Takdir Singkat Seorang Sahabat
- 12 Sep 2026 15:32 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang – Ada duka yang datang tanpa ketukan keras di pintu. Ia menyusup diam-diam, menyisakan keheningan yang teramat lapang saat sosok sahabat yang dikasihi tiba-tiba pergi untuk selamanya. Oktaviandi atau yang akrab disapa Arie, penyiar Pro 4 RRI Padang yang dikenal penuh kehangatan, kreatif dan tak pernah kehabisan energi positif.
Rekam jejaknya sebagai alumni SMP Negeri 2 Padang dan SMA Negeri 2 Padang membentuk karakternya menjadi sosok yang supel, berjejaring luas dan selalu menjadi perekat dalam setiap kebersamaan. Kepergian Arie terasa begitu cepat. Seolah kemarin ia masih bersama kami, tertawa bersama, berbagi cerita tanpa pernah menyisakan bayang-bayang redup di wajahnya.
Kabar duka itu berembus di Selasa yang sunyi, tepatnya 8 September 2026. Di RSUP Dr. M. Djamil Padang, setelah proses cuci darah yang kedua kalinya, langkah Arie terhenti. Berita kepergiannya menjalar begitu cepat, mengetuk pintu-pintu ruang kerja dan meninggalkan rasa tak percaya yang merayap pelan. Teman-teman dan keluarga besar RRI Padang tersentak, terpaku dalam hening yang teramat dalam.
Tak ada yang pernah benar-benar tahu kapan penyakit itu mulai menghinggapi tubuhnya. Di balik riuh suasana kantor dan lalu lalang tugas sehari-hari sebagai penyiar, Arie memeluk sunyinya sendiri. Ia menyimpan rapat rasa sakit itu, rapi tanpa cela. Arie adalah tipe sahabat yang lebih memilih menyimpan luka sendiri agar tidak membebani orang lain. Tak pernah ada keluh yang lolos dari bibirnya, tak ada drama yang ia bentangkan. Ia memilih tetap menjadi ruang yang hangat bagi orang-orang di sekitarnya, meski di dalam dirinya, badai sedang bertiup kencang.
Bagi mendiang, seni dan kreativitas adalah napas pengabdian. Ia selalu bersemangat mendukung berbagai kegiatan seni bernuansa kreasi, menuangkan ide-ide segar dan memberi warna tersendiri dalam dinamika lembaga.

Di luar tugas kesehariannya, Arie memiliki hobi bernyanyi yang teramat kuat. Suaranya khas dan penuh penghayatan, meliuk indah saat membawakan cengkok dangdut ala sang idola Rita Sugiarto. Di saat lain, suaranya bisa meluncur tinggi bertenaga, menirukan kemegahan vokal Celine Dion. Olah vokal dan hobinya ini tak jarang meramaikan suasana, menghidupkan ruang siaran dan panggung internal RRI Padang.
Keikutsertaannya dalam merancang serta mengisi berbagai rangkaian acara Hari Ulang Tahun (HUT) RRI dari tahun ke tahun, meninggalkan kesan mendalam. Ia adalah sosok yang tak kenal lelah, berkreasi dan menghibur demi menghidupkan kebersamaan. Namun untuk HUT RRI ke-81 ini, ketahanan fisiknya mencapai batas. Tepat 3 hari sebelum perayaan momen bersejarah lembaga yang dicintai, Arie sahabatku telah lebih dulu dipanggil Yang Maha Kuasa.
Suara yang Meredup Sepi
Kini, teriakan hangat "Andieennnn!" yang khas itu takkan lagi pernah kudengar.
Tak ada lagi senyum renyah, saat ia melambaikan tangan dari balik kaca ruang siaran demi sekadar memintaku berhenti sejenak dan menghampirinya.
Istilah "klear" dan "ball" yang selalu kami lemparkan saat berbalas canda, juga alunan nyanyian idola yang kerap ia senandungkan untuk mencairkan suasana, kini perlahan meredup dan menghilang.

Momen-momen sederhana namun berharga, katakanlah saat menonton film horor bersama, menyantap nasi goreng di pinggir jalan di sela malam usai berdinas, hingga pergi ke Kakiku demi memanjakan fisik tinggal cerita sepi, menjelma menjadi kenangan yang terkunci rapi.
Takkan ada lagi sahabat yang dengan gerakan khasnya menata rambut lucunya, sebuah gaya yang takkan pernah bisa ditiru sempurna oleh siapa pun.
Bagi kami, kebersamaan ini bukan sekadar tentang rutinitas pekerjaan, melainkan babak panjang tentang perjuangan dan pembuktian. Awal masa pengabdian di RRI Padang, kami melangkah dengan modal nekat, dedikasi, dan loyalitas yang teguh kepada lembaga.

Di tengah ruang pengabdian yang serba terbatas ketika itu (2010 – 2012), kami bertahan hanya dengan bertumpu pada honor bulanan 500 ribu rupiah yang bahkan tak rutin pula diterima setiap bulannya.
Namun, keterbatasan finansial tak mampu melumpuhkan mimpi. Demi membangun kepercayaan publik dan mengangkat nama lembaga, kami berani menginisiasi pergelaran berskala provinsi seperti Gadieh Minang jilid 1 dan 2 hingga Opera Merah Putih, tanpa berharap sepeser pun dana dari kantor.
Keteguhan di Semangkuk Mie Ayam
Bukan hal mudah merajut mimpi di tengah keraguan banyak orang. Kami harus mengetuk berbagai pintu, meyakinkan narasumber dan mitra kerja sama untuk percaya pada mimpi besar yang dibentang dengan tangan kosong.
Ada hari-hari di mana perut seharian tak diisi demi memastikan keberlangsungan acara.
Di pojok warung sederhana, kami pun terpaksa "mengeroyok" semangkuk mie ayam bersama-sama.

Berharap sesendok mie ayam yang disantap bergiliran dari mangkuk kecil itu, sekiranya dapat mengganjal lapar sembari berbagi kekuatan agar acara tetap berjalan sempurna.
Sahabatku Arie ada di momen haru itu, tertawa bersama dalam keprihatinan bahkan menguatkan yang lain tanpa pernah menunjukkan rasa lelahnya.
Cinta yang Memeluk Sunyi
Bagi sahabatku ini, hidup mungkin bukan soal seberapa lama ia tinggal, melainkan seberapa dalam ia bisa memberi arti. Cara ia menyembunyikan sakitnya hingga akhir hayat bukan sebuah kebohongan, melainkan caranya mencintai orang-orang terdekatnya.
Ia hanya ingin diingat dalam versi terindah sebagai sosok tangguh, penuh kehangatan, dan selalu siap berjuang tanpa keluh kesah.
Kini, koridor RRI Padang dan ruang-ruang kenangan terasa lengang tanpa kehadirannya.
Takdir memang membatasi perjumpaan fisik, tetapi tidak dengan kenangan, senandung lagu dan jejak kebaikan yang ia ukir.

Sahabatku kini telah beristirahat dalam damai, bebas dari rasa sakit yang selama ini ia sembunyikan.
Bagi kami yang ditinggalkan, tertumpang sebuah janji untuk terus menjaga tawa, keteguhan,dan kehangatan itu tetap hidup dalam sebuah kenangan manis yang tak pernah habis, tak pupus dimakan waktu.
(Selamat jalan, Arie... Karya, tawa, nyanyian hangat dan teladan perjuanganmu terekam abadi di hati kami).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....