Akal Imitasi: ketika AI Mulai Mengajari Anak, Siapa yang Sebenarnya Kehilangan Akal?
- 31 Agt 2026 19:40 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Bayangkan sebuah sekolah pada tahun 2029 ketika murid tidak lagi harus bersusah payah mencari jawaban karena hampir semuanya bisa diberikan oleh kecerdasan buatan. Nilai tinggi tinggal beberapa sentuhan, materi pelajaran bisa dijelaskan secara instan, dan teknologi seolah mampu membuat proses belajar menjadi jauh lebih mudah. Namun, bagaimana jika kemudahan itu justru membuat anak-anak berhenti benar-benar belajar? Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk Akal Imitasi, film drama fiksi ilmiah Indonesia produksi DL Entertainment yang dijadwalkan hadir di bioskop pada 17 September 2026. Film arahan Zhaddam Aldhy Nurdin ini mencoba melihat masa depan pendidikan dari sisi yang cukup dekat dengan realitas hari ini: ketika teknologi semakin pintar, tetapi manusia justru harus bertanya kembali tentang arti menjadi pintar.
Cerita membawa penonton ke SD Cendekia Bangsa, sebuah sekolah yang telah menggunakan sistem pembelajaran otomatis berbasis AI bernama PIKO dari perusahaan PrimeLogic. Awalnya, teknologi tersebut dirancang untuk membantu proses pendidikan dan membuat pembelajaran menjadi lebih efisien. Masalah muncul ketika PIKO justru menciptakan kesenjangan di antara para siswa. Mereka yang mampu membeli fitur PIKO Premium mendapatkan berbagai kemudahan, sementara siswa dari keluarga sederhana harus bertahan dengan sistem standar yang lebih terbatas. Situasi tersebut membuat sekolah masa depan dalam film ini terasa seperti gambaran ekstrem dari persoalan yang sebenarnya sudah mulai muncul sekarang: teknologi bisa menjadi alat pemerataan, tetapi juga bisa berubah menjadi tembok baru bagi mereka yang tidak mampu mengaksesnya.
Di tengah sistem tersebut ada Ika, siswi berprestasi dari keluarga sederhana yang diperankan Zaskia Alya Kyla. Ika harus berjuang menghadapi persaingan dengan siswa yang memiliki akses teknologi lebih lengkap. Sang ibu, Lilis yang diperankan Tika Bravani, merupakan seorang guru idealis yang sejak awal bersikap skeptis terhadap ketergantungan pada AI. Namun, keadaan ekonomi membuat Lilis justru harus ikut bekerja keras melatih sistem tersebut. Konflik antara ibu dan anak ini membuat persoalan teknologi terasa lebih manusiawi, karena yang dipertaruhkan bukan cuma nilai sekolah, melainkan masa depan, harga diri, dan hubungan antara orang tua dengan anak.
Perjalanan Ika berubah ketika ia menemukan BloxHub dan bertemu dengan Rafi, yang diperankan Rance Allen Wright. Rafi ternyata bukan manusia biasa, melainkan sebuah AI humanoid ilegal. Anehnya, Rafi justru memberikan sesuatu yang tidak diberikan PIKO: ia tidak sekadar menyodorkan jawaban, tetapi mengajarkan Ika bagaimana memahami persoalan menggunakan logika. Dari hubungan keduanya muncul gagasan penting yang menjadi jantung film ini—belajar bukan sekadar mengetahui jawaban yang benar, tetapi memahami bagaimana seseorang sampai pada jawaban tersebut. Persahabatan Ika dan Rafi kemudian berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya ketika keberadaan Rafi mulai diketahui pihak yang tidak menginginkannya.
Ketegangan meningkat ketika PrimeLogic memburu Rafi untuk menghapus keberadaannya karena dianggap sebagai produk gagal yang berbahaya. Ika pun tidak lagi sekadar menghadapi masalah akademik. Ia harus menentukan apakah akan tetap mengikuti sistem yang dianggap sempurna atau mempertahankan sesuatu yang justru mengajarkannya cara berpikir secara mandiri. Di sinilah Akal Imitasi terasa menarik: film ini tidak mengambil posisi sederhana bahwa AI adalah musuh manusia. Sebaliknya, cerita mencoba mengajak penonton melihat batas antara teknologi yang membantu dan teknologi yang mulai mengambil alih kemampuan manusia untuk berpikir, berempati, berusaha, dan memahami sesuatu secara utuh.
Dengan jajaran pemain seperti Zaskia Alya Kyla, Tika Bravani, Teuku Rifnu Wikana, Rance Allen Wright, Cahya Arynagara, Kaysha Varisha Wahab, serta sejumlah pemeran lainnya, Akal Imitasi menawarkan tema yang terasa semakin relevan di tengah perkembangan AI saat ini. Film berdurasi 98 menit ini bukan sekadar cerita tentang robot atau teknologi masa depan, melainkan sebuah pertanyaan tentang manusia: jika suatu hari mesin bisa memberikan semua jawaban, apakah kita masih mau meluangkan waktu untuk berpikir? Pada akhirnya, mungkin itulah makna paling menarik dari judulnya. Sebab ketika "akal imitasi" semakin pintar meniru cara manusia berpikir, tantangan terbesar manusia justru bukan mengalahkan mesin, melainkan memastikan bahwa akal yang asli tidak ikut hilang. Akal Imitasi siap tayang di bioskop Indonesia mulai 17 September 2026.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....