Roehana Koeddoes: Mata Pena dan Ujung Benang yang Membungkam Gelap Lorong Literasi
- 20 Feb 2026 18:03 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - "Kakak, sudah dapat cindramatakah," tanya salah seorang panitia Diskusi 3 Wajah Roehana Koeddoes kepadaku, Jumat, 6 Februari 2026. Aku menggeleng sembari menjawab belum.
Panitia yang juga pengurus FJPI pada salah satu daerah di Indonesia itu langsung menuju meja panitia. Persis di bawah meja, ia mengambil beberapa produk kerajinan khas daerah yang menyerupai dompet atau aksesoris wanita. Ada dua pilihan warna yang ditawarkan padaku, yakni biru dan merah muda. Aku memilih salah satunya. Cukup lama aku tertegun, memandang takjub produk kerajinan tangan asal Ranah Minang dengan motif sulamannya yang khas Koto Gadang.
Siapa menyangka, jika aksesoris cantik yang menjadi cindramata even bertajuk nasional itu berasal dari pemikiran cemerlang perempuan berdarah Minang lebih dari satu abad yang silam. Darinya semua berawal dan kita yang hidup di era sekarang, hanya meneruskan apa yang menjadi mimpi dari pemikir sejati yang semasa hidupnya berjuang untuk kemajuan kaum perempuan di negeri ini.
Jika menilik perjalanan sejarah 115 tahun lalu, tepatnya 11 Februari 1911, di Koto Gadang berdirilah Yayasan Amai Setia yang diinisiasi perempuan Minang bernama Roehana Koeddoes. Tokoh emansipasi kelahiran 20 Desember 1884 ini dikenal sebagai Pahlawan Nasional sekaligus jurnalis perempuan pertama Indonesia.

Bermodalkan sertifikat tanah miliknya, Roehana bertekad mendirikan perkumpulan bagi kaum perempuan. Di sanalah, ia mencurahkan perhatian, tenaga dan pikirannya. Bagaimana memajukan kaum perempuan, mengangkat derajatnya melalui edukasi, literasi dan kemampuan berdikari secara ekonomi.
Faktanya, keinginan kakak dari Pahlawan Nasional Sutan Sjahrir ini tidak sejalan dengan harapan. Cemooh dan makian bertubi-tubi menghadang langkahnya. Bahkan mirisnya, di tanah kelahirannya sendiri, Roehana bahkan tidak mendapatkan ruang untuk mewujudkan mimpinya.
Dengan semua perlakukan yang diterima, apakah Roehana berputus asa. Tidak ternyata. Prinsip hidup dan pola didikan kedua orang tua mejadikan Roehana tumbuh sebagai sosok yang tegar dan mandiri di tengah amukan badai.
Dengan kesabarannya, ia perlahan merangkul kaum perempuan di Nagari Koto Gadang, bergabung dalam perkumpulan yang didirikannya. Bahkan ia rela, menjadikan sudut pekarangan rumahnya sebagai sekolah kecil, tempatnya mengajar baca tulis di samping bekal keterampilan lain seperti menyulam, menenun atau merenda.
Perjuangan putri dari pasangan Mohamad Rasjad dan Kiam ini pada akhirnya membuahkan hasil. Terbukti, aneka kerajinan yang dihasilkan dari Yayasan Amai Setia mulai dilirik sejumlah kalangan. Pemasaran produk kerajinan tangan perlahan menghasilkan pundi-pundi uang yang berdampak terhadap pendapatan ekonomi para pengrajin di Yayasan Amai Setia.
Kaum perempuan mulai menunjukkan eksistensi diri dan menghapus pandangan negatif yang menempatkan kaum hawa pada posisi jauh di bawah kaum laki-laki. Pada hakikatnya, mimpi dan cita-cita mulia Roehana Koeddoes sudah lama terjawab.
Pada momen bersejarah Diskusi 3 Wajah Roehana Koeddoes, kenangan itu kembali membuka cerita lama. Diskusi yang berlangsung di Menara Global IDN Times Jakarta membukakan ingatan kaum perempuan, bahwasanya perjuangan Roehana Koeddoes belum berakhir. Masih banyak PR yang mesti dituntaskan karena beda masa, tentu berbeda pula tantangannya.
Aku tersentak, cinderamata berupa dompet cantik dengan motif khas sulaman Koto Gadang ibaratnya buah bercita rasa lezat yang dihasilkan dari benih yang telah menjelma menjadi sebatang pohon. Benih yang ditabur telah menepis kegelisahan seorang Roehana yang pada masa itu mencemaskan masa depan kaum perempuan. Kini buahnya telah dinikmati bersama. Manfaatnya nyata, bukan sekedar kata-kata.
Dompet kecil dengan sulaman suji cair itu umpama titisan semangat Roehana Koeddoes yang tidak pupus digilas masa. Menyala dari masa ke masa dalam berbagai rupa dan karya.
Pemikir Sejati yang Berjuang di Lorong Gelap Literasi
Film dokumenter Roehana Koeddoes yang diproduksi TVRI Sumatera Barat telah ditonton bersama di Menara Global Jakarta pada Jumat, 6 Februari 2026. Film singkat itu ibarat tamparan keras bagi kaum perempuan. Tontonan berdurasi 30 menit itu mengisahkan liku dan pilu hati seorang perempuan yang pada masa itu berupaya bangkit dari keterbelakangan. Betapa sulitnya mendapatkan pendidikan yang layak. Kesempatan bagi perempuan mendapatkan akses belajar tulis baca nyatanya ditutup rapat bahkan sengaja dipelintir. Bagi mereka yang nekat dianggap melawan takdir. Kehidupan di masa itu, sungguh – sungguh mengekang hak dan kebebasan kaum perempuan. Roehana jelas tak terima. Dengan upaya intelektualnya, ia mengarahkan pusaran masa pada perubahan yang akhirnya menempatkan perempuan pada posisi yang semestinya. Emansipasi telah terkuak jauh sebelum Raden Ajang Kartini bersuara.
Hari ini, Jumat, 6 Februari 2026 bertempat di Gedung IDN Times Jakarta, dalam ruangan yang mirip sebuah teather, aku menitikkan air mata. Film pendek ini seakan menguras logika dan emosionalku. Sebagai perempuan Indonesia yang juga berdarah Minang, aku bangga dengan sosok Roehana.

Pemikir sejati yang memiliki kemampuan intelektual yang tinggi. Bisa dibayangkan, betapa kerasnya kehidupan yang dijalani Roehana pada masa itu, belum lagi keberadaan orang-orang yang tak sepaham dan tak sejalan dengannya. Sudah barang tentu, Roehana harus berjuang keras dalam mewujudkan impiannya.
Film dokumenter itu memampang jelas, pandangan negatif dan kebencian warga terhadap sosok Roehana yang dinilai berbuat hal yang melebihi kodrat. Tanpa sungkan mereka melontarkan kata-kata yang tak sepantasnya diucapkan, lantaran Roehana dianggap telah memberi pengaruh buruk kepada sanak keluarganya.
Lantas, apa yang dilakukan Roehana ketika itu. Ia tetap berpegang teguh pada pendiriannya. Kaum perempuan harus dimajukan melalui ilmu dan keterampilan. Dengan kedua bekal itu, perempuan dapat berkontribusi bagi bangsanya. Dengan ilmu perempuan bisa membuka jendela dunia, menyelesaikan perkara demi perkara. Inilah cara bijak kaum perempuan di mata Roehana untuk menghargai dirinya, mengangkat martabatnya. Tanpa ilmu, perempuan umpama pujangga yang tak memiliki suara.
Dalam pandangan Roehana, perempuan harus bersuara untuk membela hak-haknya. Literasi adalah senjata pasti untuk kaum perempuan meraih mimpi.
Hingga film dokumenter itu berakhir, pemikiranku masih menerawang pada sosok Roehana Koeddoes. Satu tekad telah terukir kuat. Aku harus bisa berbuat lebih dari yang sudah ada, apa pun tantangannya. Suara perempuan tak boleh tenggelam dalam kelam yang membutakan.
Dari sekedar mengeja huruf, perempuan mulai belajar menata kata yang selanjutnya diulas dalam sebuah kalimat. Kalimat-kalimat yang dirangkai dalam sebuah paragraf pada akhirnya membentuk ratusan bahkan ribuan kata yang menjadi senjata bagi kaum perempuan menularkan opini, pendapat dan ide-ide kreatif bernilai positif.
Pantulan Wajah di Ujung Helai Benang
Masih terbayang dalam ingatan, saat pertama kali menginjakkan kaki di Gedung IDN Times Jumat sore, beberapa hari jelang peringatan Hari PersNasional, 9 Februari 2026. Sesaat sebelum Diskusi 3 Wajah Roehana Koeddoes dimulai, seorang perempuan muda dengan penampilan yang anggun menyapaku ramah. Jujur, aku terpesona dengan tampilannya yang menurutku klasik namun penuh wibawa.
Selendang besar yang dikenakan, dipadupadankan dengan setelan baju Kuruang Basiba khas Minang mengingatkanku pada sebuah bangunan di Nagari Koto Gadang. Bangunan yang dalam sejarah didirikan oleh jurnalis perempuan pertama Indonesia. Keradjinan Amai Setia, tulisan besar yang terpampang pada bagian depan rumah kayu besar yang menyerupai Rumah Gadang.
Saat berkunjung beberapa waktu lalu ke pusat kerajinan Amai Setia, bermacam produk buatan tangan dipajang di lemari dan etalase kaca, mulai dari aneka kerajinan perak hingga motif sulaman suji cair yang menjadi kebanggaan Koto Gadang.

Siapa menyangka jika di rumah gadang yang terlihat asri dan klasik ini, pernah ditempati sosok perempuan intelektual yang sebagian hidupnya dicurahkan untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan yang terjajah ketika itu. Roehana tidak hanya aktif mengajar tulis baca, namun selaku sosok berpendidikan, ia paham betul, pentingnya keterampilan untuk meningkatkan martabat kaum perempuan.
Keterampilan membuka banyak peluang, salah satunya berdampak pada sisi ekonomi para pengrajin ketika itu. Upaya Roehana membekali perempuan di kampungnya dengan ragam keterampilan seperti menjahit, menyulam, menenun atau merenda nyatanya tidak sia-sia.
Perkumpulan Amai Setia mengapungkan ragam karya yang nyatanya diminati banyak kalangan. Dari sekedar keinginan belajar memperkaya diri dengan keterampilan, ujung-ujungnya menghasilkan rupiah yang secara tidak langsung mendongkrak pendapatan.
Buah karya kaum perempuan bernilai nyata. Hasil karya mereka ternyata diminati dan dihargai orang luar. Perputaran ekonomi mengalir pada masa itu. Kaum perempuan seperti mendapatkan ruang untuk berkarya.
Jika dikaitkan dengan kondisi sekarang ini, banyak kaum perempuan yang berjaya di atas karya dan inovasi yang digulirkan, salah satunya Trini Tambu yang tidak lain Pimpinan Yayasan Amai Setia.

Kepada RRI, perempuan kelahiran Kota Gadang ini mengungkapkan, keberadaan Yayasan Amai Setia dengan beragam karya yang dihasilkan nyatanya diterima dan diapresiasi dari masa ke masa.
“Perjuangan panjang dan berliku yang dilalui ibu Roehana Koeddoes tidak sia-sia. Hingga hari ini, kaum perempuan di Koto Gadang bahkan di seluruh Indonesia telah merasakan manisnya buah perjuangan Pahlawan Nasional itu,” ungkapnya.
Trini menuturkan, saat ini Yayasan Amai Setia yang dikomandoinya telah menularkan kontribusi positif bagi negeri. Hasil kerajinan tangan kaum perempuan di kampungnya telah melanglang buana ke pelosok tanah air, bahkan mendunia.
Keringat yang mengalir saat menyemai karya, nilainya setara dengan apresiasi yang mereka dapatkan. Perempuan Minang telah menunjukkan jati diri yang sesungguhnya. Sosok mandiri, berdikari dan penuh percaya diri, sebagaimana keinginan dan suara hati yang menggaung dalam diri Roehana Koeddoes pada masa itu.
Kekuatan Kata sang Duta di Balik Tulisan
Kemampuan Roehana Koeddoes dalam mengelola kata dan menulis di Soenting Melajoe, surat kabar yang terbit pertama kali tahun 1912 ternyata jalan bagi kaum perempuan untuk merenda tali diplomasi. Sebagai perempuan intelektual yang kemampuannya melampaui zaman, Roehana tidak sekadar bisa menulis, namun ia juga memiliki strategi jurnalistik dan kemampuan berdiplomasi yang tak diragukan.
Pernyataan tersebut dilontarkan Najwa Shihab, jurnalis yang juga pendiri narasi telivisi terkemuka Indonesia. Menurut Najwa, perjuangan seorang Roehana sudah melampui zamannya. Pola berpikirnya jauh lebih maju dibanding perempuan-perempuan yang hidup di masa itu.

Dengan tegas dan lantang, wartawan Indonesia berdarah campuran Bugis dan Arab ini menuturkan, film dokumenter Roehana Koeddoes yang disaksikannya memberikan tamparan keras bagi kaum perempuan, terutama jurnalis perempuan di negeri ini. Mereka yang saat ini berjuang membela hak-hak perempuan mestinya bangga menjadi bagian dari perwujudan mimpi sang diplomat.
Perempuan menurutnya harus menyadari, beratnya tantangan dan risiko yang dihadapi dari masa ke masa. Jika menilik penggalan demi penggalan adegan di film pendek tersebut, yang namanya tantangan akan tetap ada, apa pun bentuknya.
Pada momen penting itu, Nana demikian panggilan akrab Najwa mengungkapkan, perempuan Indonesia harus bersatu untuk suara yang sama. Perjuangan Roehana Koeddoes bukan semata keinginan membela hak-hak perempuan di Minangkabau, melainkan upaya nyata dari tokoh emansipasi wanita agar perempuan dalam setiap aliran zaman mengecap kemajuan melalui pendidikan dan keterampilan. Dengan dua bekal tersebut, perempuan tumbuh menjadi sosok mandiri dan matang secara intelektual hingga memiliki peluang untuk menyuarakan suara hatinya melalui narasi atau tulisan.
Menurut Nana, perjuangan masih panjang dan satu hal yang tidak bisa dipungkiri, ruang untuk perempuan mendapatkan kebebasan seterusnya tidak berjalan mulus.
Akan selalu ada riak atau pun gelombang yang akan mengombang-ambingkan pandangan dan suara perempuan untuk mereka memperoleh kesetaraan melalui emasipasi yang digaungkan. Untuk itu, kaum perempuan harus bersatu, menggaungkan hak dan suaranya melalui ketajaman mata pena. Ketajaman mata pena wartawan sudah dibuktikan dari zaman ke zaman. Soenting Melajoe, bukan sekedar tumpukan kertas tua tanpa makna, melainkan monumen hidup yang merekam jejak dan pergeseran peradaban perempuan nusantara dari masa ke masa.
Senada dengan pernyataan yang disampaikan Uni Lubis, jurnalis senior perempuan terkemuka Indonesia yang begitu vokal mendorong pemberian gelar Pahalawan Nasional untuk Roehana Koeddoes.
Uni Lubis yang beberapa periode pernah menjabat Ketua Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) senantiasa menyuarakan pentingnya keterwakilan kaum perempuan pada level manajerial media. Secara pribadi, ia sudah menerapkan dalam perjalanan karirnya selaku pempinan redaksi media terkemuka di Indonesia.
Dengan keterwakilan itu, kaum perempuan jelas Uni Lubis memiliki kekuatan nyata untuk bisa mendobrak zaman melalui suara yang digaungkan. Perubahan tidak datang dengan sendirinya, mesti ada pionir yang mewakili untuk itu.
Jika Roehana Koeddoes adalah pionir pers perempuan di masa penjajahan, Uni Lubis dan perempuan lainnya ibarat tokoh pendobrak di era modern. Sekiranya Diskusi 3 Wajah Roehana Koeddoes yang digelar terpisah dalam rangkaian HPN 2026 menjadi barometer, mengukur keterwakilan kaum perempuan dalam mewujudkan semangat perjuangan Roehana Koeddoes dalam ragam pusaran zaman.
Meski sudah lama tiada, ketajaman pena dan pantulan cahaya dari setiap helai ujung benang menjadi bukti, sosok pejuang sejati (Roehana Koeddoes) akan selalu dikenang. Jasad boleh berpulang, namun semangat tak boleh lekang.
Diskusi 3 Wajah Roehana Koeddoes yang menghadirkan sosok perempuan hebat Indonesia seperti Uni Lubis, Najwa Shihab, Trini Tambu, Meutia Hafidz dan lainnya ibarat lorong panjang agar perempuan tidak berhenti bersuara melalui karya – karya intelektual yang memadukan unsur edukasi, literasi dan kemampuan membangun narasi.
Narasi yang seterusnya akan bercerita tentang kehidupan anak manusia yang bernama perempuan. Perempuan yang selamanya akan terkekang, terpasung dalam keterjajahan pandangan, Jika tidak mereka sendiri yang menggerakkan hati dan jemarinya, lantas siapa lagi?