelah proses retort berdasarkan aspek warna, aroma, tekstur, dan rasa.

Ibu-ibu PKK dan pelaku UMKM kuliner mengikuti praktik langsung pengolahan produk tumih itiak sebelum proses retort (Foto: Tim UNP)

Lebih lanjut Rizki menyebutkan pada hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan pengemasan, pelabelan, dan pemasaran digital yang disampaikan praktisi Defia Wenisa, S.E. Peserta juga diajak membuat logo dan label sederhana dengan bantuan AI dan Canva serta mempelajari pembuatan konten promosi melalui TikTok, Facebook, dan Instagram Reels.

Sebagai penerapan langsung dari materi pengemasan dan labelling, peserta kemudian menempelkan label yang telah disiapkan tim pada kemasan produk tumih itiak khas Taram yang telah melalui proses retort. Dengan demikian, kegiatan tidak hanya memperkenalkan teknologi pengolahan pangan, tetapi juga menghubungkannya dengan aspek tampilan produk dan strategi pemasaran.

Wali Nagari Taram, Nanang Anwar, S.E., menyambut program tersebut karena dinilai sesuai dengan kebutuhan masyarakat, terutama dalam mendukung penyediaan pangan ketika terjadi bencana banjir. "Saya berharap kuliner khas Taram dapat dikembangkan secara berkelanjutan sehingga memiliki nilai tambah dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas," ujar Taram.

Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program, tim pengabdian UNP menyerahkan sejumlah peralatan pengolahan pangan kepada Pemerintah Nagari Taram. Peralatan tersebut terdiri atas satu unit panci retort presto modifikasi yang dilengkapi pressure gauge dan temperature gauge, tiga unit timbangan digital, dua unit termometer digital, satu unit power pack vacuum sealer, serta satu paket retort pouch berisi 100 kemasan. Penyerahan dilakukan oleh Ketua Tim Pengabdian, Riski Gusri Utami, M.Sc., kepada Wali Nagari Taram, Nanang Anwar, S.E.

Ketua Tim Pengabdian, Riski Gusri Utami, M.Sc., menyerahkan peralatan pengolahan pangan retort kepada Wali Nagari Taram, Nanang Anwar, S.E. (Foto: Tim UNP)

Melalui program tersebut, UNP mendorong teknologi retort tidak hanya sebagai inovasi pengolahan pangan, tetapi juga sebagai sarana meningkatkan nilai tambah UMKM sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat. Program ini sekaligus mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi, serta pengembangan inovasi dan teknologi.

Kegiatan tersebut juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui penguatan ketahanan pangan masyarakat, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pemberdayaan dan pengembangan UMKM, serta SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penerapan inovasi teknologi pengolahan pangan pada usaha mikro dan kecil.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....